Gunung Sebesi di Desa Regahan Lada, Pulau Sebesi, Lampung. (Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland)
Gunung Sebesi di Desa Regahan Lada, Pulau Sebesi, Lampung. (Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland)

SumatraLink.id (REPUBLIKA NETWORK) – Enam tahun berlalu, namun bencana tsunami di Selat Sunda yang melanda wilayah Lampung dan Banten masih menyimpan cerita duka. Warga Pulau Sebesi yang mendapat ‘pukulan pertama’ tsunami dari Gunung Anak Krakatau (GAK) tetap mengenang peristiwa kelam tersebut sampai kini.

Beragam cerita dari sebagian warga Pulau Sebesi, pulau terdekat dengan GAK, ketika gelombang besar menghantam pulau yang berada di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Tak ada tanda-tanda sebelumnya, seperti layaknya GAK sering “batuk-batuk” dan mengeluarkan lava merah serta abu vulkanis dari puncaknya.

Malam itu, Sabtu (22/12/2028) selepas Maghrib warga masih tenang-tenang saja. Dua jam setengah dari itu sekira bakda Isya, air laut naik ke jalan pemukiman penduduk. Warga menganggap masih biasa, karena pasang-surut air laut. Lama kelamaan air laut terus meninggi dan memasuki rumah. Warga mulai gusar dan resah kejadian alam ini.

Seorang bapak berusia lanjut, dikenal tokoh adat Desa Regahan Lada, Pulau Sebesi tak tinggal diam seribu kata dengan fenomena alam ini. Ia bergegas ke luar rumah menuju bibir pantai. Di dermaga kapal motor, ia berdiri menatap laut yang gelap gulita menghadap GAK. Dalam benaknya, ada hal aneh di laut Selat Sunda. Bapak tua ini dikenal memiliki silsilah penghuni awal Pulau Sebesi.

“(Tak lama berdiri) Saya balik ke rumah dan menyuruh warga keluar rumah segera berlindung menyelamatkan diri,” kata bapak tua (lupa namanya) ini menceritakan kepada saya saat berkunjung ke Pulau Sebesi setahun selepas bencana.

Malam Ahad yang tenang berakhir dengan warga kalang kabut setelah mendapat kabar mengejutkan ada gelombang laut besar (waktu itu belum tahu ada tsunami). Penduduk Pulau Sebesi sekira seribuan lebih yang kala itu masih mengandalkan listrik generator PLTD khusus menyala dari Maghrib sampai pukul 22.00 atau 24.00, harus padam lebih cepat dari biasanya.

Suasana kampung Pulau Sebesi yang dikelilingi laut Selat Sunda gelap gulita. Memang malam itu belum bulan purnama. Tak ada penerangan sama sekali. Warga menyelamatkan anak dan istri termasuk orang tua lansia menuju dataran tinggi. Rumah warga sudah dimasuki air laut bercampur lumpur.

Ningsih, seorang ibu rumah tangga menuturkan, malam itu ia tinggal bersama dua anaknya yang masih SD dan balita. Suaminya masih berada di luar daerah. Rumahnya sudah dimasuki air laut setinggi mata kaki. Tak berpikir panjang, ia harus keluar rumah untuk mengungsi ke tempat tinggi.

“Pikiran saya malam itu hanya anak-anak. Saya ambil kantong kresek yang saya pikir surat-surat penting, lalu keluar rumah mengungsi,” kata Ningsih saat saya singgah ke rumahnya pascabencana. Ternyata, kata dia, kantong kresek yang dibawa itu bukan dokumen penting. Ningsih pun tersenyum.


Di jalan pemukiman penduduk warga sudah hilir mudik tak beraturan. Kondisi jalan sudah terendam air laut. Tidak ada penerangan sama sekali. Warga yang membawa senter menjadi arah tempat pengungsian. Sesama warga saling memberitahu agar mengungsi ke lereng Gunung Sebesi, karena banjir akan melanda.

Ada sebagian warga yang panik untuk mengungsi ke gunung, terpaksa mendobrak warung warga untuk membawa bekal ke pengungsian. Lereng gunung yang dituju merupakan ladang dan kebun warga sendiri. Warga berduyun-duyun naik gunung yang tinggi dan berliku.

Malam itu hingga waktu Subuh, warga tak berani lagi turun ke desanya untuk melihat kondisi sebenarnya. Desa di Pulau Sebesi sudah sepi senyap tak berpenghuni lagi. Sebagian besar warga berada di gunung. Dengan kondisi seadanya, warga memanfaatkan hasil kebun untuk kebutuhan makan terutama anak-anaknya.

Untuk mencapai tempat pengungsian di gunung itu, saya sempat mengunjungi bersama beberapa warga naik motor. Lokasinya memang tinggi dan aman dari hantaman banjir dan gelombang laut. Namun untuk mencapai lokasi tersebut dengan berjalan kaki apalagi anak-anak dan lansia sangat penuh perjuangan. Jalannya setapak dan berliku untuk menghindari daerah terjal.

Keesokanharinya, warga belum berani turun dan tinggal di rumah-rumahnya yang sudah rusak dan berantakan. Selain jauh jaraknya harus turun dan naik gunung lagi, juga khawatir gelombang pasang masih terjadi. Mereka terkurung selama tiga malam di gunung tanpa ada bekal makan dan minum sama sekali. Sudah tiga hari, tidak orang yang masuk ke Pulau Sebesi untuk memberikan bantuan.

Memang, pascabencana tsunami, satu-dua hari, gelombang laut masih tinggi karena angin kencang. Kedatangan satu kapal di pesisir Pulau Sebesi pada hari keempat membuat warga mulai senang. Sejumlah bantuan sandang pangan mulai berdatangan ke penduduk pulau yang sudah terkurung sejak mengungsi ke gunung malam itu.

Warga juga telah mendapatkan informasi resmi kejadian bencana tersebut adalah gelombang tsunami dari reruntuhan GAK. Kedatangan bala bantuan dari aparat itu, membuat sebagian kecil warga mulai berani untuk kembali ke rumah-rumahnya yang telah tersapu air laut bercampur lumpur tebal. Sebagian besar lagi ada warga yang diungsikan ke luar pulau, terutama anak-anak, ibu-ibu, dan lansia. (Mursalin Yasland)