SUMATRALINK.ID – Seandainya Pak Harto, panggilan akrabnya saat berkuasa, masih hidup, usianya kini menginjak 105 tahun. Namun, Presiden kedua RI ini wafat sudah 18 tahun lalu dalam usia 86 tahun. Banyak kenangan manis dan pahit selama hidupnya, terutama yang terbetik kepada anak-anaknya. Pak Harto telah lengser dari kursi presiden pada Kamis, 21 Mei 1998. Aksi mahasiswa dan elemen pergerakan lainnya pada tahun 1998 menjadi tonggak pergantian kekuasaan dari era Orde Baru yang dipimpin Soeharto selama 32 tahun menuju era Reformasi, yang digawangi tokoh-tokoh reformis. Nyaris semua sistem kekuasaan negara dan pemerintahan berubah drastis dan cepat. Sekat-sekat kekuasaan yang selama ini tertutup rapat, mulai terbuka. Rakyat mulai terang-terangan dapat bersuara menyampaikan aspirasi dan kehendaknya dalam berbagai cara dan mekanismenya. Jangan Pendendam Hujatan, cacian, makian kepada Soeharto dan kroni-kroninya terus berlangsung sepanjang reformasi. Dari semua perspektif tersebut, pihak keluarga Pak Harto tetap diam seribu kata. Tidak terlihat tindakan dan perlawanan berarti dari anak-anaknya, yang waktu itu menjadi anak presiden terlama di Indonesia. “Bapak tak pernah jemu mengingatkan kami untuk tetap sabar dan jangan dendam,” demikian terungkap dalam tulisan Siti Hardiyanti Rukmana, anak sulung Pak Harto dalam buku Pak Harto The Untold Stories (2012). Pesan Pak Harto kepada anak-anaknya, lanjut Mbak Tutut, panggilan Siti Hardiyanti Rukmana; “Allah itu sangat menyayangi orang yang sabar, dan sangat membenci orang yang pendendam.” Menurut Mbak Tutut, pesan Pak Harto kalau anak-anaknya membalas dendam pun, tidak akan menyelesaikan masalah, malahan bisa jadi membuat rakyat semakin resah dan sengsara. Jangan hanya karena ingin mempertahankan kedudukan harus mengorbankan rakyat. “Yaknilah bahwa Allah itu tidak tidur, lebih baik kita berserah diri pada Allah, seraya memohon ampunan-Nya, petunjuk serta perlindungan-Nya. Sesungguhnya apa yang Allah kehendaki, itulah yang akan terjadi. “Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan kehendak-Nya. Biarlah sejarah nanti insya Allah yang akan membuktikan,” demikian pesan Pak Harto, yang dijuluki Dr OG. Roeder penulis Jerman, The Smiling General. Sederhana dan Bersajaha Menurut Mbak Tutut, yang pernah jadi Menteri Sosial Kabinet Pembangunan VII, pesan Pak Harto lainnya yakni kesederhanaan dan kesahajaan. Dua sikap ini yang terpatri pada Pak Harto yang tak terpisah selama hidupnya. “Beliau mengajarkan bahwa hidup pasti berputar, oleh karena itu, pada saat di bawah haruslah bersabar dan pada saat di atas haruslah tetap sederhana,” kata Pak Harto disampaikan Mbak Tutut. Indonesia Berdiri Tegak Sejajar Hal paling diingat keluarga Soeharto yakni ketika Pak Harto bahu membahu dengan negara lainnya mendirikan dan mengembangkan sebuah kawasan ASEAN, sehingga mengantarkan Indonesia tegak berdiri sama tinggi di tengah-tengah bangsa lain yang lebih dulu maju dan sejahtera. Sejak berhenti sebagai presiden, Pak Harto banyak melepas lelah dan waktu sengganya bersama keluarga dan anak-anaknya dan bercengkerama dengan alam. Banyak hal yang tersimpan dalam kenangan Pak Harto selama masa istirahat dari kepala negara, termasuk kenangan mereka yang pernah berseberangan Pak Harto di masa lalu. Disiplin Waktu Sebagai seorang tentara yang masa mudanya hidup dalam masa perjuangan, Pak Harto sangat disiplin waktu. Tidak ada kata terlambat dalam hidupnya. Jangankan satu menit, satu detik pun tak pernah ia lewatkan. Pesan Pak Harto kepada anak-anaknya soal waktu. Waktu kita hidup sangat terbatas, karenanya jangan disia-siakan. Jangan sesal datang kemudian karena waktu tak mungkin kembali. Selagi kamu punya waktu, buatlah sesuatu yang bermanfaat yang dinilai Allah baik. Tidak perlu sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah. Tapi cukup kamu mencoba untuk mendekati kesempurnaan yang nantinya akan menjadi bekal kita kembali pada Allah Sang Pencipta. “Sedikit petuahnya, namun sunggu sulit melaksanakannya. Itulah bapak kami,” kata Mbak Tutut, putri sulung pasangan Soeharto – Siti Hartina yang kini berusia 77 tahun. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Supersemar: Secuil Cerita Dibalik Pemindahan Kekuasaan