SUMATRALINK.ID – Pencarian-pencarian dengan gigih menurut keterangan-keterangan yang dikumpulkan (wartawan), setelah peristiwa penculikan para jenderal menjelang Subuh, tanggal 1 Oktober (1965) yang lalu. Pengejaran terhadap kaum kontra revolusioner yang diduga menuju ke Pangkalan Udara Halim (Perdanakusuma) dimulai. Setelah pangkalan itu dikuasai, hari berikutnya diadakan observasi ke daerah Lubang Buaya. Dari daerah Lubang Buaya, Pondok Gede, di Kecamatan Pasar Rebo telah diterima info bahwa tempat itu telah dipakai selama tiga bulan sebagai tempat latihan sukarelawan/sukarelawati yang diselenggarakan oleh AURI. Di sebelah selatan, di belakang kampung yang dilindungi kebun karet, biasa dipergunakan untuk latihan menembak. Ketika wartawan Alat Revolusi berkesempatan mengunjungi daerah itu bersama Panglima Kostrad, sewaktu penggalian jenazah-jenazah jenderal TNI yang menjadi korban kontra revolusioner, bekas-bekas papan sasaran masih banyak kedapatan. Kertas-kertas yang dipakai untuk lingkaran-lingkaran papan sasaran itu bagi masyarakat umum di Jakarta bukan barang baru. Jelas masih dapat dibaca pada kertas-kertas itu slogan-slogan bombastis yang menyerukan ofensif revolusioner dibidang kebudayaan dan lain-lain lagi. Pada hari Sabtu pasukan RPKAD telah dapat menguasai daerah Lubang Buaya, yang termasuk daerah AURI Lapangan Udara Halim. Tetapi ketika pasukan RPKAD yang kecil jumlahnya mengadakan test case untuk memakai daerah tersebut tampak “sukarelawan/sukarelawati” maupun yang ber-uniform hijau lainnya telah membayangi dengan gerakan merayap secara militer yang baik latihannya. Karena mengetahui jumlah pengacau kontra revolusi lebih banyak, maka pasukan kecil ini menarik diri. Baru kemudian dengan kekuatan yang seimbang pasukan RPKAD dengan mudah dapat merebut daerah tersebut. Dengan petunjuk seorang di situ, mulai diciumlah perbuatan keji kaum kontra revolusi. Di belakang sebelah rumah yang mungkin juga merupakan sebuah sekolah kedapatan sebuah sumur lama (mati). Garis tengah sumur itu kurang lebih tiga perempat meter, sedangkan dalamnya 12 meter. Sumur itulah yang dijadikan tempat orang-orang biadab “Gerakan 30 September” itu untuk mengubur tujuh jenazah-jenazah Pahlawan Revolusi. Lubang itu ditimbuni dedaunan, sampah, kain-kain warna-warni, gedebong-gedebong pisang dan ditutup dengan tanah, sehingga dari luar tidak mencurigakan. Dikabarkan, bahwa tidak kurang tiga buah lubang yang serupa, yang dimaksudkan hanya untuk mengacaukan penelitian kita. Tapi berkat kerja keras, lubang sumur yang sebenarnya ditemukan hari Minggu. Penggalian dimulai hari Minggu pukul 13.00. Tapi karena kesulitan teknis, usaha itu terhenti, baru dilanjutkan hari Senin kemarin dengan mempergunakan gas masker dan peralatan derek lainnya. Demikianlah dari lubang itu, pasukan Pengintau Para Amphibi mengangkat jenderal-jenderal mereka yang mereka cintai. Pasti setiap orang akan mengutuk mereka, kaum kontra revolusioner atas perbuatan yang biadab itu. Para jenazah jelas berbalur bekas-bekas siksaan, ada yang diikat tangannya, ada yang sudah tidak jelas wajahnya, bahkan ada yang hilang tanda kelaminnya atau