Home > Kisah

Pak Harto dan Bung Karno di Mata Pemeran Film G30SPKI

Saya angkat Bung Karno menjadi Pahlawan Proklamasi.
Soeharto saat mendapat mandat dari Soekarno. (Foto: Dok Arsip Nasional)
Soeharto saat mendapat mandat dari Soekarno. (Foto: Dok Arsip Nasional)

SumatraLink.id -- Masih ingat Film G30SPKI di TVRI berapa puluh tahun lalu. Amoroso Katamsi, pemeran Soeharto dalam film dokumenter garapan Arifin C Noor bercerita sosok Pak Harto terhadap Bung Karno pasca G30SPKI tahun 1965.

Kesempatan saat ketemu, Amoroso pernah menanyakan kepada Pak Harto berkait dengan Film Trikora yang diperankannya.

Kedua tokoh bangsa penting yang berselang usia 20 tahun banyak menyimpan kisah. Keduanya sama-sama lahir di bulan Juni. Pak Harto lahir 8 Juni 1921, sedangkan Bung Karno lahir 6 Juni 1901. mereka berdua terpaut 20 tahun layaknya senior dan junior, Namun dalam masa kesejarahan Indonesia keduanya seakan diikat tali temali.

Bung Karno dilantik menjadi presiden RI pertama tahun 1945 dan berakhir tahun 1965. Sedangkan Pak Harto menduduki kursi kepresiden setelah Bung Karno memberi mandat kepadanya hingga kejatuhannya pada tahun 1998. Keduanya juga persis sama dalam peristiwa pengangkatan dan pengakhiran masa jabatannya sebagai presiden.

Selaku aktor, Amoroso Katamsi tak akan melakukan hal sesuatu dalam filmnya sebelum dapat bertemu langsung dengan tokoh perannya Pak Harto. Pertemuannya dengan Pak Harto secara langsung justru membuka tabir yang selama ini tidak banyak diketahui publik. Amoroso mengisahkan dibalik temu muka dengan penguasa negeri selama 32 tahun ini.

"Ketika itu Bapak kan ngendhiko (mengatakan), saat Bung Karno bertanya kepada Bapak. 'Aku iki arep mbok apakke (Saya ini orang Jawa. Saya menganggap Bapak adalah bapak saya, sehingga prinsipnya adalah mikul dhuwur mendhem jero (mengangkat semua kebaikan setinggi-tingginya, menimbun semua keburukan sedalam-dalamnya ).' Lalu bagaimana cara Bapak mikul dhuwur mendhem jero Bung Karno?"

Pak Harto menjawab, "Situasi politik pada waktu itu tidak memungkinkan saya berbuat banyak kepada Bung Karno, karena itu akan bertentangan dengan kehendak rakyat. Tetapi sesudah semuanya reda, saya segera memerintahkan untuk mengabadikan nama beliau di pintu gerbang Indonesia, Bandara Soekarno - Hatta," kata Pak Harto.

"Kedua, ketika ada usulan menjadikan Bung Karno pahlawan. Saya berpikir, pahlawan apa yang paling tepat? Karena ketika itu ada banyak pertentangan atau perdebatan masalah gelar pahlawan untuk Bung Karno.

× Image