SUMATRALINK.ID, Palembang – Seperti dua sisi mata uang; itulah jiwa Bangun Parahuman Lubis, akrab disapa sejawat juniornya Bang Lubis. Dunia intelektual dan dunia kepenulisan sejak lama menyublim belahan jiwanya ketika menapaki jejak hidup di alam fana ini. Setamat kuliah di Jakarta, hingga memasuki usia lansia, lebih dari separuh hidupnya Bangun Lubis bergelut dengan profesi dosen dan wartawan. Dua status — yang boleh dikata — saling berkait, saling mengisi, dan saling bermetafora. Hijrah ke Palembang, ia diterima sebagai dosen. Dunia awal jejak karirnya. Ia tak melupakan jasa Ismail Djalili, pemilik yayasan pendiri yang juga ketua Stisipol Candradimuka, Palembang. “Saya tidak akan melupakan kebaikan hati bapak Drs Haji Ismail Djalili (Alm),” kata Bangun Lubis, seperti ditulisnya dalam Buku Wartawan Hebat Sumatera Selatan, 2019. Wasilah tokoh pers Sumatra Selatan (Sumsel) itu, Bangun Lubis, putra kelahiran Kotanopan, Maindailing Natal, Sumatra Utara itu menjajaki dunia wartawan. Sejak September 1988, dunia jurnalistik Bangun Lubis terpaut di koran Suara Rakyat Semesta (SRS). Pada zaman itu, koran yang memiliki Surat Izin Penerbitan Pers (SIUPP) dari Departemen Penerangan sangat minim. Koran SRS yang terbit rutin berkala menjadi andalan para penulis, siswa, guru, dosen, seniman, dan berbagai profesi untuk menumpahkan idealismenya dalam karya tulisnya. Di koran yang bermarkas di Jalan Indra No 8 Kambang Iwak, Talangsemut, Palembang, Jiwa jurnalistik Bangun Lubis ditempa dua tokoh pers Sumsel, selain Ismail Djalili, yakni Amin Sarwoko (Pemred) dan Asdit Abdullah (Pemilik). Koran SRS ini pernah bercokol anak-anak muda yang enerjik dan berwawasan progresif. Seperti Frans Djohansyah dikenal Fj Adjong, Connie Sema, dan Ismetri Radjab. Ketiga wartawan tersebut sudah tiada. Fj Adjong dan Ismetri Radjab terakhir wartawan Sriwijaya Post, dan Connie Sema, koresponden RCTI wilayah Lampung. Hijrah Membawa Berkah Kata hijrah, seperti sudah melekat pada diri Bangun Lubis. Setelah menempa di koran SRS, ia pindah ke koran Harian Sumatera Express di Jl Merdeka No. 1 Palembang. Kemudian hijrah lagi ke koran nasional Suara Pembaruan, Jakarta. Banyak pengalaman suka dan duka yang tertoreh selama menjalani dunia kewartawanan di berbagai media, hingga ia ‘pensiun’ dari koran Suara Pembaruan. Berita demi berita tertuang dalam tulisan di berbagai media ia rangkum dalam sebuah buku berjudul Batang Tubuh, sebuah potret perjalanan jurnalistik yang reflektif Bangun Lubis di Sumsel. Selain wartawan, dunia kependidikan yang ia jalani sebagai dosen di Stisipol tetap berlanjut, meski di satu waktu salah salah satu harus dikorbankan. Dosen mengajar tetap di ruangan, sedangan wartawan bekerja ekstra di lapangan. Bangun Lubis (Suara Pembaruan), Mad Ridwan (Republika), dan Mursalin Yasland (SRS) mewawancarai Kapolri Jenderal Dibyo Widodo di Lapangan Upacara Stadion Bumi Sriwijaya, 1995. (Foto: Dok. SRS/Icuk M Sakir) Mengarungi dunia jurnalistik dapat mengasah kepekaan sosial dan keberanian intelektualnya. Sebagai wartawan, berhadapan langsung dengan realitas masyarakat, dinamika politik, dan berbagai persoalan publik. Pengalaman panjang ini membentuk sikapnya yang hati-hati dalam menulis, tidak tergesa-gesa dalam menyimpulkan, dan selalu berusaha adil dalam memandang persoalan. “Jurnalistik adalah amanah untuk menyampaikan kebenaran, bukan sekadar mengejar sensasi,” kata Bangun Lubis, seperti dituturkannya kepada Sumatralink.id, Rabu (7/1/2026). Sebagai wartawan, ia banyak mengenal dan dekat dengan tokoh-tokoh daerah dan nasional. Dalam hal ini, Bangun Lubis menempatkan tokoh bukan sekadar sebagai figur kekuasaan, melainkan sebagai bagian dari sejarah sosial yang patut dicatat dan dikaji secara kritis. Bangun Lubis yang kini menginjak usia 65 tahun, masih bergelut dengan profesi dosen dan wartawan. Ia masih mengajar mahasiswa, dan ia juga masih menulis di media online yang dimilikinya. Dan juga menulis buku dan mengelola media interen. Berdakwah dengan Tulisan Seiring waktu, usia tak dapat dimanipulasi dan dikhianati. Jiwa muda tak lagi melekat saat waktu lampau lagi heroiknya. Bertolak dari kampung halaman yang menjunjung tinggi nilai keislaman, kiprah kepenulisan Bangun Lubis mulai mengarahkan tulisannya sebagai dakwah Islam, jalan menuju kebenaran. Berbagai hal ia buat tulisan lepas di berbagai media online dan buku tentang dakwah Islam. Selain itu, ia sendiri sudah sejak lama menunaikan haji dan umroh, saatnya pada sisa usianya mengabdi kepada agama Islam. Memasuki usia matang, Bangun tidak berhenti berkarya dalam profesi dosen dan wartawan. Ia justru semakin selektif dan jernih dalam menulis berbagai hal terutama dalam kemaslahatan umat. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Tangan Dingin Imron Telurkan Juara Dunia