Ilustrasi: Pena (Foto: Dok. Sumatralink.id)

SEKIAN lama melenggang di negeri awan, pada tahun 2025 ini tampak jelas keutuhan PWI yang tak lagi utuh. Ada wartawan yang memelesetkan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menjadi Perpecahan Wartawan Indonesia.

Hari Pers Nasional (HPN), 9 Februari yang notabene cikal bakal hari jadi PWI sendiri, peringatannya justru berada di dua pulau: Riau dan Kalsel. Mungkin tepatnya: PWI kembar, satu ibu tapi lain bapak.

Kedua gerbong kepengurusan saling mengeklaim yang satu benar yang lain salah. Padahal, semua tahu masinis dan kondektur gerbong termasuk pendukungnya bukan orang kaleng-kaleng di dunia jurnalistik.

Mereka rata-rata wartawan senior sarat pengalaman. Boleh jadi mereka-mereka itu bila berurusan dengan liputan atau pemberitaan kepada pihak lain, perjuangannya maju terus pantang mundur, bahkan ada sampai masuk jeruji.

Tapi, kali ini mereka  – mau tidak mau – harus berurusan dengan internal organisasinya sendiri, yang tak kunjung ada win-win solution, sejak tahun lalu.

Gerbong yang satu “ngotot”, sedangkan gerbong yang satu lagi “melawan”.  Padahal, apa yang tidak bisa diselesaikan di dunia ini.

Bila ditilik ke belakang sejarah pers nasional, sungguh luar biasa. Kala itu, tidak banyak orang yang berminat masuk dunia wartawan. Bahkan, profesi ini dinilai sebagian orang; “pinggiran” atau “urakan”.  Tak jelas, nasibnya ke depan.

Tapi, nurani wartawan kala itu tetaplah satu dan utuh untuk perjuangan kemerdekaan Tanah Air ini, dan untuk mencerdarkan bangsa dari keterbelakangan dan penindasan kolonialisme dan imperialisme.

Maka, pada zaman kini mungkin senior-senior pers perjuangan zaman itu “menangis” melihat kondisi generasi penerusnya justru “berseteru” hanya di ruang-ruang kamar, di meja-meja makan, dan di dapur sendiri.

Padahal, tantangan dunia jurnalistik di Indonesia dan global semakin berat saat ini dan ke depannya. Siapa yang kuat bertahan maka mereka mampu bertahan, tapi yang tidak kuat atau lemah dan lunglai, akan terlempar.

Sadarlah…. Tabik.

Selamat HPN 2025

(Mursalin Yasland, anggota PWI sejak tahun 1995).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *