SUMATRALINK.ID – Kalau seseorang dapat membangun rumah di dunia saja sudah bahagia, apalagi kalau bisa membangun rumah di surga. Tujuan hidup manusia tidak lain agar bisa masuk surga dengan segala kenikmatannya. Namun, untuk menggapai surga tidak semudah membalikkan tangan, tapi membutuhkan pengorbanan. Dari sekian banyak ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala (SWT), ada cara mudah dan ringan, murah dan menarik untuk dapat membangun rumah di surga. Semua umat Muslim dapat melakukannya meski dalam kondisi tidak sehat. Tentu, tinggal lagi kemauan (ghiroh) seseorang tersebut untuk menjalaninya. Dalam sehari semalam terdapat kewajiban bagi seorang Muslim untuk melaksanakan shalat lima waktu. Nah, di dalam shalat lima waktu itu baik sebelum (qobla) dan sesudahnya (ba’da) terdapat shalat sunnah, yang disebut shalat rawatib. Shalat rawatib ini ada dua yakni sunnah mu’akkadah (sangat dianjurkan), dan sunnah ghairu mu’akkadah (dianjurkan saja). Banyak orang yang melalaikan atau juga meremehkan shalat sunnah rawatib. Tidak saja bagi makmum, kadang terlihat beberapa iman shalat wajib di masjid atau musholla juga tidak terlihat melaksanakan shalat sunnah rawatib terutama mu’akkadah, apalagi yang ghairu mu’akkadah. Berbaik sangka saja, mungkin mereka tidak mengetahui keutamaan shalat sunnah rawatib khususnya mu’akkadah. Mudah-mudahan juga mereka mengerjakan shalat sunnah rawatib di rumah, sesuai sunnah, sehingga tidak terlihat di masjid. Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam (SAW) bersabda, “Siapa yang melaksanakan shalat dalam sehari semalam sebanyak 12 rakaat, maka akan dibangun untuknya sebuah rumah di surga. Ke-12 rakaat itu adalah 4 rakaat sebelum dhuhur dan 2 rakaat setelahnya, 2 rakaat setelah maghrib, 2 rakaat setelah isya’, dan 2 rakaat sebelum subuh,” (HR. Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad). Pada Bulan Ramadhan, biasanya jamaah selesai shalat Isya, duduk santai menunggu waktu shalat tarawih yang sebelumnya diisi dengan kultum ustadz. Namun, banyak yang tidak mengerjakan shalat rawatib mu’akkadah ba’da Isya’. Bahkan, mereka lebih mementingkan shalat sunnah tarawih yang notabene tidak ditekankan atau diutamakan. Padahal, bila jamaah mengetahui keutamaan shalat ba’da Isya’ ini seperti hadist Nabi SAW tadi, maka sangat merugi dan sayang untuk ditinggalkan hanya 2 rakaat saja, pendek, ringan, dan tentunya mudah dilaksanakan sebelum shalat tarawih. Isi dari sabda Nabi SAW, bila melaksanakan 12 rakaat secara rutin yang mengiringi lima shalat fardhu tersebut ganjarannya akan dibangunkan rumah di surga. Terkait rumah di surga, siapa yang tidak senang dan gembira dengan janji Allah SWT tersebut. Artinya, surga telah menanti umatnya di surga dengan rumah yang spesial. Bila membangun rumah di dunia saja dengan berbagai tipe dan luas, juga disain dan modifikasinya, banyak mata manusia memandang indah dan bagus. Bayangkan bila rumah yang Allah SWT buat di surga bagi siapa saja yang melaksanakan rutin shalat rawatib mu’akkadah 12 rakaat, tentu belum pernah dilihat oleh penduduk dunia kondisinya. Tapi, yang jelas berbeda dengan rumah di dunia. Shalat fardhu sebagai kewajiban umat Muslim, mulai dari baligh, artinya shalat tersebut standar seorang yang mengaku muslim, sedangkan shalat sunnah rawatib mulai agak spesial yang tidak semua dapat menunaikannya. Semoga kita semua semampu mungkin mengerjakan shalat-shalat rawatib terutama shalat 12 rakaat sehari semalam. Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Adakah Orang Shalat Semalam Suntuk? Ketika Shalat Khusyuk, Anak Panah Melesat Tak Terasa