Suasana pasar dekat pelataran Masjid al-Haram, Makkah. (Foto: Mursalin Yasland) SumatraLink.id — Siapa yang tidak kenal Umar bin Khotob rodhiallahuanhu (ra) di zamannya sampai sekarang? Ketokohan Umar baik sebelum maupun sesudah memeluk Islam, hingga menjadi amirul mukminin tidak luntur. Tegas dan berani, sekaligus pengasih dan penyayang. Ketegasan yang berkeadilan seorang pemimpin terhadap rakyatnya menjadi prioritas khalifah kedua tersebut. Siapa yang berani "melawan" Umar (bila beliau sudah bertindak)? Syaitan dari jenis jin dan manusia pun lari terbirit-birit tatkala mendengar terompahnya melintas. Lewat kekuatan Umar, seperti doa Nabi Muhammad Sholallahu'alaihiwassalam (SAW), menjadikan sebagian besar dakwah Islam menjadi sukses. Ada salah seorang wanita yang membuat Umar tertegun dan luluh hatinya. Khaulah binti Tsa'labah, namanya. Wanita ini pernah pernah bermain tatkala Umar masih anak-anak. Setelah itu, wanita tersebut bertemu Umar sudah menjadi Amirul Mukminin, khalifah kedua. Di jalan, sesaat keluar dari masjid bersama Al-Jarud Al-Abdi, rekannya, langkah Umar terhenti oleh seorang wanita lanjut usia di pinggir jalan. Keduanya saling menyapa salam. Tidak sembarang orang yang mampu menyapa Umar kala itu. Tapi, tidak dengan Khaulah. "Wahai Umar, aku telah mengenalmu sejak namamu dahulu masih Umair (Umar kecil), tatkala engkau berada di Pasar Ukadz. Engkau mengembala kambing dengan tongkatmu, kemudian berlalulah waktu hingga engkau bernama Umar. Kemudian berlalu hari demi hari, sehingga engkau memiliki nama (julukan) Amirul Mukminin. “Maka bertakwalah kepada Allah perihal rakyatmu. Dan ketahuilah barangsiapa yang takut akan siksa Allah, maka yang jauh akan menjadi dekat dengannya. Dan barangsiapa yang takut mati, maka dia akan takut kehilangan. Dan barangsiapa yang yakin akan adanya hisab, maka dia takut terhadap azab Allah," kata Khaulah menasehati pemimpin negaranya. Seketika Umar menangis. Kepalanya tertunduk. Hatinya mulai luluh. "Ibu engkau telah lancang terhadap Amirul Mukminin, dan engkau membuatnya menangis," sela Al-Jarud Al-Abdi membela Umar ra. Umar langsung menegur Al-Jarud. "Biarkan dia …," timpal Umar. "Apakah engkau tidak mengenal wanita ini? Dia adalah Khaulah binti Tsa'labah, dimana Allah mendengarkan ucapannya dari langit yang ketujuh. Demi Allah, 'Umar lebih pantas untuk mendengarkan kata-katanya'," ucap Umar menegaskan. Dalam riwayat lain, Umar menyatakan, "Demi Allah seandainya beliau tidak menyudahi nasehatnya kepadaku hingga malam hari, maka aku tidak akan menyudahinya (mendengarnya), sehingga beliau selesaikan apa yang dia kehendaki, kecuali jika telah datang waktu shalat, maka saya akan mengerjakan shalat, kemudian kembali untuk mendengarkan (nasehat Khaulah) hingga selesai." Bagaimana ceritanya, Khaulah seorang wanita spesial yang permohonannya langsung didengar Allah di langit ketujuh dan turun wahyu kepada Nabi SAW? Suatu ketika, Khaulah ada masalah serius dengan suaminya Aus bin Shamit. Lontaran ucapan suaminya menusuk dan mengiris hatinya yang paling dalam. Sehingga ucapan keras itu menyatakan, keduanya tidak lagi bisa menyatu. Bercerai, ujungnya. Suaminya mengajaknya bersatu kembali, tapi Khaulah menolaknya. Wanita tersebut mengadukan masalahnya kepada Nabi SAW. Dia meminta fatwa dari Nabi SAW atas kejadian tersebut. Rasul SAW mengatakan, "Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya." Beberapa kali Nabi SAW mengatakan itu kepada Khaulah. Ini tingkat keimanan dan ketauhidan Khaulah yang masih murni. Dia mengadukan kepada Rasulnya dan Allah SWT, bukan kepada selain-Nya. Mendengar itu, hati Khaulah semakin sedih. Ia berdoa kepada Allah SWT meminta pertolongan. Setiap waktu, dia berdoa meminta kebaikan atas keluarganya. Atas doa Khaulah itu Rasulullah SAW sampai pingsan, sama ketika menerima wahyu dari Allah SWT. Rasulullah SAW tersadar, dan bersabda: "Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan Alquran tentang dirimu dan suamimu kemudian beliau membaca, "Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat, … sampai firman Allah: "Dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang pedih." (QS. Al-Mujadalah: 1-4). Setelah turun wahyu, Nabi SAW berdialog dengan Khaulah. Untuk menebus kafarat suaminya, beliau memerintahkan suaminya memerdekakan seorang budak. Tapi, Khaulah menyatakan suaminya tidak memiliki budak. Beliau memerintahkan suaminya untuk puasa dua bulan berturut-turut. Tapi, Khaulah menyatakan suaminya sudah tua dan tidak kuat puasa. Beliau memerintahkan suaminya, memberi makan kurma sebanyak 60 orang miskin. Lagi-lagi Khaulah menyatakan dia (suaminya) tidak memiliki makanan itu. Opsi terakhir itu, membuat Nabi SAW menyatakan akan membantu separuhnya (makanan kurma). Lalu, Khaulah menimpali, bahwa dia juga akan membantu separuhnya. Nabi SAW berkata: "Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkan kurma itu sebagai kafaratnya, kemudian bergaulah dengan anak pamanmu itu (suaminya) secara baik." Lalu, Khaulah melaksanakannya. Kemuliaan dan ketundukkan Khaulah kepada Rob-nya, membuat Khaulah mengangkat tangan dan meninggikan kepalanya ke langit sembari memohon kepada Allah yang Maha luas pendengarannya. Turun ayat: "Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (hal-halnya) kepada Allah…." (Al-Mujadalah: 1). (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Pemulung Kayu Gerobak Dorong Mampu Jadikan Anak Sarjana Wakaf Sumur Utsman Jadi Hotel Berbintang di Madinah