“KAPAL ferry Lampung terbakar di Merak,” demikian SMS yang masuk di HP Siemens pada 16 November 2006 siang. Semua liputan reguler hari itu kami tinggalkan mendadak: Fokus berita kapal terbakar. Bersama kawan koresponden nasional, berangkat berdua ke TKP berharap tiba sebelum api padam. Mobil kawan dititip di kantor ASDP Bakauheni dengan Bang (alm) Zailis Anas (sebelum jadi Manajer Operasional PT ASDP Bakauheni, semoga Allah merahmatinya). Atas atensi beliau, kami bisa langsung menyeberang ke Merak. (Tks Bang Zailis atas kemudahan peliputan sejak kenal selama ini). Dia aslinya urang awak, tapi masa kecil sampai tamat sekolah lama di Palembang (logat plembangnyo teraso iwaknyo). Zailis berbadan besar tinggi “disegani” orang pelabuhan. Zailis orangnya perokok dan pengopi tulen, maklum orang pelabuhan yang kerja malam bersahabat dengan angin dan badai. Kalau wartawan datang ke Bakauheni jamuan makan plus kopi dan rokok plus tak usah diminta lagi. Memang, selama bergaul dengan wartawan, ia pernah mengungkapkan ingin anaknya jadi wartawan. (Enak, mungkin katanya). Ehh… belakangan jadi juga anaknya wartawan di Lampung (Tapi, sekarang kabarnya sudah pindah ke Itera) Setelah liputan di perairan dekat Pelabuhan Merak, kami beranjak mencari warnet di Cilegon, mengetik dan mengirim berita/foto. Kala itu warnet sering penuh, kami harus bergantian. Susahnya zaman dulu, selain warnet sedikit, ketika ketemu warnet tapi sudah penuh orang, yang mayoritas gamers. Suara gaduh dan berisik orang main games di warnet sudah lazim di telinga kami. Nasib wartawan pinggiran tanpa kantor di zaman pra-android. Tak bisa membayangkan enaknya mengetik berita di ruang redaksi yang dingin berembun dan senyap kedap suara, tentunya bersama kopi — merokok di luar. Urusan berita selesai, kami diajak wartawan Cilegon ada acara temu wartawan kalau tidak salah dengan pejabat ASDP/polres di pinggir pantai Anyer. Makan dan minum sepuasnya, termasuk urusan merokok putus bersambung. Semua difasilitasi punggawa di sana. Soal inspirasi, terutama kalangan penulis, seniman, atau wartawan akrab dengan rokok. Barangkali sugesti saja. Terkadang kepulan asap rokok mengangkasa dan sudah berbatang-batang habis jadi abu, satu tulisan/berita tak kelar-kelar juga. Sudahlah, tak perlu dibahas kaitan inspirasi dan merokok plus kopi. Soal inspirasi, terutama kalangan penulis, seniman, atau wartawan akrab dengan rokok. Barangkali sugesti saja. Terkadang kepulan asap rokok mengangkasa dan sudah berbatang-batang habis jadi abu, satu tulisan/berita tak kelar-kelar juga. Sepulang ke rumah, dadaku terasa sesak. Malam itu, tidak bisa tidur, walaupun berbalik kiri dan kanan, tengkurap dan terlentang di kasur sama saja: tak ada perubahan. Serasa nyawa mau putus tengah malam itu. Sepenggal nafas terasa berat sekali. Sesak nafas yang belum pernah mengalami seumur hidup. Paginya tertidur lelap. Nafas mulai normal setelah bangun menjelang siang. Allah SWT masih beri kesempatan. Kotak rokok putih di rak itu masih bersisa beberapa batang lagi. Kujadikan momentum sakit malam itu: Aku Berhenti Merokok!!! Niat dan tekad itu tetap coba menjalani: kopi tanpa asbak, hidup tanpa nikotin (kafein masihlah…). Jangankan sebatang, seisap rokok pun tak pernah dirasakan lagi. Cobaan kiri dan kanan kawan selalu menggoda, terutama habis makan atau lagi nongkrong ngopi sore di warung kopi, tempat pesta, menunggu nara sumber. Terkadang saat kumpul jurnalis di rumah makan, banyak yang pesen rokok (mumpung gratis), ada yang tak merokok akhirnya latah pesan, tapi silver queen (ada-ada saja). Walhasil, rongga dada lega tanpa sekat. Paru-paru berangsur bening. Nafas sesak tak pernah berulang. Hidup mulai menyala lagi. Badan sehat, tidur nyenyak, pikiran agak plong — karena duit hemat. Hordeng rumah dan ruangan harum, baju yang dipakai enak, nyaman, tanpa aroma asap. Dua puluh tahun berlalu berlalu tanpa merokok. Sukses. Alhamdulillah… Semoga istiqomah. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Saatnya Turba ke “Sarkem”