Bandara Addis Ababa, Ethiopia. (Foto: Mursalin Yasland)
Bandara Addis Ababa, Ethiopia. (Foto: Mursalin Yasland)

SumatraLink.id — Ingat Ethiopia, ingat lagu Iwan Fals. Musisi asal jalanan ini memang (dulu) sangat bersahabat dengan kondisi alam dan sosial. Negara Ethiopia (masih) laparkah? Stigma ini masih menggema di benak orang, terutama generasi masa lalu.

“Aku dengar jeritmu dari sini, aku dengar…

Aku dengan tangismu dari sini, aku dengar…

Namun, aku hanya bisa mendengar, aku hanya bisa sedih

Hitam kulitmu, sehitam nasibmu kawan….”

Kekeringan, kelaparan, dan kematian menghiasi berita radio dan televisi di Indonesia setiap hari. Aku dengar, dan aku hanya menonton rintihan bayi, anak-anak, dan orang tua kurus kering. Tulang belulang hanya berbalut kulit setipis ari. Mereka semua menjemput ajal.

Kami hanya bisa berdoa, kami hanya bisa berharap kepada Dzat Penguasa Alam. Ethiopia, negeri dan bangsamu dilanda kemarau berkepanjangan. Tak kuasa membantu apalagi menyantuni. Organisasi filantropi belum muncul, dompet-dompet dhuafa juga masih awam.

“Waktu kita asik makan, waktu kita asik minum

Mereka haus, mereka lapar. Mereka lapar, mereka lapar….”

Syair dalam lagu Ethiopia Iwan Fals ini aku dengar 37 tahun lalu. Hari ini, aku menjejakkan kaki di bumi Ethiopia, belahan Benua Afrika. Saat lagu dirilis tahun 1986, kondisimu sangat jauh berbeda dengan hari ini.


Ethiopia telah berubah, tak seburuk mata memandang…

Derita penduduk Ethiopia, tak semata faktor alam. Tapi juga kerakusan dan keangkuhan petinggi negeri tersebut yang juga haus kekuasaan. Ethiopia terblokade, seiring terjadi kudeta dalam negeri, konflik bersenjata antarnegara bagian, perang antarsuku, dan lainnya menjadi penyebab utama murka Pencipta bumi tanduk Afrika itu.

Negeri bermuasal namanya Habasyah ini, menjadi daerah tujuan pertama hijrah penduduk Makkah, sebelum ke Madinah. Sepertiga pengikut Nabi Muhammad SAW hijrah ke Ethiopia, karena tak tahan penindasan kaum Quraisy pimpinan Abu Jahal dan Abu Lahab.

Sahabat Abubakar ra dan Utsman ra termasuk istri Nabi SAW hijrah. Tapi, Abubakar balik lagi. Nabi SAW menjamin, ada seorang raja adil dan bijaksana di Habasyah walaupun beragama Nasrani. Dia Raja Najasyih. Sebelum wafat dia sudah berislam.

Kulitmu (memang) hitam, rambutmu ikal. Tapi, satu dari sekian pendudukmu in shaa Allah menjadi ahli surga. Bilal bin Robah, sahabat Nabi Muhammad SAW, di dalam hadistnya menyebutkan suara terompah (sandal) Bilal terdengar di surga (apalagi orangnya).

Bilal, budak hitam asal Ethiopia yang masuk Islam ini, menjadi pelantun azan di Masjid Nabawi, Madinah.

Ketika Nabi SAW wafat, Bilal menghilang. Beliau tidak sanggup azan lagi di menara Masjid Madinah. Air matanya mengucur deras di bumi Madinah tat kala ia mengumandangkan azan terakhir setelah nabi wafat. Azannya sempat terhenti, saking dekatnya beliau dengan Rasulullah SAW.


Ethiopia telah berubah, tak seburuk pikiran kita…

Negeri ini telah menyongsong harapan baru. Pembangunan fisik menjulang, ekonomi meningkat, kesejahteraan penduduk lebih baik. (Meski masih ada pengungsi, itu bagian kecil dari konflik di perbatasan Ethiopia).

Negeri ini – meski kering kerontang, tak ada sungai mengalir, bergiat dalam sektor pertanian berteknologi transformasi, seperti sayur-sayuran, biji-bijian, kopi, kacang, gandum, jagung, dan lain-lain. Produknya dimanfaatkan dalam negeri, dan diekspor untuk pendapatan negara yang penduduknya terbesar kedua di Afrika.

Kepemimpinan Abiy Ahmed Ali (47 tahun), sebagai Perdana Menteri Ethiopia saat terpilih tahun 2018, telah merubah paradigma lama menuju pembaruan. Ia mendapatkan nobel perdamaian, karena mampu mendamaikan penduduk benua Afrika. Latar belakangnya lengkap, akademisi, tentara, dan juga politisi.

Al Busyra Basnur, Dubes RI untuk Ethiopia, Djibouti dan Uni Africa memberikan testimoninya di media sosial. Busyra menuturkan, banyak yang salah sangka dan duga terhadap negara Ethiopia sekarang ini. Stigma negara miskin yang dilanda kelaparan masih menggema saat ini. “Tidak benar adanya. Ethiopia kini sudah maju,” katannya (rm.id, Rabu, 27/5/2020).

Ia mengatakan, Ethiopia pada tahun 1984-1985 mengalami kejatuhan karena kelaparan. Penyebabnya musim kemarau panjang. Negara ini bangkit berkat kekuatan sendiri dan bantuan kolega internasional. Juga bantuan diaspora Ethipoia yang ada di luar negeri. Hasilnya, dari 2008 hingga 2017, pertumbuhan ekonominya mencapai 10 persen.


Ethiopia telah berubah, tak seburuk yang diperkirakan…

Sebelum mendarat di Bandara Internasional Addis Ababa, dari jendela pesawat sama sekali bumi Ethiopia, tidak terlihat pepohonan dan sungai-sungai yang mengitari lereng, bukit, dan gunung. Berbanding terbalik dengan kondisi alam di Indonesia yang airnya melimpah dan hutannya menghijau, serta kaya hasil bumi. Tapi, (nasib) Tanah Air-ku, sudahlah….

Aku berdiam sejenak di Addis Ababa, ibukota Ethiopia. Selama mata memandang, bisa dihitung dengan jari orang-orang sekitar berkulit nonhitam. Sesekali mengobrol dengan warga Ethiopia sambil menunggu lima jam berikutnya. Mereka terbuka dan senang dengan sapaan.

Ada baiknya, lagu Iwan Fals yang kudengar waktu SMP dulu dirilis lagi dengan versi kekinian. (Mursalin Yasland/Ethiopia)