SEORANG bapak, sekira usia 70 tahun, pengelola harian sebuah masjid ‘besar’ di Jalan lintas barat, Lampung mengeluh dengan pengurus ‘inti’ masjidnya. Ceritanya, beberapa hari lalu, ada seorang anak muda lulusan pondok pesantren bersama bapak ini pamit kepada pengurus inti masjid untuk pulang kampung ke Kendari, Sulawesi Tenggara. Anak muda, hamba Allah ini sudah melengkapi masa pengabdiannya selama setahun (sebagaimana layaknya program pondok menjelang tamat) di masjid tersebut sebagai imam shalat lima waktu dan khotib jumat (ustadz internal). Ia menginap di ruangan belakang masjid. Ada satu kamar yang sudah disiapkan bapak tersebut. Nyamanlah tempatnya. Ada dipan dan perlengkapan tidur, lemari, dan kompor serta alat dapur. Setiap waktu sholat, ia menjadi imam. Bacaan Al Quran lumayan benar dan bagus sesuai kaedah tajwid dan tahsin. Belum lagi bila ia sebagai khotib saat tampil Khotbah Jumat tanpa teks dan materinya kekinian (update). Ketika belum ada imam tetap layaknya anak muda ini, setiap waktu sholat lima waktu sesama jamaah saling suruh saling dorong untuk menjadi imam. sedangkan pengurus inti masjid kadang timbul kadang tenggelam, tidak ada di setiap sholat lima waktu. Satu tahun pengabdian memang tidak lama, tapi kalau dihitung pakai hari sekira 365 hari lama juga ia merantau dari kampungnya nun jauh disana. jauh dari orang tua, saudara, atau kerabat familinya. Tapi apa balasannya? Saat pamit dengan pengurus masjid, tak sedikitpun ada tanda mata apalagi bentuk uang. Hanya ucapan terima kasih doang dari pengurus yang notabene perwakilan jamaah masjid kepada anak muda tersebut. Memang ia (anak muda) juga tidak berharap, karena sudah ditempatkan untuk mengabdi juga sudah terima kasih. Padahal, setiap jumlah tertulis di white board dalam masjid, pemasukan infak jumat saja berkisar Rp 700 ribu sampai Rp 1 juta lebih. wajar, karena masjid ini pinggir jalan lintas banyak musafir yang berhenti untuk sholat atau sekedar istirahat siang dan malam hari. Masjid ini juga tersedia air minum galon atau air mineral gelas, juga tersedia dispenser air hangat berikut gula, kopi dan teh, yang terakhir ini yang beli bapak itu pakai duit pribadi. Sangat wajar kalau para musafir yang safar ke luar kota lewat jalan ini sering mampir. Anak muda itu pulang ke kampung naik pesawat. Dari mana tiketnya? Alhamdulillah, ada jamaah tetap masjid memberikan ongkos pesawat Rp 2 juta bersama keperluan makan minum di jalan. Lalu dari masjid, kontribusinya? Zonk….. bahkan selama 365 hari di masjid itu, tidak ada sepeser pun uang kas masjid mengalir ke sakunya sekedar untuk bekal hidupnya sehari-hari apalagi per bulan jauh panggang dari api. “Benar, pak. Tidak ada seperser pun dari masjid keluar uang untuk anak itu. Ongkos dan bekal pulang dari pribadi jamaah,” tutur bapak itu kepada saya selepas isya. Naudzubillahiminzalik. Terbuat dari apa hati (sebagian) pengurus (takmir) masjid seperti itu. Padahal uang kas masjid itu dari jamaah juga, bukan duit pribadi, apa salahnya disisihkan untuk orang-orang seperti anak muda tersebut, apalagi dia safar fi sabilillah. Bukan soal masjidnya, tapi sadarlah wahai takmir masjid, anda diberi umat amanah….!!! (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Orang Kaya yang Saya Kenal Tak Jelas Masalah, Dikurung ‘Kapten’ dan Diancam Pistol