SUMATRALINK.ID – Oleh: Andi Firmansyah (* Lembaran foto hitam putih tentang persemaian tembakau atau zaadbeddingen di tanah Deli seolah menjadi lorong waktu untuk mengintip “surat lahir” Kota Medan. Hamparan bibit yang berbaris rapi di bawah peneduh rumbia tersebut bukanlah sekadar aktivitas bercocok tanam biasa. Itulah titik nol— sebuah tarikan garis sejarah yang mengubah hutan belantara menjadi kota metropolitan yang kini berdiri megah. Begitu dalamnya akar tumbuhan ini merasuk ke DNA Medan, hingga jejaknya abadi secara visual dalam ingatan kota. Tengok saja logo Pemerintah Kota Medan atau lambang Universitas Sumatera Utara (USU). Di sana, terselip gambar daun tembakau dengan gagahnya. Ini bukan pajangan tanpa makna, melainkan sebuah pengakuan jujur bahwa identitas, kemajuan pendidikan, hingga denyut nadi pemerintahan di tanah ini bermula dari kejayaan selembar daun “Emas Hijau”. Namun, narasi besar ini tidak berhenti di buku sejarah kolonial yang usang. Ada babak heroik yang kerap terlewat dalam ingatan kolektif, yakni Nasionalisasi 1958. Saat itu, dengan nyali besar, Indonesia mengambil alih aset-aset raksasa milik Belanda seperti Deli Maatschappij (Deli Mij) dan mengembalikannya ke pangkuan Ibu Pertiwi. Sejak momentum itulah, perusahaan asing tersebut berganti rupa menjadi PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Di Sumatra Utara, tongkat estafet kejayaan itu kini digenggam oleh PTPN I Regional 1 (Eks PTPN II). Perusahaan ini bukan sekadar unit bisnis yang mengejar profit semata, melainkan garda terdepan yang menjaga agar kedaulatan ekonomi atas Tembakau Deli tetap berdiri tegak di tangan bangsa Indonesia, bukan jatuh kembali ke dekapan penguasa modal yang hanya mementingkan diri sendiri. Benteng terakhir di tengah gempuran kepentingan menjaga amanah sejarah ini ternyata jauh dari kata mudah. Saat ini, PTPN harus berdiri tegak di tengah kepungan arus kepentingan yang luar biasa deras. Ironisnya, ancaman sering kali justru datang dari pihak-pihak yang seharusnya menjadi mitra dalam menjaga aset negara—mulai dari oknum aparat, politikus, hingga lembaga-lembaga yang mencoba menggerogoti dan mengambil alih lahan negara secara ilegal dengan berbagai dalih yang dikemas rapi. Perlu disadari bersama bahwa setiap jengkal lahan HGU yang dipertahankan habis-habisan oleh PTPN bukan semata-mata demi angka di atas laporan keuangan korporasi. Ini adalah upaya penyelamatan aset negara dari tangan-tangan yang hanya mencari keuntungan jangka pendek. Jika lahan ini lepas, maka hilang pulalah ruang sejarah “Emas Hijau” yang melegenda. Di sinilah pentingnya kesadaran kolektif yakni mendukung keberlangsungan PTPN berarti mendukung keselamatan aset masa depan untuk generasi mendatang. Antara beton dan warisan yang bernapas memang, jika membandingkan foto lama Deli dengan peta Medan hari ini, perbedaannya bak bumi dan langit. Lahan yang dulu menghijau kini bersalin rupa menjadi pemukiman padat, pusat perbelanjaan megah, hingga infrastruktur vital sekelas Bandara Kualanamu. Pertumbuhan kota memang tak bisa dibendung, dan PTPN telah mengambil peran besar sebagai penyedia ruang bagi kemajuan wajah Medan moderen. Namun, di tengah kepungan beton, identitas Medan sebagai “Kota Tembakau” tidak boleh dibiarkan layu. Gedung-gedung gagah seperti Kantor Pusat PTPN atau Gedung Lonsum adalah bukti nyata bahwa keuntungan dari selembar daun tembakau pernah mampu membangun kota dengan standar kualitas Eropa. Bangunan-bangunan ini adalah monumen hidup yang bercerita bahwa Medan tidak tumbuh dari ruang hampa, melainkan dari dedikasi dan aroma tanah perkebunan para pendahulu. Saat ini, tantangan PTPN I Regional 1 telah bergeser. Tugas perusahaan tidak lagi sekadar urusan panen dan ekspor, melainkan bagaimana menyeimbangkan nilai sejarah yang luhur dengan kebutuhan kota yang terus berlari kencang. Setiap bangunan tua yang terlewati atau sisa hamparan hijau yang tampak di pinggiran kota merupakan bukti sejarah yang masih bernapas. Sebuah perjalanan panjang dari masa sulit kolonial menuju kemandirian ekonomi yang dikelola secara berdaulat. Menjaga keberlangsungan PTPN adalah cara menghargai masa lalu, sekaligus mengamankan masa depan ekonomi bangsa yang mandiri.*** *) Penulis, Asisten Komunikasi Perusahaan dan Hubungan Stakeholder PTPN I. Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Belanda Malu Tak Mampu Taklukkan Aceh Bung Hatta di Stasiun Tanjungkarang