SUMATRALINK.ID (REPUBLIKA NETWORK) – Tidak ada angin tidak ada badai, tiba-tiba Mohammad Isa, eks gubernur Sumatra Selatan (Sumsel) kedua ditangkap. Diduga terkait dengan PKI, ia dijebloskan ke penjara di Kantor CPM Jl Merdeka Kota Palembang, beberapa bulan. M Isa dikenal dokter gigi lulusan Stovit (School tot Opleiding van Indische Tandartsen) Surabaya, tahun 1936. Setelah lulus, lelaki kelahiran Binjai, Sumatra Utara, 4 Juni 1909 tersebut mengabdikan profesinya sebagai dokter gigi di Palembang sekitar tahun 1938-1945. Karirnya terus menanjak. Setelah memegang beberapa jabatan negara dan perusahaan perminyakan, ia dipercaya sebagai residen Palembang pada Mei 1946 – Oktober 1946. Dua bulan dari itu, ia menjadi gubernur muda Provinsi Sumsel, kemudian menjabat Gubernur Provinsi Sumsel pada Mei 1948 – Januari 1950 menggantikan Adnan Kapau (AK) Gani. Karir dan perjuangan M Isa setelah sekolah dan kuliah banyak dijalaninya di Palembang, Sumsel. Tak heran, meski bukan kelahiran Palembang dan lama merantau di Jawa, logat atau cengkok Bahasa Palembang M Isa sangat fasih dalam pergaulan sehari-hari. Selama masa perjuangan dan menjalani amanah rakyat, banyak kalangan menyerupakan duet AK Gani – M Isa dalam memimpin daerah di Palembang, Sumsel, seperti duet Sukarno – Hatta. AK Gani mirip gaya Sukarno, gegap gempita yang langsung pada sasaran, sedangkan M Isa bertindak dan berlaku layaknya Mohammad Hatta, cenderung akademis yang teduh tetapi tegas. Setelah meletusnya Gerakan 30 September 1965 atau Gestapu (G30S/PKI), banyak petinggi di negeri ini ditangkap, termasuk M Isa, waktu itus sudah mantan gubernur Sumsel. Ia ditahan di penjara Kantor CPM Jl Merdeka sebelah Kantor Ledeng (menara air/Watertoren, kini kantor Walikota Palembang). Pasca-G30S/PKI tersebut, situasi dan kondisi negara saat itu sangat genting dan ruwet. Semua orang saling curiga dan mencurigai karena tidak tahu siapa lawan dan siapa kawan. Bila nasib baik bisa bebas, tapi nasib buruk bisa ditahan dan dituding dengan segala macam dalih terkait PKI tanpa bukti yang jelas, apalagi bila dekat atau dianggap dekat dengan Bung Karno, maka akan diciduk. Menurut Prof Dr Priyatna Abdurrasyid, sahabat M Isa terakhir jabatan wakil Jaksa Agung RI (1966-1971), M Isa pernah mengeluhkan nasibnya kepadanya terkait ia diinterogasi dan dikait-kaitkan dengan peristiwa berdara yang menelan tujuh Pahlawan Revolusi. Atas keluhan M Isa tersebut, Priyatna prihatin nasibnya. Ia menghubungi Brigjen TNI Alamsyah Ratuperwira Negara (wakil Asisten Menteri/Panglima Angkatan Darat) dan juga Brigjen TNI Ishak Djuarsa (yang belum lama diangkat menjadi Panglima Tentara Teritorial II/Sriwijaya. “Saya yakinkan mereka (berdua) bahwa Pak Isa sama sekali tidak ada kaitannya dengan organisasi terlarang seperti yang dituduhkan. Beliau memang dekat dengan Bung Karno, seorang tokoh PNI di masa itu,” tulis Priyatna Abdurrasyid dalam testimoninya di Buku Mohammad Isa, Pejuang Kemerdekaan yang Visioner, 2016. Usut punya usut, seperti penuturan Priyatna, penangkapan M Isa yang dikait-kaitkan dengan gerakan terlarang tersebut dikarenakan ada seorang yang berpangkat kolonel sangat gencar sekali ingin memasukkan M Isa ke dalam penjara. “Sang kolonel ini entah kenapa begitu bersemangat ingin menjadikan