Keluarga lengkap Proklamator Bung Hatta. (Foto: Dok. Sumatralink.id)

SUMATRALINK.ID — Keteguhan prinsip Mohammad Hatta, dalam berbagai hal telah teruji. Mempertahankan prinsip itu , Bung Hatta rela mengundurkan diri sebagai wakil presiden. Tak hanya bernegara, ternyata prinsip ini juga ia tebarkan di keluarganya.

Bung Hatta menikahi Rahmi pada 18 November 1945. Memang, tekad Bung Hatta sejak awal, belum mau menikah bila Indonesia belum merdeka. Dengan Yuke, panggilan akrab Rahmi, terpaut jauh lebih tua umurnya.

Pernikahan Hatta dan Rahmi sengaja dibuat acara sederhana di Megamendung, sebuah bungalow Bung Hatta. Bung Karno datang bersama Fatmawati, istrinya. Bung Karno menjadi saksi akad nikah mereka.

Ada hal menarik dalam pernikahan proklamator Indonesia ini. Bung Hatta memberikan mas kawin kepada calon istrinya sebuah buku. Buku karya Bunga Hatta itu berjudul Alam Pikiran Yunani.

Saleha, ibu kandung Bung Hatta gusar. Ia tampak malu dengan sikap anaknya yang memberikan mas kawin dalam bentuk buku. bukan emas pada umumnya. Ia juga merasa tidak senang dengan mas kawin buku terebut, seolah-olah anaknya tidak mampu membeli emas.

“Saya mempunyai beberapa uang emas yang besar-besar, berikan itu juga sebagai mas kawin,” kata Saleha, ibu Bung Hatta, seperti dituturkan Raharty Subijakto, kakak Yuke, dalam tulisannya Sebuah Kenangan.

Tapi apa jawaban Bung Hatta. Hatta menolak tawaran ibunya untuk memberikan emas sebagai mas kawinnya. Bung Hatta tetap pada prinsipnya. Ritual agung dalam hidup ini semacam pernikahan, ia tetap memegang prinsip yang teguh.

Kawan-kawan seperjuangan Bung Hatta dan Rahmi juga sependapat dengan prinsip Bung Hatta. Mereka merasa bahwa ada yang jauh lebih berharga di dunia ini selain mas dan harta benda.

Keluarga Bung Hatta ketika anak-anaknya sudah remaja. (Foto: Dok. Sumatralink.id)

Pernikahan Bung Hatta dan Rahmi telah berlangsung 35 tahun. Perjalanan panjang mendampingi seorang proklamator tentu banyak suka dan dukanya, tetapi terasa indah dan berharga seperti untaian ratna mutu manikam.

Meski, Bung Hatta sibuk mengurus negara, namun ia tetap tidak melupakan keluarganya. Beliau sangat mencintai keluarganya. Dalam benaknya, kehidupan berkeluarga inti terpenting dalam hidupnya.

Bagi Bung Hatta, mencintai keluarga bukan berarti memanjakan keluarga secara berlebihan, akan tetapi mendidiknya dengan baik. Belian menginginkan suatu keluarga yang kuat dan teguh prinsip, tidak goyah oleh keadaan sesulit apapun.

Saat berada di pengasingan di Pulau Bangka, Bung Hatta mengirim surat balasan kepada Rahmi. Surat yang ditulis menggunakan pensil sangat rapi tersebut tertanggal 11 Januari 1949. Surat ini ditulis saat anak pertamanya Meutia Farida berusia hampir dua tahun.

Isi suratnya tak ada sedikitpun kegentaran dan kesedihan saat pengasingan jauh dari keluarga. Bung Hatta malah menyatakan jalan sejarah akan terbuka menuju cita-ciat bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia akan memeroleh kedaulatan negaranya sendiri. Bahkan Bung Hatta meminta keluarganya sabar dan tahan uji dan tawakkal kepada Allah SWT.

Di tahun 1950-an, Bung Hatta masih menjabat wapres. Keteguhan prinsipnya kembali tercermin dalam kehidupan keluarga. Pada suatu waktu, seperti dikutip buku Bung Hatta, Pribadinya dalam Kenangan (1980), mata uang Indonesia mengalami pemotongan.

“Seperti halnya para ibu rumah tangga lainnya,  saya menabung karena saya berniat untuk membeli mesin jahit. Tentu dapat dibayangkan betapa kecewanya hati saya ketika itu,” kata Rahmi, mendengar negara akan memotong nilai uang.

Ketika Bung Hatta pulang dari kantor, sebagai ibu rumah tangga, wajar ia mengeluh.

“Aduh… Ayah….! Mengapa tidak bilang terlebih dahulu, bahwa akan diadakan pemotongan uang? Ya… uang tabungan kita tidak ada gunanya lagi. Untuk membeli mesin jahit tidak bisa lagi, tidak ada harganya lagi,” keluh Rahmi.

Bung Hatta dan cucu pertamanya. (Foto: Dok. Sumatralink.id)

Keluhan wanita mungkin mempunyai alasan tersendiri. Tetapi seorang pejabat negara seperti Bung Hatta menjawabnya dengan berbeda.

“Yuke, seandainya Kak Hatta mengatakan terlebih dahulu kepadamu, nanti pasti hal itu akan disampaikan kepada ibumu. Lalu kalian memberi tahu kawan-kawan dekat lainnya. Itu tidak baik…!

“Kepentingan negara tidak ada sangkutpautnya dengan usaha memupuk kepentingan keluarga. Rahasia negara adalah tetap rahasia. Sungguhpun saya bisa percaya kepadamu, tetapi rahasia ini tidak patut dibocorkan kepada siapapun. Biarlah kita rugi sedikir, demi kepentingan seluruh negara. Kita mencoba menabung lagi, ya….!” kata Bung Hatta.

Akhirnya, sebagai seorang istri, Rahmi sepenuhnya dapat memahami prinsip suaminya yang ia kenal. Berkat pengalaman hidup bersama puluhan tahun, keyakinan Rahmi terhadap Bung Hatta makin besar pula.

“Prinsip itu juga yang menyadarkan saya, agar saya tidak perlu menghalangi sikapnya ketika Bung Hatta berniat meletakkan jabatannya sebagai wapres,” kata Rahmi.

Rahmi menyadari dan sekaligus menghargai hasil kerjanya. Ia dapat merasakan, betapa seorang yang berprinsip teguh seperti Bung Hatta, tidak akan dapat menutup mata dan telinga, jika buah pikiran atau ide yang disumbangkannya tak pernah didengar atau dituruti.

Maka ketika Bung Karno pada suatu hari memanggil Rahmi, dan minta agar membujuk Bung Hatta tetap menjabat wapres. Rahmi menyampaikan jawaban kepada Bung Karno tentang keteguhan prinsip Bung Hatta.

“Saya tidak akan menghalang-halangi niatnya karena memahami betul keteguhan prinsipnya,” kata Rahmi kepada Bung Karno. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *