Nian Poloan, mantan jurnalis. (Foto: Dokrpi)

SUMATRALINK.ID – Oleh Nian Poloan (*

Bencana alam yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat, mengingatkan saya pada bencana tsunami pada Desember 2004 lalu. Ini nggak bisa saya lupakan, karena saya ikut liputan dan menyaksikan secara langsung bencana terbesar nasional tersebut.

Ketika bencana tsunami di Aceh terjadi, saya baru berhasil masuk pada hari kedua. Itu pun setelah penerbangan dari Medan ke Banda Aceh, dibuka oleh pesawat Garuda. Saya yang sudah memesan tiket dari hari pertama bencana, berhasil masuk dalam penerbangan pertama itu.

Tak ada yang berbeda, ketika saya menjalani penerbangan pascabencana tsunami itu. Hanya saja, penerbangan yang semula dijadwalkan pada pukul 13.00, delay menjadi pukul 16.00. Alasannya, bandara tujuan belum siap betul didarati pesawat. Selebihnya tak ada informasi lain.

Seperti biasa pula, di dalam pesawat saya mulai merancang apa yang akan dilakukan saat sampai lokasi bencana. Meninjau lokasi pasti. Wawancara pasti. Mencari nara sumber, juga direncanakan. Sampai kepada pengiriman berita ke kantor pusat di Jakarta.

Liputan bencana alam memang bukan yang pertama saya lakukan. Jadi hal-hal yang normatif, sudah biasa saya lakukan. Termasuk kemungkinan terburuk, nginep di lapangan. Semuanya sudah masuk dalam benak kerja liputan.

Setelah satu jam perjalanan dari Medan, saya sudah masuk di daerah udara Aceh. Ya, Allah…, dari atas saya menyaksikan pemandangan ini: air yang menutupi atap rumah dan pepohonan. Hanya pohon kelapa yang, karena tingginya, masih tersisa.

Itu sangat berbeda dengan pemandangan dari udara pada waktu sebelumnya. Rumah dan pepohonan yang menghijau, tak lagi terlihat. Berganti dengan genangan air berwarna coklat.

Makin dekat mendarat di Bandara Iskandar Muda , pemandangan yang menakutkan itu makin jelas terlihat. Sampai kemudian terhalang dengan oleh bangunan bandara saat pesawat mendarat.

Aku bergegas ke luar pesawat, tak sabar melihat langsung apa yang terjadi di daratan Aceh. Sebuah tas kabin yang tak begitu berat, melancarkan saya keluar pesawat. Maklum, saya hanya membawa beberapa potong pakaian untuk liputan dua hari.

Tapi, apa saya saksikan di luar bandara, diluar dari dugaan. Apalagi bandara hanya diterangi sedikit lampu. Rasa tak enak mulai menyelimuti pikiran saya. Apalagi setelah tak ada hiruk-pikuk bandara menyambut kami.

Ya, kendaraan apa pun tak nampak. Sekitar bandara mulai terlihat temaram karena malam akan segera menggantikannya. Saya tak tahu harus berbuat apa. Apalagi ketika mendapat informasi tak ada kenderaan menghubungkan bandara ke kota Banda Aceh.

Di tengah kebingungan itu, melintas mobil pikap bak terbuka. “Saya numpang” tanpa tahu mobil itu mau nuju ke mana. Di sela-sela itu, saya merasakan goncangan gempa terjadi beberapa kali.

Ternyata mobil tak sampai ke Banda Aceh. Di sebuah persimpangan, beberapa kilometer dari kota, saya dengan beberapa penumpang lain diturunkan. Ketika turun itulah saya menyaksikan pemandangan yang menyesakkan itu: mayat bergelimpangan dengan kondisi hangus.

Ya, gelimpangan mayat itulah yang membuat langkah ku terhenti. Apalagi setelah kutahu semua infrastruktur lumpuh. Hotel, bank, mesin atm, resto dan kedai nasi, tak menunjukkan kehidupan.

Nyaliku semakin ciut, ketika seorang anak muda bilang: “Bapak ngapain datang ke mari. Semua orang di sini mau ke luar,” katanya.

Suasana kian mencekam, karena listrik mati dan gempa masih susul-menyusul.

Langkahku gontai, menyusuri celah-celah mayat. Tapi tak tahu harus berbuat apa.

Rasa takut makin menusuk. Apalagi tak tahu harus menginap di mana. Perut makin menjerit. Sisa minuman botol dari Medan pun sudah habis.

Hah, mau apa aku di sini? Akses komunikasi semua mati. Di tengah keterbatasan itu, akhirnya aku memutuskan balik ke bandara. Alasan ku, di sana masih ada kehidupan. Juga lebih gampang kalau balik ke Medan.

Tapi, untuk ke bandara yang jaraknya 15 km, aku harus berjalan kaki. Itu aku lakukan di tengah kegelapan dan goncangan gempa. Ketakutan efek gempa begitu menghantuiku.

Akhirnya saya sampai di bandara. Ramai. Selain pengungsi, ada calon penumpang yang ingin ke luar dari Aceh. Penerangan yang terbatas, tak mampu menghalangi wajah cemas mereka. Termasuk saya.

Sampai di situ, saya belum bisa memutuskan apa yang mau dilakukan. Tapi tak lama saya memutuskan balik ke Medan malam itu juga. Tapi, “Astaghfirullah…,” ternyata tak ada uang di kantong. Sebelum berangkat saya memang merencanakan ambil uang di ATM. Tapi, sial, semua mesin STM ditelan tsunami.

Merasa terdesak, saya dekati seorang laki beratribut ASN berdiri antri menunggu masuk ke bandara. “Boleh saya pinjam uang, nanti sampai di Medan saya kembalikan. Saya kebetulan nggak ada bawa uang tunai,” kataku.

Akhirnya saya bisa memiliki boarding pass yang dicetak manual oleh maskapai Garuda. Saya tak peduli apakah boarding pass itu resmi atau tidak. Yang penting saya bisa balik ke Medan meninggalkan “neraka” Aceh.

Kenangan itu kembali menerawang ketika bencana banjir dan longsor menghajar Sumatra. Tak terasa air mataku meleleh pelan. Apalagi masa lima hari pascabanjir, saya sempat kehilangan kontak dengan anak dan cucu yang bermukim di Langsa, Aceh Timur.

Boleh jadi dampak kerusakan akibat banjir di Sumatra lebih parah, meski korban jiwa masih tidak sebesar tsunami. Ini membuat recovery atas bencana ini akan lebih lama dan memakan biaya lebih besar.

Semua itu bisa disaksikan lewat liputan yang dilakukan jurnalis di media massa atau medsos pascabencana. Dari jauh, kami hanya bisa berdoa dan berharap, semoga rekan jurnalis tetap semangat dan sehat dalam melakukan tugasnya.

Kami sangat menghargai tugas kalian para jurnalis. Bekerjalah terus demi tugas dan kemanusiaan. Kami tetap berharap kehadiranmu. Termasuk mengawal semua langkah kebijakan pemerintah dalam menangani musibah besar ini.

Teruslah bekerja. Sebab, posisimu bagai penyambung lidah rakyat. Tanpa jurnalis kami tak banyak tahu apa yang terjadi di sana. Engkau memang keren.***

*) Penulis, mantan jurnalis Tempo dan Republika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *