SUMATRALINK.ID, Lampung — Enam puluh lima tahun lalu, tak banyak yang berminat masuk padepokannya. Anak muda dan anak sekolah pun tak tertarik olahraga angkat besi. Dengan modal seadanya, Imron Rosadi tetap yakin padepokan angkat besinya akan berkibar di nusantara dan dunia. “Awal buka padepokan banyak yang tidak berminat, apalagi anak sekolahan,” kata Imron Rosadi (80 tahun), pemilik Padepokan Angkat Besi “Gajah Lampung” saat ditemui, beberapa waktu lalu. Seiring waktu berjalan, padepokan angkat besi Gajah Lampung yang berada di Jl Ahmad Yani, Kabupaten Pringsewu, Lampung, mulai diperhitungkan orang. Atlet-atlet angkat besi binaan Imron Rosadi dari tahun ke tahun menorehkan prestasi, tidak saja nasional bahkan internasional. Tangan dingin Imron, membuat Bendera Merah Putih berkibar mengharumkan nama bangsa dan negara Indonesia di kancah internasional angkat besi (weightlifting) dan angkat berat (powerlifting). Imron bercerita, ia membuka padepokan di daerah lantaran banyak bibit-bibit atlet angkat besi yang bisa dibina dari daerah. Kala itu, sekitar tahun 1960-an ia bergerilya mencari bibit-bibit atlet angkat besi di kampung-kampung untuk dibina di padepokan. Pencarian bibit atlet angkat besi ini justru mengarah kepada kalangan marjinal seperti buruh angkutan berat, tukang becak, tukang rongsok, atau pemulung. “Syaratnya calon atlet itu memiliki postur tubuh lumayan untuk dilatih,” ujar Imron. Imron Rosadi, pemilik Padepokan angkat besi Gajah Lampung. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland) Mengapa Imron tidak mencari atau merekrut anak sekolahan? Ia beralasan, kalau anak sekolahan atau pelajar tidak mau diajak olahraga berat seperti angkat besi. Memang, rata-rata anak-anak sekolah justru dalam kehidupan rumah tangganya tidak bekerja berat. Satu demi satu, Imron berhasil mendapatkan bibit-bibit unggul untuk dibina di padepokannya. “Tahun 1970-an baru berjalan padepokan. Anak-anak mulai berlatih,” kenang Imron. Banyak keuntungan yang didapat bila mendapatkan bibit unggul dari kalangan marjinal. Di satu sisi, anak muda tersebut mendapat kegiatan tetap dan mendapat imbalan gratis, di sisi lain pengasuh dapat membentuk jiwa dan mental atlet lebih tangguh pantang menyerah tidak manja dan malas. Berkat ketekunannya mengelola Padepokan Gajah Lampung, banyak sudah atlet binaanya yang menyandang juara dunia pada sejumlah event kejuaraan internasional, termasuk olimpiade. “Yang juara dunia dari sini itu, rata-rata kerja (dulu) serabutan,” kata Imron. Padepokan angkat besi Gajah Lampung milik Imron Rosadi. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland) Padepokan Imron memang sederhana. Tapi, pembinaan atlet angkat besi tetap menggunakan peralatan canggih. Mereka dilatih gratis dan menginap di asrama dua lantai. Para atlet juga mendapat makanan bergizi setiap hari, juga gratis. “Selain itu, (atlet binaan) dapat uang saku lagi. Kurang apa lagi,” ujarnya tertawa. Modal tekad Imron, tak menghianati hasil. Dari padepokan yang bercokol di daerah, menelurkan banyak juara dunia. Tangan dingin Imron yang terlahir dengan nama Liu Nyok Siong memang berbeda dengan pelatnas-pelatnas lain, mungkin. Boleh dikata, bila pelatnas lain menunggu anggaran baru berlatih, namun Imron tak segan-segan mengeluarkan kocek pribadinya agar atleh binaannya berlatih terus. Ini yang mungkin membedakan Imron dan pengurus pengda lainnya. “Tapi saya cuma punya tekad atlet saya harus berprestasi semua kita carikan dananya,” ujar Imron yang sehari-hari memakai celana pendek dan kaos oblong putih. Menurut dia, membina atlet dari bibit menjadi juara dunia, gampang-gampang susah tapi menyenangkan. Intinya, ungkap dia, atlet binaan jangan dibuat pusing dengan masalah keuangan, rumah tangga, dan pekerjaan. Ia mengungkapkan, untuk mencari bibit atlet yang unggul tidaklah mudah. Dari 100 lifter binaan, belum tentu dapat satu yang terbaik, apalagi hanya 10 orang. Resep Imron di padepokan, yang penting tugas atlet itu berlatih intensif, kebutuhan jasmaninya lengkap. “Soal dananya kita yang carikan bukan urusan atlet,” ujarnya. Padepokan ini sudah menelurkan para juara dunia sejati pada berbagai ajang kejuaraan angkat besi dan angkat berat dunia. Sebut saja alumni Gajah Lampung yakni ujara dunia angkat besi Sutrisno, Lisa Rumbewas, Jadi Setiadi, Sri Wahyuni Agustiani, Eko Yuli Irawan, Triyatno, dan banyak lagi. Dari padepokan ini juga, alumni Gajah Lampung banyak hidupnya terjamin. Tercatat, ada 20 orang menjadi pegawai negeri sipil di antaranya, Sutrisno, Jadi Setiadi, dan istri Jadi yang juga atlet angkat besi. Pegawai honor 10 orang, lima orang pegawai Kantor Pos dan Giro, dan empat orang berprofesi guru. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Di Pintu Masjid Masuk Seorang Penghuni Surga Bangun Lubis, Dosen yang Tak Meninggalkan Dunia Wartawan