SUMATRALINK.ID — Dua koran ibukota berhaluan komunis gencar menurunkan berita utama berbau fitnah. Novel Buya Hamka Tenggelamnya Kapal Van der Wijch dituduh hasil plagiat karangan pujangga Prancis Alvonso Care. Hamka baru saja pulih, setelah dirawat tiga bulan di rumah sakit dan di rumah. Kakinya terkilir di tangga sepulang Shalat Subuh di Masjid Agung, tahun 1960-an. Kakinya harus di gips, tulang tumitnya retak. Kalau berjalan harus bertongkat. Dua koran itu Harian Rakyat dan Harian Bintang Timur masif memberitakan tulisan Ki Panji Kusmin. Tulisannya mengulas bagaimana Hamka mencuri karangan asli pujangga Prancis itu. Tulisan itu dimuat juga di Lembar Lentera Koran Bintang Timur asuhan Pramoedya Ananta Toer, panggilannya Pram. Berita fitnah yang menyerang tokoh Islam dan satrawan Buya Hamka ini berlangsung berbulan-bulan. Dua koran ini, termasuk PKI dan Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra juga menyerang sisi pribadi Hamka dalam tulisan-tulisannya. Namun, fitnah dan tuduhan tak berdasar yang dilancarkan Ki Panji Kusmin dan Pramoedya Ananta Toer, tak membuat Hamka gusar. Ia masih tenang-tenang saja, meski buku-buku karya Hamka dibakar Lekra. Baca juga: Ada Pak Suli di Bungalo Bung Hatta Meski Hamka biasa-biasa saja, tapi anak-anaknya tentu resah. Berita dua koran itu sedikit banyak mengganggu aktivitas sekolah mereka. Irfan, anak kelima Hamka, sering mendapat interogasi di sekolah. Guru Sastra dan guru Civic Irfan di SMA selalu menyindir kesehatan ayahnya. Kedua guru tersebut menanyakan Hamka bernada mengejek. “Kupingku terasa panas bila kedua guruku itu bertanya kepadaku, begitu juga dengan saudara-saudara yang lain. Apalagi membaca koran yang sengaja dikirim ke rumah secara gratis,” kata Irfan dalam bukunya Ayah, Kisah Buya Hamka, 2016. Perseteruan Buya Hamka dan Pramoedya berlangsung sejak tahun 1963. Terjadi Gerakan 30 September 1965 yang dilakukan PKI. Usaha kudeta PKI gagal, namun terdapat korban enam jenderal dan seorang perwira. Dua tahun dari fitnah terhadap Hamka, dua guru usil kepada Irfan di sekolah diberhentikan sebagai guru dan PNS. Sedangkan Pramoedya ditahan dan diasingkan di Pulau Buru. Seiring waktu berjalan, Pram bebas. Buya Hamka sebenarnya tidak menaruh pusing dengan tudingan sastrawan Pramoedya atas hasil karyanya yang difitnah plagiat dan diserang habis-habisan pribadinya di dua koran berhaluan komunis tersebut. “Ayah nyaris tidak pernah terusik. Ayah sangat tenang sekali menyikapi semuanya,” kata Irfan. Rumah Hamka kedatangan tamu tak dikenal. Sepasang gadis pribumi dan pemuda keturunan Cina; Astuti dan Daniel Setiawan. Astuti rupanya anak sulung Pramoedya. Ia bermaksud meminta Buya Hamka membimbing Daniel masuk Islam dan memelajari Islam, karena akan menikah. Astuti bercerita, ayahnya (Pram) tidak setuju bila anak sulungnya menikah dan bersuami berbeda keyakinan. Kedatangannya ke rumah Hamka, lantaran diperintah Pramoedya. Meski bersilang pendapat dengan Pramoedya, Buya Hamka tetap menerima permintaan Astuti. Tak ada perasaan sakit hati atas perlakua ayahnya. Hamka membimbing Daniel membaca dua kalimah syahadat, dan memintanya berkhitan, lalu memelajari Agama Islam. Hoedaifah Koeddah, sahabat Pram, pernah bertanya kepadanya terkait kedatangan Astuti dan calon suaminya ke rumah Hamka. Padahal keduanya sedang tidak baik-baik saja. “Masalah faham kami tetap berbeda. Saya ingin putri saya yang muslimah harus bersuami dengan laki-laki seiman. Saya lebih mantap mengirim calon menantu saya belajar Agama Islam dan masuk Islam kepada Hamka,” kata Pramoedya menjawab sahabatnya. Dalam Majalan Horison, Agustus 2006, Hoedaifah mengatakan, Pram mengirim anak sulung dan calon menantunya kepada Buya Hamka, seakan (secara halus) ia (telah) meminta maaf atas sikapnya yang telah memperlakukan Hamka kurang baik di koran Harian Bintang Timur dan Harian Rakyat. Baca juga: Radio Cawang Terinspirasi Pidato Sukarno Taufiq Ismail, penyair bertutur, pada suatu ceramah, Buya Hamka pernah mengatakan ia terus difitnah sampai masuk penjara. Hamka tidak pendendam, malah ia memaafkan Pramoedya. “Dia (Pramoedya) itu ikut-ikutan saja. Dia bukan komunis. Saya maafkan Pram,” kata Taufiq menuturkan pernyataan Buya Hamka. Padahal, Hamka bisa saja melakukan counter attack terhadap Pram. “Inilah contoh akhlak luar biasa dari seorang pemikir Islam,” ujar Taufiq. Irfan juga mengatakan, ayahnya sendiri sudah lama memaafkan Pramoedya sejak kejadian itu. Terbukti menerima anak sulung dan calon menantunya di rumah. “Ayah tidak pernah sedikitpun merasa bermusuhan dengan Pramoedya Ananta Toer,” kata Irfan Hamka. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Ada Pak Suli di Bungalo Bung Hatta Cara Umar Memanggul di Jalan Sunyi