Home > Kisah

Malam Gestapu 1965, Dimana Bung Karno dan Pak Harto?

Pak Harto menunggu anaknya Tommy (4 tahun) di RS Gatot Subroto tersiram kuah sup panas.
Peristiwa G30S/PKI. (Foto Ilustrasi: Republika.co.id)
Peristiwa G30S/PKI. (Foto Ilustrasi: Republika.co.id)

SumatraLink.id -- Selaku komandan, Suharto -- sering dipanggil Pak Harto, memang harus berjiwa tegas kepada anak buahnya. Apalagi berkaitan dengan kejadian luar biasa atas meninggalnya para jenderal senior Angkatan Darat secara tidak manusiawi.

“Saya beri batas waktu sampai pukul enam sore. Kalau pukul enam sore nanti tidak segera kembali ke Kostrad, berarti kalian sudah berhadapan dengan pasukan saya,” kata Pak Harto kepada dua kapten menjabat Wadanyon 454 dan 530 di Kostrad, 1 Oktober 1965.

Ucapan Pak Harto itu sama seperti saat menyaksikan film Pengkhianatan G30S/PKI yang sering ditayangkan TVRI era Orde Baru pada akhir September dan awal Oktober setiap tahun.

Mayjen TNI Soeharto mengambil-alih (sendiri) pimpinan Angkatan Darat, setelah Gerakan 30 September (Gestapu 1965) pasukan Cakrabirawa pimpinan Lektol Untung dan Kodam V Jaya pimpinan Kolonel Abdul Latif, ‘menculik’ tujuh jenderal termasuk A Yani (Panglima AB), hanya Nasution (Menko Hankam) yang lolos. Namun, ajudan Nasution Letnan Pierre Andreas (PA) Tendean dibawa. Sedangkan anak Nasution, Ade Irma Suryani tertembak, lalu tak berapa lama meninggal dunia.

Jenderal Yani, Mayjen Haryono, dan Brigjen Pandjaitan menolak dan melawan dibawa pasukan dengan dalih dipanggil presiden ke istana segera. Mereka dibunuh. Sedangkan jenderal lainnya, termasuk PA Tendean dibawa hidup-hidup ke markas gerakan di komplek Bandara Halim.

Malam kejadian penculikan dengan dalih Dewan Jenderal yang akan melakukan coup (kudeta), pada 30 September 1965, dimana keberadaan Bung Karno (selaku presiden) dan Pak Harto (selaku panglima Kostrad)?

Pak Harto, setelah mengumpulkan pasukan dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur berlatih di Senayan, untuk persiapan Hari AB 5 Oktober. Malam harinya, bersama istri Bu Tien, Pak Harto menunggu anaknya Tommy (4 tahun) dirawat di rumah sakit Gatot Subroto. Tommy tersiram kuah sup panas di rumah.

Nah, masih di rumah sakit, pada malam itu sekira pukul 22.00 Pak Harto menerima Kolonel Abdul Latief, panglima Kodam Jaya, sampai tengah malam. Bu Tien minta Pak Harto pulang ke rumah karena anaknya Mamiek (1 tahun) sendirian di rumah. Tiba di rumah, Pak Harto tidur.

Menjelang Subuh, Pak Harto didatangi kamerawan TVRI Hamid Syamsuddin, melaporkan ada tembakan di kota. Pak Harto tenang. Setengah jam dari itu, datang Mashuri, tetangganya yang juga ketua RT, melaporkan hal sama. Pak Harto mulai gusar. Pagi hari pukul 6.00, Pak Harto dapat kabar beberapa perwira tinggi AD diculik.

Sedangkan Bung Karno, presiden pada malam hingga pagi itu tidak berada di istana. Bung Karno yang kondisi tubuhnya kurang sehat pergi ke Bandara Halim. Pagi itu, RRI yang telah dikuasai pasukan Letkol Untung menyiarkan berita “Pasukan pengawal istana telah menggagalkan usaha kudeta oleh ‘Dewan Jenderal’.

Kawasan Halim diketahui, sebagai pusat kekuatan Gerakan. Pak Harto sangat mengenal baik Letkol Untung, salah seorang murid tokoh politik PKI Alimin pada tahun 1945, sejak jadi Komandan Resimen 15 di Solo, dan Kolonel Latief.

Malam kejadian penculikan itu, Bung Karno berbicara pada Konferensi Nasional tentang Teknologi di Senayan. Setelah itu, Bung Karno pergi ke rumah Ratna Sari Dewi, istri ketiganya di Wisma Yoso Jl Gatot Subroto. Pukul 6.30, Bung Karno diberitahu kabar penembakkan di rumah beberapa jenderal AD. Bung Karno pergi dari rumah Dewi menuju istana.

Bung Karno urung ke istana, karena banyaknya pasukan di Lapangan Merdeka. Bung Karno pergi ke rumah Haryati, istri keempatnya di pinggiran Grogol. Bung Karno sudah diberitahu Jenderal Nasution lolos dari penculikan. Bung Karno berangkat ke Bandara Halim, dan pesawat sudah menunggu dalam keadaan darurat dan baru tiba di Istana Bogor pukul 9.30.

Bung Karno menyatakan, bahwa apa yang terjadi dengan G30S/PKI itu hanyalah “een rimpeltje in de ocean” (sebuah riak kecil di samudera).

Pak Harto dan pasukannya Kolonel Sarwo Edhi, panglima RPKAD, berhasil mengambi-alih RRI pada siang hari. Malamnya, Kapuspen AD Brigjen Ibnu Subroto menyiarkan berita-berita yang membantah berita-berita hoaks dari Gerakan 30 September kelompok Untung.

“Tuduhan golongan tertentu bahwa ada ‘Dewan Djendral’ dalam tubuh AD, jang akan mengadakan coup d’etat pada tanggal 5 Oktober HUT ke-XX ABRI adalah suatu penghinaan kepada AD, karena sesungguhnya Dewan Djendral jang mereka sebutkan itu tidak ada, tidak pernah ada,” kata Ibnu Subroto.

Kolonel KKO Bambang Wijanarko, ajudan Sukarno mengabarkan kepada Pak Harto, kalau Sukarno sehat-sehat saja di Halim. Pak Harto minta Bambang agar Presiden Sukarno pergi dari Halim sebelum tengah malam, karena bandara itu akan diserang.

Kehadiran Bambang di markas Kostrad, selain memberitahu presiden sehat walafiat, juga mengabarkan Sukarno meminta Mayjend TNI Pranoto Reksosamudro (Asisten III Menpangad) mengambil-alih dan bertanggung jawab urusan sehari-hari AD. Pak Harto, bingung. Kenapa, ada dualisme kepemimpinan di AB?

Bung Karno dan Pak Harto saling menyapa. “Aku iki arep mbok apakke (saya ini akan kamu apakan?),” tanya Bung Karno kepada Pak Harto.

“Saya ini orang Jawa. Saya menganggap bapak adalah bapak saya, sehingga prinsipnya adalah mikul dhuwur mendhem jero (mengangkat semua kebaikan setinggi-tingginya, menimbun semua keburukan selama-lamanya),” jawab Pak Harto.

“Lalu, bagaimana bapak (Pak Harto) mikul dhuwur mendhem jero Bung Karno?” tanya Amoroso Katamsi, pemeran Pak Harto pada Film Pengkhianatan G30S/PKI.

“Situasi politik pada waktu itu tidak memungkinkan saya berbuat banyak kepada Bung Karno, karena itu akan bertentangan dengan kehendak rakyat. Tetapi sesudah semuanya reda, saya segera memerintahkan untuk mengabadikan nama beliau di pintu gerbang Indonesia, Bandara Soekarno – Hatta,” jawab Pak Harto saat Amoroso sowan sebelum main film.

Semasa kepemimpinannya, meski ada pro dan kontra pemberian gelar pahlawan, Pak Harto memberikan gelar “Pahlawan Proklamasi” kepada Bung Karno, karena memang sang proklamator. Demikian secuil kisah Putra Sang Fadjar (Bung Karno) dan The Smiling General (Pak Harto). (Mursalin Yasland/berbagai sumber)

× Image