SUMATRALINK.ID, PALEMBANG  – Siapa itu AKBP Agoestjik Bakri? Generasi terkini (milenial) boleh jadi tak mengenalnya. Tapi, AKBP Agoestjik Bakri menjadi nama jalan di kawasan Makrayu, Talang Kerangga, Kelurahan 32 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II, Kota Palembang.

Sedangkan generasi “kolonial”, sosok Agoestjik Bakri sudah tidak asing. Ia dikenal penduduk asli kawasan Jl Makrayu, Jl Rambutan, perumahan Talangsemut dekat ‘Kambang Iwak’, Suro, terutama di Tanah Mungguk (dekat Jembatan Musi 6 sekarang).

Zainab, kelahiran Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara, Lampung pada 22 Desember 1925. Selama menikah dengan Agoestjik selalu bersama kapan dan dimanapun bertugas, baik di Sumatra Selatan maupun Lampung. Sebagai seorang istri polisi, ia sadar kehidupannya selalu berpindah tempat karena tugas negara.

Menurut dia, selama bertugas sebagai anggota polisi, Agoestjik selalu membawanya kemanapun. Selain bertugas di Kota Palembang, ia pernah bertugas di Lubuklinggau  Kabupaten Musi Rawas, Sumatra Selatan). Di Lubuk Linggau, Agoestjik turut mengangkat senjata melawan penjajah.

“Saat terjadi perang, tembak menembak, Yap (panggilan anak sulungnya Harab Zafrullah) lahir,” kata Zainab binti Zahri kepada saya di rumahnya Jalan Jambu, Talang Kerangga, Palembang, beberapa tahun silam.

Saat perang itu, Zainab mengenang ia sedang hamil tua. Dalam kondisi seperti itu, tidak ada lagi rasa takut dan ragu atas kehamilannya. Ia juga turut bersama Agoestjik ikut dalam serdadu perang tersebut, lantaran tidak mau berada di rumah sendirian.

“Makanya, diberi nama Harab Zafrullah, yang berarti perang,” ujar Zainab mengenang kejadian yang tidak pernah terlupakan.

Selain di Sumatra Selatan, Agoestjik bersama Zainab bertugas di Gisting (sekarang masuk Kabupaten Tanggamus, Lampung). Wilayah Gisting saat itu menjadi daerah pilihan utama bagi Belanda untuk bermukim. Kawasannya dikenal dingin dengan airnya yang sejuk dan dikelilingi tanam-tanaman yang segar.

Saat itu, kenang Zainab, jalan menuju Gisting dari Pasar Bambu Kuning, Tanjungkarang, pada masa penjajahan Belanda masih jalan sangat kecil (Saat ini jalan itu menjadi Jalan Lintas Barat dari Bandar Lampung menuju Bengkulu).

Ia bercerita kawasan Kecamatan Kemiling sekarang, dulunya perkebunan karet milik Afdeling (Belanda). Daerah ini, juga dijuluki tempat ‘pembuangan’ korban kejahatan penjajah saat terjadi perang atau penindasan kepada pribumi.

Setelah beberapa tahun menetap di Gisting, Agoestjik dan Zainab kembali ke Palembang. Saat berada di Kota Palembang, ia turut memanggul senjata berperang melawan penjajah Belanda saat terjadi “Perang Lima Hari Lima Malam”.

Zainab bercerita, selama berada dan bertugas di Kota Palembang, kerap ia selaku istri polisi menerima kedatangan Presiden Sukarno saat lawatan ke Sumatra Selatan. Ia dan rekan lainnya mempersiapkan menu makan untuk presiden Sukarno dan rombongannya.

“Ketika masak di dapur, aku tahu lauk kesukaan Pak Karno,” tutur Zainab kala itu sebagai koordinator urusan dapur.

Kuburan AKBP Agoestjik Bakrie di Taman Makam Pahlawan, Palembang. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

Ketika Presiden Sukarno datang, beberapa istri polisi dan TNI juga juru masak lainnya mendapat kesempatan bertemu dengan Sukarno dari dekat. Presiden Sukarno setelah kemerdekaan RI, mengunjungi Kota Palembang beberapa kali.

Setelah malang melintang bertugas sebagai anggota polisi, Agoestjik Bakri memasuki masa pensiun. Segala atribut kepolisiannya ia tanggalkan. Ia banyak bersama istri dan anaknya beserta keluarga besar di rumah Jalan Jambu Nomor 8.

Selama menetap di rumah tersebut, baik ketika masih aktif sebagai polisi juga setelah pensiun, ia banyak membantu keluarga besarnya dan orang lain yang tidak mampu. Beberapa orang banyak ikut bersamanya di rumah tersebut.

Agoestjik tak segan-segan membantu orang yang sedang menghadapi masalah keluarga atau masalah lain. Hal ini terbukti, beberapa orang masih ingat dengan Agoestjik dan keluarganya meskipun ia sudah wafat. Ada yang datang dari jauh-jauh bersilaturrahmi sekaligus memberikan tanda kasih.

Agoestjik wafat, Zainab mengisi hari tuanya di rumah Jalan Jambu. Rentang waktu 38 tahun sejak suaminya wafat, Zainab meninggal dunia pada tahun 2004. Agoestjik dikubur di Taman Makam Pahlawan, sedangkan Zainab dimakamkan di Tempat Pemakaman Keluarga, Kelurahan 32 Ilir, Palembang. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *