Oleh Mursalin Yasland SETELAH membaca koran di hotel dekat Al Aqsa, Palestina, seorang penulis buku best seller 1990-an di Jakarta miris. “Sedih banget baca koran itu,” kata penulis tersebut, Rabu (11/10/2023). Dia bercerita setelah membaca koran israel itu enam tahun lalu, terbukti hari ini. Koran itu menulis: “Israel itu negara kuat, bangsa Arab akan realistis dengan kenyataan itu. Mereka akan berdiplomatik resmi dengan israel. Raja-raja Arab punya banyak musuh di dalam negerinya. Mereka lebih senang berteman dengan israel. Mereka lebih menganggap israel adalah teman. Hampir semua negara Arab sudah lama menjalin hubungan diam-diam dengan israel. Nanti akan terbuka.” Dimana negara resmi Palestina? Dimana negara-negara Arab yang tergabung dalam OKI? Kenapa hanya Hamas? Kemana larinya militer Palestina? Sedang apa militer Arab? Bagaimana Indonesia, berdiri di sebelah mana kita? Mereka memicingkan mata. Mereka diam dan membisu, bertahun-tahun lamanya. Ini masalah kita semua, masalah dunia, termasuk Indonesia, negara mayoritas Muslim. Bukankah di awal Prembule UUD 1945 disebutkan: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka sepanjang itulah bangsa Indonesia berdiri menentang penjajah Israel.” – Sukarno, presiden pertama Indonesia Indonesia, memang sejak lama tidak mengakui kemerdekaan Israel yang diproklamirkan Presiden Israel Chaim Weizmann dan Perdana Menteri David Ben-Gurion pada 14 Mei 1948. Alasannya jelas, Israel telah merampas tanah Palestina. Sikap Indonesia ini ditegaskan dengan tidak membuka hubungan diplomatik dengan israel. Bertahun-tahun lamanya. “Kita harus bangga bahwa kita adalah satu bangsa yang konsekwen terus , bukan saja berjiwa kemerdekaan, bukan saja berjiwa antiimprialisme, tetapi juga konsekwen terus berjuang menentang imprialisme. Itulah pula sebabnya kita tidak mau mengakui israel,” kata Presiden Sukarno pada pidato HUT ke-21 RI, pada tahun 1966. Sebelumya, pada tahun 1962, Sukarno dengan tegas menyatakan, “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka sepanjang itulah bangsa Indonesia berdiri menentang penjajah Israel.” Masalah Palestina bukan masalah muslim lokal semata, tapi masalah kemanusiaan dan keadilan. Negeri itu sudah dirampas oleh tangan-tangan kotor bergelimang kediktatoran. Kembalikan haknya, kembalikan Tanah Airnya. Perampasan tanah Palestina dan juga Gaza (Tepi Barat) oleh zionis israel sejak tahun 1948, seharusnya mengembalikan nurani bangsa dunia, bahwa penjajahan di dunia harus dihapuskan. Sedangkan kita yang jauh, tak berdaya dan tak kuasa hanya bisa berdoa, berdoa, dan terus berdoa. Bukan malah sebaliknya; bergabung. Naudzubillahiminzhalik. *) Kemiling, Rabu, 26 Rabiul Awal 1445/11 Oktober 2023. (Tulisan dirilis ulang) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Kopi tanpa Asbak Peluang Media Cetak di Era Digitalisasi?