SUMATRALINK.ID — Suatu malam, seperti biasa, Khalifah Umar bin Khotob Rodhyallahunahu patroli kampung. Seorang ibu melintas sedang memanggul girbah (wadah air dari kulit) memasuki sebuah rumah.

Tengah malam gelap ada seorang ibu bolak balik memanggul girbah. Umar heran. Ia mendekat. Ibu tersebut tak mengenalnya sebagai khalifah. Umar bertanya ikhwal  seorang ibu membawa air keluar masuk rumahnya malam-malam.

Ibu itu mempunyai anak banyak. Sedangkan ia hidup bersama anak-anaknya tanpa suami. Tidak ada pembantu di rumahnya. Ibu tersebut harus menunggu sampai tengah malam saat anak-anakya tertidur untuk mengambil air keluar.

Baca juga: Difitnah, Cara Hamka dan Pramoedya Saling Memaafkan

Umar membantu ibu tersebut. Ia memanggul girbah berisi air untuk dibawa ke dalam rumah hingga kantong air di dalam rumah ibu itu penuh. Umar pamit. Sebelum menjauh dari rumah ibu tadi, Umar berpesan:

“Esok pagi, datanglah kepada Umar, ia akan memberimu seorang pembantu rumah,” kata Umar, seperti biasa setiap patroli malam menemui rakyatnya ia menyembunyikan identitasnya sebagai khalifah.

Ibu yang banyak anak dan hidup sebatang kara tanpa suami di kampung yang jauh terpencil, tidak yakin akan menghadap Umar, sang penguasa negeri kala itu.

“Umar terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Bagaimana bisa saya menjumpainya,” ujar Ibu tersebut yang tidak menaruh curiga kepada seorang lelaki yang membantunya malam hari.

“Pokoknya, besok pagi datangi dia (Umar). In shaa Allah akan dipenuhi semuanya,” pinta Umar kepada ibu tadi  seperti dikutip Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya Umar Ibn’l Khattab Mukmin Perkasa.

Ibu ini bingung. Ia mendapat nasihat agar segera mendatangi Umar, khalifah atau presiden negerinya. Sedangkan kondisi hidupnya miskin, tidak pantas layaknya bertemu raja.

Esok paginya, ibu itu terpaksa menuruti nasihat lelaki yang membantunya memanggul girbah sehingga kantong airnya dalam rumahnya cepat penuh sebelum waktu fajar.

Ia tiba di rumah Umar.  Ibu tadi terperanjat. Saat bertemu pemilik rumah, ternyata yang ditemuinya orang yang membantunya memanggul girbah semalam.

“Jadi, engkau yang semalam itu?” tanya Ibu itu seakan tak percaya.

Dunia seakan sempit baginya dapat bertemu langsung dengan khalifahnya tanpa sekat, dan pernah bersamanya menjadi pembantunya semalam.

Baca juga: Ada Pak Suli di Bungalo Bung Hatta

Umar tersenyum tipis. Segera ia perintahkan pekerja Baitul Maal untuk mendatangkan seorang pembantu rumah ke rumah ibu tadi, serta memenuhi kebutuhan bahan pokok dan nafkah hidup keluarganya. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *