Sampah rumah tanggaTumpukan sampah liar di Pasar Tempel Beringin Jaya, Kemiling, Bandar Lampung, Kamis (19/3/2026). (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

SUMATRALINK.ID, LAMPUNG – Musim penghujan masih terjadi pada Maret 2026, persoalan sampah di Kota Bandar Lampung semakin memprihatinkan. Pantauan di lapangan, tumpukan sampah rumah tangga hingga limbah plastik menyebar di sejumlah titik terlarang.

Kondisi ini diperparah dengan rendahnya kesadaran masyarakat yang membuang sampah sembarangan meski imbauan pemerintah terus digalakkan. Tumpukan sampah yang basah terkena air hujan menimbulkan aroma bau tak sedap yang menyengat.

Warga yang bermukim dan berlalu lalang terganggu kenyamananannya sehari-hari. Selain masalah bau, sampah yang meluber ke drainase dan sungai dituding menjadi penyebab utama tersumbatnya aliran air.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandar Lampung melaporkan adanya puluhan titik banjir pasca-hujan deras akibat saluran yang dipenuhi sampah BPBD Bandar Lampung.

Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana telah berulang kali mengeluarkan instruksi dan imbauan keras agar masyarakat tidak membuang sampah ke sungai maupun drainase.

Beliau bahkan meminta unit kebersihan untuk melakukan penyisiran sampah secara rutin. Namun, di lapangan, masih banyak warga yang membuang sampah di “TPS liar” pada malam hari, seolah tidak mempedulikan dampak lingkungan yang ditimbulkan.

Kondisi Tempat Pembuangan Akhir sampah (TPA) Bakung yang diprediksi sudah melampaui kapasitas (overload). Setiap harinya, Kota Bandar Lampung menyumbang sekira 750 hingga 800 ton sampah, yang menjadikannya penyumbang sampah terbesar di Provinsi Lampung.

Masyarakat diharapkan segera sadar untuk menjaga kebersihan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama untuk mencegah bencana banjir dan wabah penyakit yang mengintai di musim hujan.(*)

Editor: Mursalin Yasland/Sumber Bantuan AI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *