SUMATRALINK.ID — Kapal perang Belanda sudah berada di bibir pantai wilayah Aceh. Pengerahan kapal perang lengkap dengan senjata meriamnya siap menyerang rakyat di ujung utara Pulau Sumatra ini pada masa kolonial Belanda. Tercatat kapal perang andalan Belanda yang mengitari pesisir Aceh yakni Metalen Kruis, Citadel van Antwerpen, Sumatra Den Briel, Timor, Coehoorn, Telegraaf, Siak, Soerabaja, Admiraal, Zeeland, Watergeus, Hertog Bernhard, Admiral Koopman, Riouw, Banda, Ambonia, Bommelermaard, dan Borneo. Belanda selaku penjajah nusantara tidak puas bila belum menguasai wilayah Aceh. Padahal, sebelumnya, Belanda berupaya untuk menguasai Aceh lewat serdadunya. Namun, untuk memenangkan perlawanan rakyat Aceh, Belanda terpaksa mengerahkan kekuatan perang total. Untuk mengalahkan Aceh, Belanda harus melakukan blokade total terhadap akses masuk dan keluar rakyat Aceh di wilayah perairannya. Upaya Belanda ini tidak mau lagi menyimpan malu sebagai negara penjajah barat tidak dapat menguasai Aceh seperti daerah-daerah lainnya di nusantara yang mudah dikuasai. Menurut Adisurya Abdy, seorang penulis dan juga sutradara film fiksi dan dokumenter, kegagalan agresi ke-1 Belanda pada April 1873 tetap tidak mematahkan keserakahan serta naluri negara penjajah, setelah menguasai Batavia, Maluku, Malaka, dan berbagai daerah lainnya di nusantara. Baca juga: Kegigihan Rakyat Aceh Tamiang Melawan Belanda “Keping demi keping telah dikuasai dan dijajah oleh Belanda, hanya tinggal Aceh yang belum dimiliki oleh Belanda, walau perlahan keping demi keping wialyah Aceh sudah ‘dipreteli’,” tulis Adisurya Abdy dalam bukunya Aceh, Kerajaan tak Terlupakan, (2013), Wilayah-wilayah Aceh yang sedikit demi sedikit mulai dipreteli Belanda yakni pantai Sumatra bagian Barat, Painan, Padang, Pariaman, Tiku, Air Bangis, Natal, Tapian Nauli, Nias, Barus, Tapus, SIngkel, dan Trumon. Lalu bagian Timur mulai dari Pai, Bilah, Asahan, Batubara, Serdang, Deli, Langkat, dan Tamiang. Serangan pada agresi pertama Belanda gagal. Belanda menyiapkan penyerangan lagi dengan persiapan dan kekuatan penuh dengan jumlah armada lebih besar. Belanda bernafsu ingin menguasai dan menaklukkan Aceh, dengan cara apapun agar tidak gagal lagi. Belanda memulai dengan langkah-langkah subversif, mengacaukan jaringan-jaringan hubungan rahasia Aceh yang ada di Penang (Malaysia). Juga dengan menyelundupkan mata-mata gelap ke Aceh. Siapa mata-mata gelap yang dipakai Belanda? Mata-mata itu kebanyakan dari bangsa serumpun sendiri, dengan dalih ingin membantu rakyat Aceh. Upaya mata-mata ini dilakukan selain memberikan bantuan juga ingin mengorek informasi sebanyak mungkin tentang kekuatan rakyat Aceh lalu dilaporkan ke Belanda. Sebagai penjajah, Belanda tidak mungkin menurunkan serdadu dari orang asli Belanda. Negara pejajah barat memanfaatkan orang pribumi untuk melaksanakan tugas pengkhianatan terhadap bangsa sendiri. Upaya pengkhianatan bangsa dilakukan orang suruhan Belanda yakni mendapat posisi atau jabatan tertentu, menerima uang, dan penguasaan perniagaan. Mereka, mata-mata ini, mendapatkan hidup layak akan tetapi menyengsarakan rakyat dan menghancurkan harkat dan martabat bangsa sendiri. Baca juga: Menyikapi Bencana Menimpa Kita Meski demikian, perlawanan rakyat Aceh tidak serta merta dapat dikuasai Belanda dengan berbagai makar menyusupkan orang-orang pribumi untuk kepentingan penjajah. Bangsa Aceh sebuah bangsa yang benar-benar memiliki keinginan untuk merdeka menjadi dirinya sendiri berlandaskan agama dan bangsa sendiri. Dalam sejarahnya, berbagai perlawanan dan peperangan rakyat Aceh melawan Belanda terus berlangsung dari tahun 1824 sampai 1873. Terakhir, pada 5 April 1873, Belanda mengerahkan enam kapal uap, dua kapal angkatan laut, lima kapal barkas, delapak kapal peronda, kapal komando, dan lima kapal layar. Kapal-kapal ini mendarat di pantai Kuta Pante Ceureumen, sebelah timur Ulee Lheue. Jumlah personelnya terdiri dari 168 perwira dengan bawahannya 3.198 prajurit dipimpin Mayor Jenderal asal Belanda, JHR Kohler. Dari berbagai perlawanan dan peperangan rakyat Aceh dan penjajah, Belanda terus mendapat malu karena sebagai negara barat tidak dapat menaklukkan Aceh meski dengan kekuatan banyak dan lengkap. Aceh menjadi satu-satunya wilayah di nusantara yang tidak dapat dimiliki Belanda. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Kegigihan Rakyat Aceh Tamiang Melawan Belanda Menjaga Akar Deli: Mengapa Aset PTPN Tak Boleh Tumbang oleh Kepentingan?