SUMATRALINK.ID – Banyak orang Muslim yang shalat, tapi sedikit yang melaksanakannya dengan khusyuk dan tuma’ninah. Padahal, kedua perkara ini bila terjadi maka shalatnya akan nikmat, tidak terburu-buru dikejar perkara dunia. Menjalankan shalat menjadi kewajiban bagi kaum muslimin tanpa terkecuali, baik dalam keadaan sehat maupun sakit, baik dalam kondisi biasa maupun safar, dan juga baik dalam keadaan normal ataupun perang. Intinya, kewajiban shalat tidak gugur atas semua itu kecuali ajal telah menjemput. Lalu, bagaimana shalat yang disebut khusyuk dan tuma’ninah? Sebelumnya, shalat khusyuk yakni shalat yang dikerjakan dengan sadar dan hati yang tenang. Shalat khusyuk ini sangat penting dalam shalat karena perkara ini menghadap Allah Subhanahuwata’ala (SWT). Sedangkan shalat tuma’ninah yakni shalat yang dikerjakan tenang dan tidak terburu-buru. Tuma’ninah ini menjadi rukun shalat agar shalatnya sah dan diterima. Betapa banyak yang shalat tapi tidak tuma’ninah, apalagi bila mengerjakan shalat tarawih dan witir dengan ngebut. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya,” (QS. Al-Mu’minun: 1-2) Mengenai shalat khusyuk dan tuma’ninah, ada kisah sahabat Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam (SAW) yakni Ubbad bin Bisyr Rodhiyallahuanhu (ra). Setelah Perang Dzat al-Raqa’, Rasul SAW bersama kaum muslimin berhenti di sebuah tempat untuk beristirahat sejenak. Ada beberapa sahabat diperintah Rasul SAW berjaga. Dua sahabat yang dipilih yakni Ubbad bin Bisyr dan Ammar bin Yasir. Ubbad berjaga di awal malam, sedangkan Ammar diminta tidur. Nanti, di akhir malam Ammar diminta bangun bergantian jaga. Malam yang gelap, sepi dan sunyi, di sela-sela bebatuan Ubbad mengisi malam dengan shalat. Ia khusyuk sekali saat shalat malam tanpa ada gangguan siapa pun. Tatkala ia membaca ayat-ayat Al-Quran, seakan ia berdialog dengan Allah SWT lewat lantunan Al-Quran. Saking khusyuk dan tuma’ninahnya ia melantunkan ayat-ayat Al-Quran, sampai musuh melepaskan anak panah dan mengenai lengannya, tapi ia tidak merasakan sakit sedikitpun. Dicabutnya anak panah di lengannya, lalu ia melanjutkan lagi bacaan Al-Quran dalam shalatnya. Setelah lama membaca Al-Quran, Ubbad ruku dan sujud. Kalau sujud ia sempat membangunkan kawannya di sebelah yakni Ammar bin Yasir. Ammar bangun lalu melihat darah sudah mengalir dari tubuh Ubbad. “Mengapa kamu tidak membangunkan saya kalau terkena anak panah musuh?” kata Ammar. “Aku shalat sedang membaca ayat-ayat Al-Quran. Aku tidak mau memotong bacaan Al-Quran-ku. Aku lebih memilih mati dibandingkan memotong bacaan Al-Quran-ku,” tutur Ubbad. Begitu kisah Ubbah yang bila shalat dilaksanakan seakan istimewa kondisinya ia bersama Allah SWT berdialog dan memendam kerinduan ingin berjumpa dengan-Nya. Tentu semua ini tidak terjadi bila shalat seseorang itu tidak khusyuk dan tuma’ninah. Perkara khusyuk dalam shalat ini sangat sulit, apalagi di zaman sekarang. Aktivitas dunia sangat memengaruhi seseorang ketika shalat untuk khusyuk. Dari Abu Ad-Darda’ ra, Rasulullah SAW bersabda, “Perkara yang pertama kali diangkat dari umat ini adalah khusyuk sampai tak terlihat orang yang khusyuk di dalam shalatnya,” (HR. Ath-Thabrani). Shalat seseorang kebanyakan sah tapi yang diterima hanya sedikit sekali. Dari ‘Ammar bin Yasir ra, Rasul SAW bersabda, “Ada yang selesai dari shalatnya, tetapi ia hanya mendapatkan sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, dan separuhnya.” (HR. Abu Daud, An-Nasai, Ahmad). Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Cara Mudah Membangun Rumah di Surga Menjawab Salam dan Bersalaman, Sepele tapi Berdampak