Home > Kisah

Sebelum Suharto Lengser, Tulisan Cak Nun Ditolak Koran

quotSaya akan menggeletakkan tubuh saya di depan istana, dan tidak beranjak sampai Pak Harto memenuhi janjinya, atau sampai saya diciduk, diangkut, dan dibuang.quot
Presiden Soeharto mengumumkan diri berhenti menjadi presiden. (Foto: Dok. Republika)
Presiden Soeharto mengumumkan diri berhenti menjadi presiden. (Foto: Dok. Republika)

SumatraLink.id -- Kabar gembira datang dari Nurcholis Madjid (Cak Nur) di ujung telepon rumah Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) . Tapi, Cak Nun sedang tidak ada di rumah. Istrinya, Novia Kolovaking yang menerima telepon Cak Nur pada 18 Mei 1998.

“Alhamdulillah Dik Via (Novia Kolovaking). Berkat doa Cak Nun dua hari lalu. Pak Harto (Presiden Soeharto) menerima semua saran-saran kita. Artinya Pak Harto bersedia mundur dari jabatannya. Besok kita diundang bertemu untuk membicarakan langkah yang terbaik untuk mundur,” kata Cak Nur via telepon kepada Novia, yang juga penyanyi dan pemeran sinetron.

Kabar itu tidak diterima Cak Nun langsung, ia masih giat pengajian di Kampung Kumuh, Jakarta Utara, saat hari-hari mendebarkan negeri ini, ketika sang presiden petahana 30-an tahun mau mundur dari tahta kekuasannya.

Sebelumnya, sejumlah tokoh mendiskusikan formula untuk bangsa di Hotel Reagent, Jakarta. Dengan niat untuk meminimalisir konflik-konflik horizontal yang berdarah-darah dan korban yang lebih besar, rekan sejawat Cak Nur dan Cak Nun, juga yang lainnya mempublikasikan hasil diskusi lewat konferensi pers.

Butiran-butiran pemikiran mereka di Hotel Reagent dan dikonferensiperskan di Hotel Wisata, dua hari sebelum dipanggil Pak Harto di Istana Negara. Pemikiran mereka ternyata “ditangkap” Saadilah Mursyid (menteri Sekretaris Negara) lalu disampaikan kepada Pak Harto.

Kala itu, tokoh-tokoh vokal termasuk Cak Nun hadir memenuhi undangan Pak Harto di Istana Negara, pertengahan Mei 1998. Beredar tudingan di luar istana, Cak Nun, yang dikenal garang dalam mengkritik Pemerintahan Pak Harto baik langsung (mimbar/forum) maupun tulisan (media dan buku), dan “Tim 9” lainnya sebagai pengkhianat reformasi yang digaungkan mahasiswa.

Pasalnya, tudingan bahwa Cak Nun dan Tim 9 terjebak dengan politik yang dikendalikan Pak Harto, yang dikenal suhunya orde baru. Padahal sejatinya mereka menginginkan Pak Harto lengser ke prabon. Lah Piye toh Cak?

“Kami mempertaruhkan nyawa, nama baik, dan seluruh hidup kami di hadapan mata seluruh rakyat Indonesia. Mosok serek, saya memperjuangkan hidup hampir setengah abad, lantas begitu gampang saya hancurkan sendiri melalui peristiwa yang hanya 2,5 jam (pertemuan dengan Pak Harto sebelum lengser),” kata Cak Nun, menjawab tudingan tersebut.

Seandainya sesudah pertemuan itu sampai batas waktunya Pak Harto tak jadi mundur, lalu?

“Saya akan menggeletakkan tubuh saya di depan istana, dan tidak beranjak sampai Pak Harto memenuhi janjinya, atau sampai saya diciduk, diangkut, dan dibuang. Sebagai orang kecil, ya, hanya itu yang bisa saya lakukan,” tutur Cak Nun.

Cak Nun pun sudah menyiapkan “senjata” pamungkas, bila Pak Harto berdusta (tidak jadi mundur). Setelah tidur di depan Istana Negara, hanya satu kalimat yang ia sampaikan kepada Pak Harto. “Kok, sampean berdusta, yok opo se? Katanya tidak jadi presiden tidak patheken (tidak jadi presiden tidak masalah/masa bodoh)!”

Jauh sebelum Pak Harto lengser ke prabon, Cak Nun mengaku telah mengungkapkan keresahannya pada kajian di Padhang Bulan, Menturo, Sumobio, Jombang, pada 11 Mei 1998. Isi ungkapannya, presiden Indonesia hanya ada satu kesempatan lagi untuk menyadarkannya yang ia sebut indzar (peringatan kepada manusia tentang adanya kehidupan akhirat). Peringatan itu dari Allah dan peringatan dari rakyatnya.

“Kita semua harus siap hari-hari yang akan datang lebih parah dari hari-hari sebelumnya,” kata Cak Nun di hadapan jamaah pengajiannya. “Akan tetapi para jamaah tolong hatinya ditentramkan, diendapkan, disublimkan dulu, jangan ada gejolak nafsu,” lanjutnya.

Penyadaran Cak Nun kepada jamaahnya, karena sama-sama kaum mustadh’afin (kaum lemah/rakyat biasa), bisa saling menyalahkan,salah faham. Cak Nun meminta jangan saling menyalahkan satu sama lain, yang disebabkan kezholiman-kezholiman sangat lama dalam pemerintahan RI.

Cak Nun berkata, Padhang Bulan ini tidak dianggap dalam peta nasional. Kritikan dan masukan tidak berarti di lingkungan istana mapun petinggi negeri lainnya.

“Kita sudah ngomong apa saja sebelum mahasiswa melakukan demo, kita sudah sangat lama melakukan teriakan-teriakan mengecam Soeharto. Dan bulan-bulan terakhir, saya mengeluarkan berbagai macam amar makruf nahi mungkar, tetapi hanya lima persen yang dimuat media massa, selebihnya tidak mau memuat. Mungkin tidak berani atau mungkin tidak percaya kepada kita,” ujar Cak Nun.

Menjelang Pak Harto lengser, Cak Nun banyak mengeluarkan rilis berita/tulisan, tapi tidak pernah dimuat di media pers. Salah satu tulisannya yakni “Dewan Negara”.

“Tulisan saya mengenai “Dewan Negara” tidak dimuat oleh media massa mana pun. Salah seorang redaktur Kompas menelepon saya untuk mengatakan tulisan itu tidak mungkin dimuat, karena menyangkut nama Pak Harto langsung. Demikian juga nasib puluhan, bahkan ratusan tulisan saya yang lain,” kata Cak Nun membuka tabir tulisannya tidak tampil di koran.

Cak Nun mengakui, dirinya dan komunitas Padhan Bulan rakyat kecil dan tidak populer, dan tidak marketable. Waktu hidup Cak Nun, diakuinya 80 persen habis bersama mereka.

Demikian, rangkuman Emha Ainun Nadjib yang saya sarikan dari bukunya “Saat-Saat Terakhir bersama Soeharto (2,5 jam di Istana).”

Semoga rangkuman tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua, utamanya kaum milenial dan generasi Z. (Mursalin Yasland)

× Image