Pak Isa tersangkut kasus G30S/PKI. Padahal, Panglima T.T. II/Sriwijaya Brigjen Ishak Djuarsa sudah memebrikan instruksi bahwa Pak Isa bersih dan tidak tersangkut organisasi terlarang,” kata Priyatna, yang pernah bertugas di Batalyon 2 Siliwangi kemudian hijrah tugas ke Sumsel. Setelah beberapa bulan di penjara Kantor CPM Palembang, M Isa dibebaskan, karena memang tidak bersalah dan tidak tersangkut sama sekali dalam gerakan terlarang tersebut. “Saya sangat senang, beliau bisa berkumpul lagi dengan keluarganya,” ujar Priyatna yang sangat dekat dengan M Isa tatkala bertugas di Front Batun. M Isa, selain juga pejuang pertempuran “Perang Lima Hari Lima Malam” di Palembang, ia juga dikenal perintis Universitas Sriwijaya (Unsri). Menurut Awi Aman, sahabat M Isa yang pernah menjabat ketua Gabungan Pengusaha Karet Sumsel, dokter M Isa banyak membantu pendirian Unsri, bahkan sebelum Unsri terbentuk masih bernama Sjakhyakirti, M Isa banyak membantu. “Saat Unsri diresmikan oleh Bung Karno pada tahun 1960, saya hadir dan mengikuti upacara sebagai mahasiswa baru. Saya masih ingat Bung Karno duduk dekat dokter Mohammad Isa, didampingi oleh pejabat militer dan sipil,” kata Awi Aman dalam buku itu. Namun, gegap gempita berdirinya Unsri yang dipimpin dr M Isa beberapa tahun sempat pudar. Setelah peristiwa G30S/PKI meletus, kampus Unsri sepi. Kegiatan perkuliahan sempat vakum beberpaa lama. Mahasiswanya banyak yang demo, dan selain mahasiswa juga beberapa dosen Unsri juga sempat “diamankan”. “Dokter M Isa selaku Rektor Unsri tak luput dari aksi itu. Beliau pun sempat ‘diamankan’,” kata Awi Aman, yang juga mahasiswa M Isa saat perkuliahan perdana di Fakultas Ekonomi Unsri. Setelah ditahan, ia tidak pernah lagi mendengar kabar tentang M Isa. Rasa pedih dan pilu juga dirasakan Leila Z Rachmantio, anak kedua M Isa. Leila sejak kuliah di ITB, mendapat beasiswa kuliah di Jerman. Selama 16 tahun berada di negeri orang, ia jarang sekali bertemu orang tuanya di Palembang. Terkabar ayahnya ditahan dan meringkuk di penjara, karena dituduh terkait G30S/PKI, ia merasa sedih dan tak bisa berbuat apa-apa, apalagi di negeri orang, yang kala itu sangat sulit transportasi udara. “Saya sedih mendengar kabar itu, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Saya hanya berdoa supaya beliau cepat keluar dari tahanan,” kata Leila. Ia mengatakan, berkat perjuangan rekan-rekan ayahnya semasa revolusi dulu, akhirnya M Isa dapat menghirup udara bebas. Ayahnya langsung dibawa Ibu (Siti Ramelan) ke Jakarta. Tak kemudian, M Isa dan istrinya Siti Ramelan mengunjungi putrinya di Jerman. “Betapa haru bercampur gembira bisa bertemu dengan mereka. Apalagi mereka baru saja melewati masa-masa sulit. Ayah terlihat tegar dan saya melihat beliau sosok yang tabah bila menghadapi berbagai kesulitan,” tutur Leila yang kembali ke Indonesia tahun 1972. Saat itu, ia dan keluarganya menetap di Jl Hang Tua Raya, Jakarta. M Isa sudah tidak aktif lagi pemerintahan dan politik. M Isa lebih banyak bermain dengan cucu-cucunya dan menekuni agama dan bergaul dengan alim ulama serta tokoh-tokoh Islam di Indonesia. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Mobilnya Ditembak, Belanda NICA Coba Bunuh PM Sjahrir Menolak Komunis Masuk Kabinet, Hatta Mundur dari Wapres