matanya. Dan jelas pula pada wajah anak buah pasukan RPKAD, KKO, Pengintau Para Amphibi bayangan kesedihan dan tekad untuk menebus kekejaman yang biadab itu. Seorang prajurit berkata kepada wartawan; “Kalau seorang jenderal dibuat begitu, apalagi kami. Biar kami selesaikan mereka, Pak,” seraya prajurit itu menepuk grand-nya. Dari timbunan kertas yang dapat wartawan kumpulkan, terdapat catatan-catatan yang menunjukkan seolah-olah ke kampung itu telah datang seorang aktivis yang masih muda. Dan di kampung itu terdapat guru yang selain mengajar membaca, rupanya telah pula memberi pengajaran-pengajaran politik/ideologi suatu golongan. Dari beberapa sobekan kertas yang telah dibakar dapat diikuti kegiatan kampung itu yang menjadi pusat apa yang dinamakan “Sukwan/Sukwati”. Ada catatan-catatan lain yang menunjukkan bahwa seorang “Komandan” memerintahkan agar ditambah anak buahnya atau permintaan senjata-senjata seperti Bren, Tjung, 12,7, dan FN. Selain itu, terdapat pula perhitungan-perhitungan keperluan konsumsi per kompi, per batalyon dan surat-surat permohonan meminta perlengkapan-perlengkapan itu. Bahkan di sebuah kertas terdaftar nomor-nomor kode mobil-mobil CD. Di rumah guru yang disebut tadi, selain buku-buku sekolah, terdapat sejumlah besar majalah dari luar negeri. Selain itu, di rumah guru yang bernama A itu, yang sumurnya jadi lubang menimbun jenazah itu telah ditemukan kotak-kotak peluru, mantel, mesin stensil, dan buku-buku kepartaian, koperasi konsumsi rakyat dan lain-lainnya. Sekitar penembakan jenderal-jenderal dan perwira utama TNI/AD itu, diduga dilakukan dari jarak kurang lebih hanya 6 meter di pinggir lubang sumur itu. Bukti-bukti selongsong peluru sekitar berjarak 6 meter dari lubang itu masih terdapat ketika Mayjen Soeharto sendiri ke Lubang Buaya itu. Dari sebuah cabikan kertas dan bakaran dapat dibaca bahwa seolah-olah sukawan/sukwati dengan code Cdt=Cader, disitu harus sudah siap-siap menghadapi sesuatu pada tanggal 28 September yang lalu. Dari beberapa cabikan kertas lainnya kita lihat ada hubungan surat menyurat antara daerah pinggiran kota itu dengan pusat kota. Dan latihan apa yang disebut “sukarelawan” ataupun “sukarelawati” telah berjalan kurang lebih tiga bulan. Dan tempat mereka berlatih baik baris berbaris, maupun menembak terdapat di belakang kampung berupa suatu lapangan di sebelah selatan. Sehingga dari bukti-bukti yang didapat dilihat dari kejadian penculikan oleh petualangan “Gerakan 30 September” kelihatan bahwa tujuan sejak semula telah ditetapkan, yakni Lubang Buaya. Dan rencana jahat itu telah diatur begitu rapih mulai dari bawah sampai ke atas. Ketika daerah itu dikuasai oleh Pasukan RPKAD dan KKO hari Sabtu yang lalu, telah disita dua bus PPD di kampung, dua bus PPD di lapangan, sebuah bus bank dan kendaraan motor. Segala bahan-bahan bukti dan sitaan telah berada di tangan yang berwajib. (*) Editor: Mursalin Yasland, Disadur dari buku: Fakta-fakta Persoalan Sekitar “Gerakan 30 September”, Pusat Penerangan AD, Percetakan PN Balai Pustaka, 1965). Facebook WhatsApp Twitter/X Threads Navigasi pos Seusai Proklamasi, PPKI Sahkan UUD 1945 dan Presiden/Wapres