Ilustrasi: Pena (Foto: Dok. Sumatralink.id)

MENDAPAT penghargaan dari pihak lain, menyenangkan. Apalagi, penghargaan tersebut diterima setelah berjuang. Kalau dalam bahasa agama, bayarlah upahnya sebelum keringatnya kering. 

Tulisan dimuat di koran membanggakan. Lebih senang lagi kalau dapat honornya. Tak semua koran mampu menghonori penulisnya. Hanya koran mapan mengapresiasi tulisan penulisnya.

Honor atau honorarium dalam KBBI adalah upah yang diberikan oleh suatu pihak sebagai imbal jasa kepada pihak yang berprofesi (pengarang, penerjemah, dokter, pengacara, konsultan, tenaga honorer).

Bagi pemula, nominal honor yang dikantongi besar atau kecil tak masalah. Kepuasan batin tak sama dengan angka tertulis di kwitansi kala itu.

Sekedar berbagi cerita, awal mengenal dunia kepenulisan SMA (1988-1989).

Coba-coba tulisan diketik rapi, masuk amplop dikirim ke tabloid lokal via kantor pos. Tobloid Media Guru, namanya. Eh.. dimuat. Walau tanpa honor, tabloid itu jadi tempat mengasah dunia tulis menulis terutama pemula di Sumatra Selatan (Sumsel).

Beranjak kuliah 1990-an, tulisan mulai dikirim ke koran harian lokal “bergengsi” di daerah.  Koran Sripo, namanya. Anak Kompas. Tirasnya memang mengungguli semua koran daerah. Bahasa korannya apik dan mudah dicerna.

Koran ini banyak menampung penulis-penulis pemula, seperti saya, dan profesional, termasuk karya para seniman Sumsel. Dari beberapa tulisan (esai), ada yang jebol di muat pada koran edisi minggu berwarna. Senangnya bukan kepalang.

Koran edisi akhir pekan, memang lebih banyak menampung penulis dari luar redaksi. Rubrikasinya sangat rileks dan enak dibaca. Harga korannya pun murah hanya Rp 200 per eksemplar. Tapi, waktu itu. Dolar AS masih 1.800 perak.

Dalam rentang bulan, sudah ada tiga tulisan yang dimuat. Coba-coba datang ke kantor redaksinya, kata orang-orang ada honornya. Bertemu staf sekrednya diserahkan bukti terbit tulisan.

Ada tiga kwitansi disodorkan untuk diteken. Terlihat nominalnya Rp 15.000 per tulisan. Lumayan kali tiga untuk seorang mahasiswa. “Untung tidak mengambil honor hanya Rp 15.000,” pikirku.

Dari situ, makin semangat mengetik tulisan. Mulai merambah ke rubrik opini. Rubrik yang sangat kompetitif dan elegan. Saingannya dosen, ahli, dan pengamat, juga seniman. Ternyata, ada tulisan yang yang tembus. Terbit di koran harian saja menyenangkan, apalagi dapat honornya. Lumayan….

Pindah ke media di luar Provinsi Sumsel. Lagi-lagi tulisan yang dikirim pakai perangko biasa (bukan kilat) dimuat. Nah, kali ini honor tidak dijemput, tapi dikirim via wesel pos. Besarannya? Lumayan-lah buat beli-beli kertas dan pita mesin tik, termasuk pisang goreng.

Itu zaman keemasan media cetak. Senja kala media cetak terjadi, disrupsi kata zaman sekarang. Media daring (digitalisasi) yang menjamur, saat penulis dan tulisan bertaburan di dunia maya, apakah honorarium masih berlaku? Entahlah…. 

Kemiling, 22 Rabiul Awal 1445,

(Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *