Syaikh Asy-Syinqithi Ulama Tafsir.Ilustrasi: Ulama menasihati anaknya. (Foto: AI/Sumatralink.id).

SUMATRALINK.ID – Sejak usia 10 tahun, berkat didikan pamannya Abdullah, Syaikh Asy- Syinqithi sudah hafal Al-Quran. Menginjak usia 16 tahun, ia membaca Al-Quran secara sanad hingga ke Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam (SAW).

Ulama ahli tafsir dan fiqih bernama lengkap Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar bin Abdul Qadir al-Jakni asy-Syinqithi berasal dari Kabilah Himyar di Yaman. Ia lahir di Kota Kifa di Syinqith pada tahun 1325H/1905M. Kota ini di Negara Mouritania benua Afrika.

Berbekal kecerdasan dan kegigihannya, beliau menguasai berbagai bidang keilmuan, misalnya menulis al-Qur’an dengan rasm Usmani, ilmu qira’at dengan bacaan nafi’ dari riwayat Warasy dan Qalun.

Beliau belajar banyak guru hingga lahir kitab-kitabnya. Setelah menunaikan haji, ia menetap di Makkah dan Madinah. Syaikh Asy-Syinqithi mendapat penghormatan Kerajaan Saudi Arabia dapat mengajar Tafsir Al-Quran di Masjid Nabawi hingga beliau wafat di Makkah pada 17 Dzulhijjah 1393 H (1973 M).

Baca juga: Bagaimana Menyikapi Perbedaan Qunut Subuh?

Untuk memetik ilmunya, ada baiknya kita meresapi nasihat Syaikh Asy-Syinqithi kepada anaknya mengenai kebahagiaan dalam hidup berikut ini seperti ditulis Ibnu Basyar dalam bukunya Mengisi Hati di Lorong Kehidupan.

Wahai ananda, ulangi terus membaca Al-Quran, jangan sampai melupakannya, kelak hari kiamat akan ada acara penghargaan yang tidak sama dengan acara-acara di dunia.

Oleh karena itu, jangan sampai salah, padahal sudah disampaikan kepadamu; “Bacalah, naiklah, dan tartilkanlah.”

Duduklah bersama pemimpin dengan ilmumu. Duduklah bersama teman dengan etikamu. Duduklah bersama orang bodoh dengan kemurahan hatimu.

Jadilah teman Allah dengan mengingat-Nya. Jadilah teman bagi diri Anda sendiri dengan nasihatmu.

Tidak usah bersedih jika di dunia tidak ada yang menghargai kebaikanmu karena di langit ada yang mengapresiasinya.

Kehidupan kita ibarat mawar, di samping memiliki keindahan yang membuat kita bahagia, juga memiliki duri yang membuat kita tersakiti.

Apa yang ditetapkan bagimu niscaya akan mendatangimu, meskipun kamu tidak ada daya.

Baca juga: Fatimah, Anak Nabi SAW Tak Pernah Merasakan Lapar


Sebaliknya apa yang bukan milikmu, kamu tidak akan mampu meraihnya dengan kekuatanmu.

Tidak seorang pun yang memiliki sifat sempurna selain Allah. Oleh karena itu, berhentilah dari menggali aib orang lain.

Kesadaran itu pada akan, bukan pada usia, umur hanyalah bilangan harimu, sedangkan akal adalah hasil pemahaman dan kerelaanmu terhadap kehidupanmu.

Berlemah-lembutlah ketika bicara dengan orang lain karena setiap orang merasakan derita hidupnya masing-masing, sedangkan kamu tidak mengetahuinya.

Semua hal akan berkurang jika dibagi-bagi, kecuali kebahagiaan, justru akan bertambah jika mau bagi kepada yang lain. Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *