DUA puluh wartawan se-Indonesia berkumpul di kawasan wisata Kaliurang, Yogyakarta. Mereka mendapat undangan khusus dari Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerbitan (LP3Y). Saya, dari Palembang, Sumatra Selatan, satu dari 20 orang tersebut mendapat kesempatan emas mengail ilmu. Rata-rata wartawan yang diundang short course masih muda. Wartawan yang sudah berpengalaman — kalau tidak salah ingat — hanya satu orang, itu pun dari koran nasional terkenal di Jakarta. Selebihnya, wartawan yang datang anak daerah dari koran lokal. Kami semua menginap di hotel sederhana di kawasan Tugu Yogyakarta. Besok paginya, kami dijemput bus menuju kawasan Kaliurang, tempat sekretariat LP3Y. Di tempat ini, tersedia lengkap alat peraga pendidikan, pelatihan, dan penerbitan, termasuk ruang perpustakaan. Lima hari kami digembleng mentor dari berbagai narasumber, terutama Direktur LP3Y Ashadi Siregar. Beliau ini, selain pernah jurnalis, juga novelis tahun 1970-an. Beberapa novel karyanya Cintaku di Kampus Biru (1972), Kugapai Cintamu, dan Terminal Cinta Terakhir. Kalau memberikan materi, Ashadi, putra Pematang Siantar, Sumatra Utara, kelahiran tahun 1945 ini orangnya serius tapi santai. Pemaparannya terkait peliputan dan penulisan selalu diselingi humor tipis-tipis, agar tidak bosan. Salah satu trik liputan yang saya masih ingat dari Ashadi Siregar ini yakni ketika wartawan meliput demo. Menurut dia, selama ini wartawan banyak menunggu kalau demo berlangsung. Seharusnya, wartawan aktif menanyakan peserta demo terkait maksud dan tujuan demonya, bukan menunggu korlapnya selesai orasi. Masih banyak lagi trik-trik liputan yang berharga dari Ashadi Siregar. Ada juga mentor Debra D Yatim, seorang jurnalis dan aktivis perempuan. Ia juga aktif di bidang sosial dan seni/budaya. Sedangkan Debra ini, banyak beraktivitas di luar negeri, tapi pemaparan materinya sangat komprehensif dan mudah difahami. Ia sering mengajak dialog dan diskusi kepada wartawan. Tak lupa narasumber Irwan Julianto, jurnalis senior koran Kompas spesialisasi Iptek dan Kesehatan. Sehari-hari, ia meliput dan menulis Iptek dan Kesehatan secara detail. Terkadang sangat serius, tapi isi materinya “daging” semua. Kami yang tadinya tidak tahu sama sekali menjadi tahu dan terbuka wawasan. Kami dilepas secara terpisah ke Sarkem mulai sore hari hingga dini hari. Di tempat ini, kami harus mendapatkan data dan wawancara yang lengkap dari berbagai narasumber dan berbagai hal. Tentu, hasilnya, banyak cerita dibalik berita yang terungkap di setiap peserta. Awal pembekalan, panitia menyuruh kami menulis singkat terkait permasalahan yang telah ditentukan topiknya. Tulisan dipresentasikan di hadapan peserta. Kami wajib mempertanggungjawabkan tulisan itu, terkait apa dan mengapa. Pada awal ini, wartawan diajak terlibat diskusi mengenai masalah dan mencari solusinya. Tiga hari dibekali “peluru” di ruangan LP3Y, tiba saatnya kami turba (turun ke bawah). Sesi ini wajib diikuti peserta tanpa kecuali. Seingat saya, ada tiga tempat yang harus dikunjungi peserta yang telah dibagi kelompoknya. Satu diantaranya Jalan Pasar Kembang atau dikenal “Sarkem”, dekat Stasiun Tugu, Yogyakarta. Saya termasuk kelompok yang menjelajahi Sarkem. Kawasan ini dikenal tempat lokalisasi dalam kota yang sudah lama. Kami dilepas secara terpisah ke Sarkem mulai sore hari hingga dini hari. Di tempat ini, kami harus mendapatkan data dan wawancara yang lengkap dari berbagai narasumber dan berbagai hal. Tentu, hasilnya, banyak cerita dibalik berita yang terungkap di setiap peserta. Setelah selesai liputan, kami bertemu lagi dan saling mengungkapkan kesan dan pesannya setelah berada di kawasan lokalisasi Sarkem. Banyak cerita unik dan lucu dari kawan-kawan wartawan, tapi menarik untuk ditulis dan juga tidak untuk ditulis. Demikian kenangan 27 tahun silam, pada pengujung Januari 1999. Sampai sekarang tak jelas lagi 20 wartawan dari berbagai daerah itu. Terima kasih LP3Y, yang tercatat sebagai alumninya. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Rumahku Bukan Rumahmu Kopi tanpa Asbak