SUMATRALINK.ID – Apa yang tidak mungkin di zaman sekarang, tapi menjadi mungkin di zaman dulu. Seperti Dzulqarnain membangun dinding kokoh dari campuran biji besi dan tembaga setinggi puncak dua gunung di masanya. Siapa Dzulqarnain? Para mufassir dan sejarawan berbeda pendapat tentang sosok Dzulqarnain. Tidak ada yang shohih untuk menjelaskan siapa Dzulqarnain. Sayyid Quthb mengatakan, nash-nash sama sekali tidak menyebutkan kepribadian Dzulqarnain. Menurut dia, bukan maksud melihat sejarahnya, tapi mengambil pelajaran dari kisah Dzulqarnain tanpa harus mengetahui zaman dan tempatnya. Kisah mahsyur, Dzulqarnain hidup di masa Nabi Ibrohim ‘Alaihissalam. Konon, mereka bertemu di Palestina dan Baitul Haram, Makkah. Namun, tidak valid dalil dan rujukannya. Dzulqarnain disebut Raja Iskandar dari Macedonia yang lahir 356 SM. Ia hidup dibawah asuhan Filosof Yunani. Sesudah ayahnya yang raja wafat, ia menggantikannya. Tapi, pendapat ini batil, tidak bisa dirujuk. Dari semua itu, seperti dikutip Dr Abdul Karim Zaidan dalam bukunya Kisah-kisah dalam Al-Quran versi Tadabbur (Tahun 2019), Al Quran telah menjelaskan Dzulqarnain bukan nabi, tapi seorang mukmin yang adil dan shaleh. Ia diberi Allah Subhanahuwata’ala (SWT) ilmu, hikmah, dan kekuasaan di bumi. “Sungguh, Kami telah memberi kedudukan kepadanya di bumi, dan Kami telah memberikan jalan kepadanya (untuk mencapai) segala sesuatu.” (QS. Surah Al-Kahfi [18]: 84). Menempuh Tiga Jalan Keinginan Dzulqarnain menempuh perjalanan tempat terbenamnya matahari. Lalu berhasil melihatnya terbenam di air berlumpur hitam di samudra belahan barat. “Maka dia pun menempuh suatu jalan. Hingga ketika dia telah sampai di tempat matahari terbenam, dia melihatnya (matahari) terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam,” (QS. Al-Kahfi [18]: 85-86). Apa yang dilihatnya? “Dan di sana ditemukannya suatu kaum (tidak beragama). Kami berfirman, ‘Wahai Dzul Qarnain! Engkau boleh menghukum atau berbuat kebaikan (mengajak beriman) kepada mereka’,” (QS. Al-Kahfi [18]): 86). Lalu, Dzulqarnain berjalan lagi menuju tempat terbitnya matahari. “Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain). Hingga ketika dia sampai di tempat terbit matahari (sebelah timur) didapatinya (matahari) bersinar di atas suatu kaum yang tidak Kami buatkan suatu pelindung bagi mereka dari (cahaya matahari) itu,” (QS. Al-Kahfi [18]: 89-90). Kemudian Dzulqarnain menempuh jalan lagi. “Kemudian dia menempuh suatu jalan. Hingga ketika dia sampai di antara dua gunung, didapatinya di belakang suatu kaum yang hampir tidak memahami penbicaraan,” (QS. Al-Kahfi [18]: 92-93). Makhluk Ya’jud dan Ma’jud Kaum tersebut berbicara tidak dapat difahami. Tapi, dengan bahasa isyarat baru dapat difahami. Setelah Dzulqarnain bertemu kaum tersebut, apa keinginan mereka? “Mereka berkata, ‘Wahai Dzulqarnain! Sungguh, Ya’jud dan Ma’jud itu berbuat kerusakan di bumi, maka bolehkan kami membayarmu imbalan agar engkau membuatkan dinding penghalang antara kami dan mereka?’ Dia (Dzulqarnain) berkata, ‘Apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadaku lebih baik (daripada imbalanmu), maka bantulah aku dengan kekuatan, agar aku dapat membuatkan dinding penghalang antara kamu dan mereka’,” (QS. Al-Kahfi [18]: 94-95). Akhirnya, kedua sepakat membangun dinding atau tembok yang tinggi terbuat dari besi dan campuran tembaga. “Berilah aku potongan-potongan besi! Hingga ketika besi itu telah sama rata dengan kedua puncak gunung itu, dia (Dzulqarnain) berkata, ‘Tiuplah (api itu)!’ Ketika (besi) itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atasnya (besi panas itu)’,” (QS. Al-Kahfi [18]:96). Dzulqarnain dan kaum tersebut berhasil membangun dinding setinggi dua puncak gunung tersebut. Sehingga Ya’juj dan Ma’juj, makhluk perusak ini tidak mampu menerobos tembok penghalang tersebut. Selama dinding terpasang, mereka tidak dapat membuat onar. Terbuat dari Besi dan Tembaga Menurut Shalah Al-Khalaidy dalam bukunya Kisah-Kisah Al-Quran, Pelajaran dari Orang-orang Terdahulu (2) (tahun 2000), menukil pendapat al-Qasimi dalam tafsirnya, tembok (dinding) itu terletak di daerah Dagestan yang sekarang termasuk wilayah Rusia. Sedangkan dua gunung tersebut disebut Pegunungan Kaukasus yang membentuk rangkaian panjang dan bersambung. Puncaknya banyak, sulit didaki, dan tidak ada jalan masuk kecuali Celah Daryal. Pegunungan ini mencapai 1.200 km, merupakan pegunungan tertinggi di Eropa. Al-Quran mengisyaratkan dinding yang dibangun itu terbuat dari campuran besi dan tembaga yang dilebur. Tinggi dinding sama dengan puncak dua gunung tersebut. Dzulqarnain mendapatkan besi dan tembaga. Dr Abdul Alim Khidir, seperti dikatakan Shalah Al-Khalidy, lapisan biji besi terdapat di tanah Azerbaijan. Saat ini, di tempat itu terdapat pabrik besi dan baja karena kaya bahan tambang seperti biji besi, tembaga, timah, sulfur, emas, dan lainnya. Tidak Sombong dan Bangga Diri Pada intinya, tempat tersebut sangat cocok untuk membangun dinding yang kuat dan kokoh. Dari kisah ini, dapat dipetik hikmah, dalam Tafsir Ibnu Katsir, Dzulqarnain berhasil membangun tembok tinggi dan kokoh, tapi ia tidak bersikap sombong atau bangga diri. Ia mengatakan, tuntasnya pembangunan dinding ini murni karena rahmat Allah SWT untuk manusia. Ia menyerahkan semua urusannya kepada Allah SWT. Menurut dia, dinding itu kokoh dan tinggi bisa saja hancur luluh sebelum hari kiamat, sehingga kembali menjadi rata dengan tanah. Ketika seseorang melakukan suatu pekerja berat dan besar dan sukses hasilnya, sepatutnya untuk menghilangkan kebanggaan diri atau sombong terhadap sesama. Hal itu dapat merusak amal baik dan melenyapkan berkahnya. Wallahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Bangun Lubis, Dosen yang Tak Meninggalkan Dunia Wartawan