Suasana di Terminal Induk Rajabasa, Kota Bandar Lampung. (Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland)
Suasana di Terminal Induk Rajabasa, Kota Bandar Lampung. (Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland)

SumatraLink.id, Lampung – Jangan salahkan bunda mengandung, itulah setidaknya kesan yang terjadi di Terminal Induk Rajabasa, Lampung, saat ini. Penumpang (pejalan kaki) bus AKDP dan AKAP enggan masuk terminal terbesar di Provinsi Lampung, dan lebih memilih terminal bayangan di pinggir jalan lintas.

Sepinya Terminal Rajabasa ini, banyak faktor. Salah satu faktor terpenting keamanan dan kenyamanan. Sudah mahfum kiranya, bila berada di pasar tradisional, terminal angkutan umum, pelabuhan penyeberangan, stasiun kereta api, dan bandara, atau fasilitas publik lainnya yang diinginkan konsumen keamanan dan kenyamanan.

Masih tersimpan dan terbayang bagi sebagian penumpang bila mendengar apalagi memasuki Terminal Rajabasa. Kesan negatif (rawan tindak kriminalitas) masih belum sepenuhnya terrehabilitasi oleh pemerintah maupun pihak keamanan, meskipun saat ini kondisi Terminal Rajabasa jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya.

Kesan “angker” Terminal Rajabasa bagi pemudik pada arus mudik Lebaran sebagian sudah hilang, sebagian orang masih melekat, apalagi anggota keluarga yang pernah menjadi korban kekerasan dan kebiadaban oknum-oknum yang manusia tapi berjiwa iblis. Bukan saja uang dan harta dirampas, tapi juga tak segan-segan melukai korbannya dengan senjata tajam.

Kalau sudah begini, siapa yang harus disalahkan? Sepinya penumpang pejalan kaki yang tiba dari Pelabuhan Bakauheni, Lampung, atau dari daerah-daerah di dalam Provinsi Lampung atau luar Lampung lebih memilih angkutan bus yang berada di pinggir jalan. Akhirnya, terminal bayangan lebih marak dan ramai penumpang dibandingkan dalam Terminal Rajabasa.

“Maunya penumpang, setelah turun dari bus pinggir jalan langsung nyambung naik bus ke tujuan di tempat itu juga,” kata Yanto (34 tahun), awak bus tujuan Unit II, Kabupaten Tulangbawang, Lampung, belum lama ini.

Menurut dia, penumpang langsung naik bus dan menunggu sebentar bus penuh langsung berangkat. “Kalau ‘ngetem’ di pinggir jalan, lebih cepat dapat penumpang daripada masuk Terminal Rajabasa,” kata Yanto, di terminal bayangan Bundaran Tugu Radin Inten II, Bandar Lampung.

Takut Masuk Terminal

Setiap memasuki arus mudik Lebaran, pemudik asal Pulau Jawa yang menyeberang ke Pulau Sumatra mengkhawatirkan melanjutkan perjalanan ke Terminal Rajabasa pada malam hari. Mereka lebih memilih menginap semalam di Pelabuhan Bakauheni, Lampung.


Pemudik ‘estafet’ yang biasa menggunakan moda transportasi bus penumpang umum dan kapal ferry, sebagian besar tak mau masuk Terminal Rajabasa di Kota Bandar Lampung apalagi pada malam hari. Mereka khawatir dengan kesan yang selama ini terbersit Terminal Rajabasa rawan tindak kriminalitas.

Kesan negatif terminal itu masih menjelma pada benak pemudik asal Jawa, meskipun hal tersebut sudah berlangsung lama. Saat ini, pemudik tak perlu lagi khawatir masuk Terminal Rajabasa. Dari tahun ke tahun, pemerintah daerah terus membenahi fasilitas umum terminal, termasuk keamanan wilayahnya.

Pemantauan SumatraLink.id (REPUBLIKA NETWORK) di Terminal Rajabasa, Rabu (28/3/2024), kondisi terminal tampak aman dan lancar memasuki H-12 Idul Fitri 1445 H. Arus mudik belum tampak padat, aktivitas bus penumpang Angkutan Kota Antar-Provinsi (AKAP) dan Angkutan Penumpang Dalam Provinsi (AKDP) masih lengang.

Pengelola Terminal Rajabasa secara bertahap mulai ‘memanjakan’ calon penumpang dengan mengalokasi tempat keberangkatan dan kedatangan bus, termasuk pembelian tiket bus di berbagai loket yang disediakan. Aktivitas calo penumpang juga semakin sempit ruang geraknya, meski satu per satu oknumnya masih mencari targetnya secara sembunyi-sembunyi.

“Terminal Rajabasa sekarang sudah aman dan nyaman dibanding dulu. Calo-calo yang menarik-narik paksa tas penumpang sepertinya udah tidak ada lagi,” kata Rudi (56 tahun), warga Hanura, Kabupaten Pesawaran, Lampung, yang berlebaran di Purwakarta, Jawa Barat, baru-baru ini.

Ia dan istrinya mudik ke Purwakarta masuk Terminal Rajabasa membawa tas besar dan jinjingan kecil tidak lagi dibayangi rasa takut dengan calo dan oknum yang berbuat kriminal. Padahal, cerita Rudi, ia pernah saat pertama ke Lampung masuk Terminal Rajabasa dari Pelabuhan Bakauheni dipalak preman. “Dulu pernah dipalaki preman,” kata bapak dua anak itu mengenang.

Kisah lama Terminal Rajabasa ini masih membekas, meski sekarang jauh berbeda lebih baik. Beberapa tahun silam, kondisi keamanan dan kenyamanan di Terminal Rajabasa sangat rawan dan selalu ada cerita negatif ketika masuk terminal. Calo, copet, dan penipu, berkumpul menjadi satu menjaring calon penumpang terutama yang berasal dari kampung.

Mereka tidak segan-segan menarik tas penumpang secara paksa naik bus yang akan dituju padahal belum ada kesepakatan tarif ongkos dan tujuannya. Kalau tidak mau, mereka terkadang melakukan tindak kekerasan setelah dibawa di tempat yang sepi.

Bahkan, saking takutnya, pemudik yang tiba di Pelabuhan Bakauheni pada malam hari, tidak mau melanjutkan perjalanan ke Terminal Rajabasa, dan memilih menginap semalam menunggu waktu pagi. Akibatnya, jumlah penumpang dan bus yang tersedia saat pagi harinya tak seimbang, dan terjadi penumpukkan penumpang di pelabuhan,

Kisah seru tidak saja bagi penumpang bus, saking parahnya kalau dulu warga yang lewat saja menggunakan motor melintas rasa was-was, karena sering dipalaki preman. Kondisi inilah yang justru membuat awak bus membuat terminal bayangan agar cepat dapat penumpang.

Cerita dari mulut ke mulut sesama penumpang bus seputar kerawanan Terminal Rajabasa, masih membekas dan sulit untuk dihapus begitu saja. Kondisi keamanan dan kenyamanan tersebut berbeda dengan sekarang. Terminal Rajabasa sudah berubah, kesan angker dan rawan tindak kriminal berangsur-angsur mulai pulih. (Mursalin Yasland)