Bungalo Bung Hatta di Megamendung, Jawa Barat. (Foto: Muthiah Alhasany/kompasiana) SUMATRALINK.ID — Tak habis menceritakan sisi kehidupan Bung Hatta, proklamator kemerdekaan Indonesia. Di balik sisi kebaikan dan seriusannya kepada semua orang, Bung Hatta juga bisa marah bila sesuatu tidak sesuai dengan logika berpikirnya. Kesibukan dalam mengurus negara, Bung Hatta tak pernah melupakan untuk bersama keluarga. Meski sesekali, ia menyempatkan diri untuk berkumpul dengan istri dan anak-anaknya di akhir pekan. Rahmi, istri Bung Hatta telah bersiap berangkat. Peralatan rumah tangga dan bahan makanan sudah dikemas. Sengaja Rahmi menyiapkan bahan pokok merangkap untuk stok liburan pekan depan. Keluarga Bung Hatta akan berlibur dan berenang di Bungalo miliknya di Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Bungalow menjadi sarana rehat dan liburan tipis-tipis keluarga Bung Hatta pada akhir pekan. Bila hari biasa, bungalo hanya ditempati Pak Suli, sebagai penjaga. Ia bekerja untuk Bung Hatta sejak 1957. Pak Suli seperti keluarga sendiri, tidak ada perbedaan antara majikan dan pembantu. Keluarga Bung Hatta sudah tahu persis bila Pak Suli berkelakuan. Ia memang lugu tapi banyak akal. Terkadang, tindakan Pak Suli dapat memecahkan kebekuan keluarga Bung Hatta. Seringkali, jawaban-jawaban singkat dan mengena dari Pak Suli, tak jarang membuat anak-anak Bung Hatta tertawa. “Suli, mana gulanya?” tanya Rahmi kepada Pak Suli saat berada di dapur bungalo. Pak Suli memang satu-satunya yang menjaga bungalow dalam dan luar. Ia bertanggung jawab penuh atas bungalo Bung Hatta. “Oh, itu… Dibuang sebab dikotori kecoa,” jawab singkat Pak Suli. “(Gulanya) Ditaruh dimana?” tanya Rahmi lagi. “Di dalam tempat gula,” timpal Pak Suli serius. Bung Hatta yang berada di situ, langsung kaget dengan jawaban Pak Suli. “Akh… omong kosong! Mana bisa kakkerlak bikin kotor gula di tempatnya yang tertutup?” kata Bung Hatta. Jawaban Pak Suli tidak masuk logika Bung Hatta, sehingga ia ikut ambil bagian dalam pembicaraan itu. Pak Suli terdiam. Wajahnya memelas tanpa dosa. Rahmi dan Bung Hatta yang tadinya mulai marah sedikit reda. Malam tiba. Kondisi ruangan meja makan gelap. “Halida (anak bungsu Bung Hatta), tolong nyalakan lampu,” pinta Bung Hatta. Halida beranjak menyalakan lampu. Tapi, sudut ruangan makan tetap gelap. Ternyata, bola lampu sudah tidak ada lagi. Hilang. Padahal, Rahmi sudah menyiapkan bola lampu itu pada pekan lalu. “Suli, mana booglamp (Bahasa Belanda atau bohlam)-nya?” tanya Bung Hatta. “Dimakan kucing?!” seru Bung Hatta menyindir Pak Suli sebelum menjawab. Bung Hatta sedikit kesal dengan jawaban Pak Suli pada petang hari soal kecoa di toples gula. “Ya…. (Dimakan kucing)!” jawab Pak Suli asal saja. Mendengar jawaban tanpa dosa itu, anak-anak termasuk istri Bung Hatta tertawa terbahak-bahak. Tapi, Bung Hatta langsung meminta anak-anaknya untuk diam. “Sssst….. Akh…..!!!” seru Bung Hatta kepada mereka. Anak-anaknya sudah faham betul dengan sikap ayahnya kalau marah. Bung Hatta bila marah kedua alisnya seperti “bertabrakan”. Jawaban Pak Suli yang asal itu tidak membuat Bung Hatta yang lagi marah ikut tertawa. Prinsip Bung Hatta, wibawa tetap harus dipertahankan kalau sedang memarahi orang, jadi betapapun lucunya, beliau tidak tertawa. Teguran Bung Hatta membuat ketiga anaknya dan Rahmi hanya bisa menutup mulutnya dengan serbet makan, menahan tawa sambil wajah menghadap piring makan. Saking lucunya jawaban Pak Suli. “Lucu ya…. Ayah?” kata Meutia Farida, anak sulung Bung Hatta seperti dikutip dalam bukunya Bung Hatta, Pribadi dalam Kenangan, 1980. “Ndak…” jawab Bung Hatta sambil menggeleng kepala. Meski marah dan ada kelucuan yang menimbulkan gelak tawa, Bung Hatta tetap menghormati Pak Suli sebagai pembantunya. Tindakan Bung Hatta tidak tertawa saat marah dan tidak setuju anaknya menertawakan Pak Suli yang hanya sebagai pembantu rumah tangga. Pak Suli tidak saja sebagai pembantu, penjaga bungalo. Ia sudah dianggap keluarga dekat. Keluarga Bung Hatta menerima kelebihan dan kekurangan Pak Suli apa adanya. Pak Suli sering dimarahi, tapi Pak Suli juga sudah kebal dengan teguran mereka. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Mesin Jahit Rahmi dan Rahasia Bung Hatta Difitnah, Cara Hamka dan Pramoedya Saling Memaafkan