Perempuan mulia.Ilustrasi: Seorang perempuan. (Foto: AI/Sumatralink.id)

SAAT Bung Karno bertandang ke rumah kawannya, seorang guru di Bengkulu. Kawannya sangat mencintai istrinya. Kedua pasangan tersebut sangat dikenal baik, sehingga Bung Karno menganggap adiknya sendiri.

Kawan Bung Karno ini, seorang suami yang “moderen”, tetapi istrinya seperti orang “kuno” atau “terkungkung”. Hal tersebut pernah disampaikan istrinya kepada Bung Karno.

Kepada kawannya, Bung Karno menganjurkan agar memberikan kelonggaran atau kemerdekaan sedikit kepada istrinya. Apa jawaban kawannya?

Kawan akrab Bung Karno ini menceritakan. Ia tidak mengizinkan istrinya keluar rumah, justru karena ia amat cinta dan menjunjung tinggi kepadanya.

Ia tidak mengizinkan istrinya keluar rumah justru untuk menjaga jangan sampai istrinya itu dihina orang.

“Percayalah Bung, saya tidak ada maksud mengurangi kebahagiaannya. Saya hargakan dia sebagai sebutir MUTIARA,” kata kawan Sukarno itu seperti dikutip Sukarno dalam bukunya “Sarinah (Kewadjiban Wanita dalam Perdjoangan Republik Indonesia),” Tahun 1963.

Bung Karno mengatakan, mereka memuliakan istri mereka yang mereka cintai sebagai barang yang berharga. Mereka menjadikan istrinya mutiara.

Tetapi, justru, kata Bung Karno, sebagaimana orang menyimpan mutiara di dalam kotak, demikian pulalah mereka menyimpan istrinya itu di dalam kurungan atau pingitan.

“Bukan untuk memperbudaknya, bukan untuk menghinanya, bukan untuk merendahkannya, melainkan justru untuk menjaganya, untuk menghormatinya, dan untuk memuliakannya,” kata Bung Karno. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *