Ilustrasi: Membaca koran. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

KORAN terkemuka di Amerika Serikat, The Washington Post melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karyawannya besar-besaran. Tak tanggung-tanggung, 30 persen dari jumlah karyawannya di divisi redaksi maupun nonredaksi harus menanggalkan ID Card-nya di kantor pada Februari 2026.

Keputusan tak populer ini tidak lain karena koran besar dengan jumlah pembaca jutaan orang tersebut mengalami kerugian finansial yang signifikan beberapa tahun terakhir. Peristiwa PHK ini menjadi “hari gelap” sepanjang sejarah surat kabar berpengaruh tersebut.

Di Indonesia, pascapandemi Covid-19, media cetak (print media) seperti koran, tabloid, dan majalah banyak bertumbangan dalam satu dekade terakhir. Media mainstream nasional dan lokal ada yang berhenti total alias tutup, ada yang mengurangi hari terbit dan jumlah halaman, ada juga yang beralih ke media daring (online) atau digital.

Beberapa media cetak, yang bergantung sepenuhnya kue iklan, ada yang hidupnya timbul tenggelam: hidup segan mati tak mau. Efisiensi dan restrukturisasi menjadi jalan terakhir agar media cetak mampu bertahan dari gempuran media digitalisasi (media sosial) yang kian menjamur di hadapan publik.

Untuk tetap eksis (bertahan), media mainstream mau tidak mau juga melakukan konvergensi media atau adaptasi dengan media digitalisasi. Mereka tidak bisa bertahan dengan satu poros, akan tetapi bersinergi dengan berbagai platform media sosial. Hal ini menjadi daya tarik pembaca dan juga pemasang iklan yang belakangan cenderung memilih akun medsos dibanding media mainstream.

Adaptasi media cetak terhadap media sosial ini, notabene sebelumnya sudah dikuasai oleh praktisi-praktisi yang nyata-nyata bukan berasal dari ekosistem jurnalisme. Banyak pelaku-pelaku media sosial dari kalangan warganet (netizen) biasa, namun aktivitasnya mendahului kerja-kerja jurnalistik tampil dan tayang di platform media sosial.

Mereka, orang tidak terkenal dan dikenal. Siapa pun ia, bisa tampil asal kualitasnya di hadapan publik (netizen) “menjual”. Tak heran, banyak politisi, aktivis, hingga artis mengambil peluang di medsos. Meski, beberapa dari mereka juga tidak ada yang sukses. Followers dan viewers-nya begitu-begitu saja.

Tapi, yang menjadi poin dari media sosial, mereka berkegiatan mirip kerja-kerja jurnalistik seperti liputan dan wawancara. Meskipun sama, tetaplah berbeda dengan karya jurnalistik. Jurnalis adalah profesi yang dilindungi Undang Undang Nomor 40/1999 tentang Pers, sedangkan mereka bernaung dibawah hukum positif (UU ITE dan KUHP).

Kondisi seperti inilah yang membuat sebagian besar publik mulai meninggalkan media cetak. Publik (pembaca) lebih tersedot perhatiannya kepada media sosial dibandingkan dengan media cetak yang notabene beritanya telat (basi), karena proses redaksional dan cetak.

Kehadiran media cetak dengan penyajian konsep pemberitaan masih menanamkan cara-cara konvensional – barangkali — sudah tidak relevan lagi atau usang, di saat gempuran berita media sosial yang sekian detik sudah dapat dinikmati publik (netizen) dalam sekejab, tanpa batas ruang dan waktu.

Media cetak yang masih menjalani manajemen konvensional tentu memiliki konsekwensi terhadap daya tahan dan daya saing, akibat kerugian yang tak tertanggulangi sebagai dampak dari biaya gaji dan operasional tidak menutupi dari pendapatan iklan dan langganan. Bila waktunya tiba, banyak media cetak harus mengambil jalan terakhir PHK karyawan, dan atau jalan terakhir tutup.

Menyiasati perubahan zaman, agar tetap bertahan dan eksis, media cetak harus dan harus mengubah pola manajemen usaha dan redaksinya. Disadari atau tidak, jelas hal tersebut tidak semudah membalikkan tangan. Penuh perjuangan dan energi yang berkesinambungan. Lagi-lagi ketahanan fisik dan psikis serta finasial harus ekstrakeras.

Dibalik banyak media cetak yang berguguran, seperti terakhir dialami The Washington Post, seorang rekan yang berkunjung di London, Inggris pada 2024, bercerita ada sebuah tabloid berita yang masih tetap eksis di hadapan publik. Tabloid Metro, namanya.

Tabloid ini hadir ke pembaca secara gratis. Tabloid ini terpajang di lapak-lapak di halte bus dan stasiun kereta, dijual secara gratis. Tiras tabloid ini, menurut pengakuannya jutaan. Tak ada istimewa dari pemberitaan tabloid ini. Tabloid ini menyajikan berita-berita yang berkaitan dengan aktivitas dan kebutuhan kehidupan orang-orang di London.

Memasuki era digitalisasi, Tabloid Metro, juga tak mau ketinggalan. Ia berkolaborasi dan berkonvergensi dengan media sosial. Namun, tidak juga menyurutkan minat baca penduduk London terhadap media cetak. Bahkan, ada kabar, warga belahan barat juta tidak semasif warga di Indonesia dalam bermedia sosial.

Warga Indonesia habiskan 188 menit (3 jam lebih) per hari di media sosial. – goodstats.id ( 3 Maret 2025)

Di Amerika, pengguna media sosial rata-rata menghabiskan waktu sekitar 2 jam 13 menit hingga 2 jam 16 menit per hari. Sedangkan di Eropa, rata-rata penggunaan media sosial lebih rendah, berkisar antara 1 jam 15 menit hingga 1 jam 48 menit per hari.

Sedangkan bila melihat faktor usia, remaja dan dewasa muda (16-24 tahun) menghabiskan waktu paling lama (lebih dari 3 jam per hari), sementara kelompok usia di atas 65 tahun menggunakan media sosial paling sebentar, yaitu sekitar 1 jam 42 menit (102 menit) per hari.

Sementara di Indonesia, masyarakat pengguna media sosial yang sangat aktif dengan rata-rata waktu yang dihabiskan sekitar 3 jam 8 menit hingga 3 jam 11 menit per hari per kuartal III 2024, menempatkan Indonesia di peringkat ke-9 dunia. Sedangkan peringkat I, II, dan III masing-masing Kenya, Chili, dan Afrika Selatan. Sedangkan negara di Amerika dan Eropah jauh di bawah Indonesia.

Bila melihat tren usia, Gen Z menggunakan media sosial rata-rata menghabiskan waktu lebih tinggi, bahkan mencapai 5 jam per hari. “Warga Indonesia habiskan 188 menit ( 3 jam lebih) per hari di media sosial,” tulis laman goodstats.id pada 3 Maret 2025.

Seorang rekan, ketika menjadi pemred koran nasional di Jakarta menasehati penulis mengatakan, masih banyak peluang pemberitaan yang tidak terjangkau dan terekspos di media sosial, apalagi di daerah-daerah. Peluang (ceruk) berita di masyarakat itu hanya bisa diambil para jurnalis khususnya media cetak.

Pemberitaan tidak melulu straight news (hard news) yang sudah diambil media sosial. Akan tetapi pemberitaan yang bersifat indepth reporting, atau semi-indepth reporting dan feature menjadi daya tarik pembaca untuk berlama-lama memegang koran pagi, tabloid atau majalah sambil menghirup kopi atau teh hangat di teras rumah atau kantor, atau warkop pinggir jalan.

Kondisi ini menunjukkan peluang media cetak di era digitalisasi masih terbuka lebar, asalkan pemilik, pengelola, dan tentu jurnalisnya mampu mengambil peluang besar tersebut. Tentu, masih ada jalan bagi media cetak menuju kesuksesan, asalkan bisa bertahan dan bersabar. Mudah-mudahan. Selamat HPN 2026. Tabik…. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *