HARI ini (31 Desember 2023), setahun yang lalu. Saya terakhir menulis di koran harian. Koran kebanggaan umat itu telah tiada awal tahun 2023. Berkah nama besarnya selama ini, banyak juga yang mempertanyakan, banyak juga yang ingin (berharap) tetap ada, meski nantinya harus jungkir balik melawan kondisi zaman. Tiga dasa warsa berkiprah mengusung konsep rahmatan lil alamin, menjadi refrensi umat dan kalangan lain tidaklah mudah, penuh perjuangan dalam berkompetisi. Kehadirannya 30 tahun lalu, mewarnai corak jurnalisme (pers) di Indonesia. Produk koran yang memberikan tone baru pada dunia jurnalistik nasional. Awal tahun 2023, 1 Januari tak lagi membaca korang sambil minum kopi hangat pagi. Koran ini bertransformasi ke ranah digital secara kaffah. Walaupun hakekatnya keberadaan media online miliknya sudah lahir dua tahun koran berjalan tahun 1995. Eksistensinya, terjadi pada HPN di Sumatra Barat tahun 2018, portal koran itu mendapat pengakuan sebagai pelopor media online di Indonesia. Era Orde Baru yang represif, menjadikan media pers ‘irit bicara’ tapi harus berkarya. Kehadiran koran (pers) sebagai wasilah media lisan menampilkan karya pers menjadi corong rakyat (terutama umat) mencerahkah kondisi negeri sekaligus menasehatkan penguasa offside. Tapi, semua itu berimplikasi plus minus bagi jurnalis maupun perusahaan persnya. Saya berkesempatan bergabung dengan koran dan media online nasional tersebut, sebagai bagian ujung pena berkiprah pada masa dasawarsa pertama. Kendati profesi tersebut sudah saya dahului di beberapa koran ber-SIUUP sebelumnya. Nuansa di koran nasional ini terasa berbeda dibandingkan dengan media sebelumnya. Aura redaksinya yang nyaman tapi terkadang sempat “gerah” juga. Banyak hal yang dipetik, baik dalam konsep penentuan berita dengan pertimbangan matang, apalagi style penyajian berita/feature yang ‘ramah’ di mata saat dibaca sambil ngopi. Termasuk wajah korannya yang tampil progresif setiap pagi. Apalagi, bila ada peristiwa yang menyedot mata publik. Intinya, tak membosankan. Awak korannya pun beragam latar belakang, membuat aroma racikan berita reporter masing-masing redaktur berbeda. Kadang yang jelek jadi bagus, kadang yang bagus makin lebih bagus lagi. Ini yang menjadi poin ketika bisa menerima manfaat belajar dari para senior di koran berbasis Islam tersebut. Ketika bergabung, saya tidak sempat menjadi “kader” langsung dari pemred perdananya Pak Parni Hadi. Meski di luar saya sering bertemu dan mengobrol pada suatu acara dan kunjungan liputan di daerah. Tapi, saya mendapat kisah-kisah menarik dari para senior saat berada di Jakarta dibawah komando Pak PH, panggilannya. Dari sekian cerita itu, intinya, PH memang orang pers dan mengerti dunia wartawan suka dan dukanya di lapangan. Artinya, Pak PH mengerti bila urusan berita lebih dinomorsatukan dibandingkan yang lainnya, tapi tidak sembrono. Di koran ini paling lama bertahan. Biasanya, tak betah alias bosan hijrah ke media lain. Mungkin efek dari jiwa dan karsa muda saat itu, maklum. Menjaga nama baik koran ini di luar, menjadi komitmen. Padahal, pengaruh dari eksternal sangat banyak, namun rawan (bakal) menikam diri pribadi, termasuk keluarga. Sebab profesi ini sangat riskan dengan keamanan dan keselamatan. Tapi, (selama ini) alhamdulillah aman dan lancar. Terima kasih koranku Republika, terima kasih seniorku. Meski koran telah terkubur, namun transformasi jurnalisme yang ditularkan sangat berfaedah sampai saat ini dan kelak. Tabik…. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Hegemoni Media Era Disrupsi