Buya Hamka. (Foto: Istimewa/Dok. Sumatralink.id)

SUMATRALINK.ID — Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau disapa Buya Hamka mendapat tekanan di sana sini. Di saat para ulama ‘mencari selamat’ pada pemerintahan Orde Lama (Orla), justru Hamka semakin ‘garang’ dalam menegakkan syariat Islam di Indonesia.

Pada masa orla, indoktrinasi terhadap gerakan umat Islam makin masif. Tekanan terhadap jiwa umat Islam semakin gencar dan semakin membuat jiwa dan mental umat larut dalam ketidakpastian.

Buya Hamka tak mau diam dalam menyikapi keadaan yang menimpa umat Islam. Tahun 1960, Hamka mendapat kesempatan khotbah Jumat di Masjid Al-Azhar, Jakarta. Dalam khotbahnya, Hamka menyatakan dengan tegas; sekarang ini Islam dalam bahaya.

“Pada masa itu, Islam dalam bahaya karena kaum komunis kian hari diberi hati oleh kepala negara sendiri,” tulis Hamka dalam bukunya Dari Hati ke Hati, 2016.

Menurut dia, pada masa orla itu, dibandingkan masa penjajahan Belanda, propaganda Agama Kristen bertambah lama bertambah hebat dan berkali lipat. Sedangkan ulama yang berani berterus terang menyatakan ajaran Islam dalam dasar akidah yang sejati, kian lama kian dipersempit langkahnya.

Propaganda ini membuat pondok-pondok pesantren sudah mulai ditinggalkan, ulama-ulama berduyun-duyun mencari pangkat dan kebesaran di kota atau istilahnya mencari selamat. Organisasi atau perkumpulan Islam berubah haluan (keyakinan) dan merapat ke istana atau kekuasaan.

Baca juga: Cara Umar Memanggul di Jalan Sunyi

“Kekuatan Islam telah habis, (Anehnya) meskipun orang masih ramai juga Shalat Jumat  ke masjid,” kata Hamka dalam tulisannya berjudul Beratnya Kewajiban Kita yang pernah dimuat di Majalah Panji Masyarakat sebelum dibreidel tahun 1960-an.

Ketidaksenangan dan ketidaknyamanan gerakan Islam masa kekuasaan orla dalam selimut komunisme membuat umat dan kelompoknya terpecah belah. Fitnah dan adu domba dalam tubuh umat kerap terjadi. Bagi yang sepaham dirangkul, yang menolak ditendang.

Kondisi bimbang seperti ini, banyak umat terutama ulamanya yang mencari selamat, tidak mau ketinggalan kereta,  lalu merapat ke istana.  Mereka takut menerima fitnah dan dibenci kolega sendiri, sehingga nasib hidupnya ke depan seolah-olah akan baik-baik saja.

Khotbah Jumat Buya Hamka di Masjid Al-Azhar itu mendapat reaksi luas dari berbagai pihak, termasuk kalangan istana. Khotbah Jumat berjudul: Islam dalam Bahaya, kalau zaman sekarang viral pada masanya. Pers saat itu menempatkan berita utama materi khotbah tersebut beberapa hari.

Kehebohan khotbah Hamka tersebut, membuat Presiden Sukarno ikutan resah. Sukarno memberikan pernyataan membantah ucapan Hamka yang beritanya sudah menyebar di Tanah Air.

“Islam tidak dalam bahaya, yang dalam bahaya ialah yang berkhotbah itu sendiri,” kata Presiden Sukarno seperti dituturkannya.

Sukarno menyindir Hamka dalam bahaya. Bukan Islam-nya. Lingkungan istana menginginkan, sekiranya materi khotbah dapat disesuaikan dan bekerja sama dengan komunis. Hamka menyebut istana berharap isi khotbah setidaknya  menyatakan Nasakom adalah perasan dari Pancasila.

Intinya, kalangan komunis berharap penyusunan Khotbah Jumat dengan cara mencari ayat-ayat Al-Quran dan hadist Rasulullah Sholallahu’alaihi wassalam (SAW) bersesuaian dengan haluan negara yakni Manipol-Usdek. Artinya, asal mau memuji dan memuja perbuatan yang mungkar saat itu nisacaya tidak “diganggu”.

Meski demikian, Hamka tetap tak menyurutkan dakwahnya. Ia tetap tegar kendati presiden telah mengingatkan akan ancaman bahaya tersebut. Hamka tidak mau ‘menjual’ keyakinannya hanya untuk mencari selamat dan merapat ke istana.

Buya Hamka, sosok ulama yang teguh memegang teguh Al-Quran dan Hadist Rasulullah SAW dalam keadaan apapun. Ia menyakini yang hak itu hak dan yang batil itu batil, tidak dapat menyesuaikan apalagi disesuaikan dengan kondisi saat itu hingga hari kiamat.

Hamka meyakini kehidupan di dunia ini hanya perhiasan semata, kesenangan dunia yang sementara dan sedikit. Dalam hatinya telah terpatri untuk tidak terpesona dalam kehidupan dunia yang sesaat dan sedikit tersebut.

Baca juga: Kegigihan Rakyat Aceh Tamiang Melawan Belanda

Menurut dia, pejuang penegak Al-Quran pada hakikatnya seorang yang terpaksa berani karena ia penakut. Ia berani menempuh bahaya di dunia, karena takutnya bahaya akhirat. Itu sebabnya, dalam segala zaman, seorang yang telah terpesona Al-Quran karena takutnya kepada Allah SWT, ia berani menghadapi bahaya yang ditimpakan oleh manusia.

Perbedaan pandangan dengan istana, membuat Buya Hamka ditahan. Penahanan itu  atas perintah Presiden Sukarno. Hamka dituduh melanggar Undang Undang Anti-Subversi yakni merencanakan pembunuhan Presiden Sukarno. Buku-buku karya Hamka dilarang terbit dan dilarang diedarkan.

Ia ditahan selama dua tahun lebih empat bulan. Selama di penjara, ada hikmah dibalik jeruji besi tersebut. Ia dapat menuntaskan kitab Tafsir Al-Quran yang dinamai Tafsir Al-Azhar.

Al-Ghazali mengatakan, apabila suatu tujuan teramat suci dan mulia, sukarlah jalan yang harus ditempuh, dan banyaklah penderitaan yang akan ditemui di tengah jalan.

Hamka menyatakan setiap orang tetap berbesar hati, sebab tempat kita bertanggung jawab bukanlah kepada manusia, melainkan langsung kepada Allah SWT.

“Asal kita sadar, tidaklah ada seorang manusia pun yang akan dapat memperalat kita, baik untuk kepentingan kedudukannya maupun kepentingan kekuasaannya,” kata Hamka. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *