Sebongkah 'batu asing' jatuh di Desa Mulyoadi, Kecamatan Punggur, Lampung Tengah, Lampung,  pada Kamis (28/1/2021). (Dok Foto: Itera)
Sebongkah 'batu asing' jatuh di Desa Mulyoadi, Kecamatan Punggur, Lampung Tengah, Lampung, pada Kamis (28/1/2021). (Dok Foto: Itera)

SumatraLink.id (REPUBLIKA NETWORK) – Malam itu, warga Dusun 5 Astomulyo, Desa Mulyoadi, Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah, Lampung, kaget dengan suara keras di kampungnya, pada Kamis (28/1/2021). Ditemukan bongkahan ‘batu asing’ di belakang rumah warga yang diduga asal suara dentuman tersebut.

Bongkahan batu hitam tak beraturan bentuknya itu akhirnya menjadi buah bibir warga di Lampung, hari Jumat itu. Kejadian ini diselidiki para ahli dari Institut Teknologi Sumatera (Itera). Batu asing itu ternyata batu meteor yang sampai ke bumi atau disebut meteorit.

Peneliti Itera menyebut batu meteorit itu memiliki kandungan

logam (stony-iron), serta memiliki sisi hitam di batuan akibat dari gesekan meteor dengan atmosfer. Saat ditemukan warga, batu itu masih hangat, dampak gesekan atmosfer yang terjadi pembakaran. (Republika.co.id, Jumat 29/1/2021).

“Kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit, begitu pula segala apa yang ada di bumi. Dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Kaya dan terpuji.

“Apakah tidak kamu lihat (pula), bahwasannya Allah telah menundukkan segala apa yang ada di bumi ini bagimu, begitu pula kapal dapat melintasi lautan dengan perintah-Nya (untuk kepentinganmu juga).

“Lagi pula Dialah yang menahan (benda-benda angkasa) untuk tidak jatuh ke bumi, kecuali dengan izin-Nya. Sesunggunya Allah Maha Pengasih dan Penyayang terhadap manusia,” (QS. Surat Al Hajj: 64-65).

Kemudian, pada surah dan ayat lainnya, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan di atasmu Tujuh Petala Langit, dan Kami tidak lengah terhadap urusan ciptaan Kami itu,” (QS. Surah Al Mu’minun: 17).

Tujuh Petala Langit maksudnya beberapa buah bintang Bima Sakti (gugusan ribuan bintang yang beredar di sekeliling matahari), yang tampak dengan mantap sekali dari bumi, ialah Mercury, Venus, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

Benda-benda di angkasa menjadi tanda-tanda kekuasaan-Nya. Allah memang tidak pernah tidur, dan tidak pernah mengantuk, apalagi lalai. Benda-benda langit berputar menurut garis edarnya, tanpa bertabrakan satu sama lain.

Baca juga: Belajar Sedekah dari Perang Tabuk

Allah menahan benda-benda angkasa tersebut tidak jatuh ke bumi, kecuali dengan izin-Nya. Barangkali (wallahu’alam) batu yang jatuh di rumah warga tersebut, salah satu dari benda angkasa yang mendapat izin-Nya.

Bukankah, rontoknya sehelai daun dari dahannya juga atas izin-Nya. Berapa banyak daun-daun yang berguguran baik layu maupun masih segar, terhampar di bumi, juga atas izin-Nya. Manusia tidak dapat memikirkannya secara logika semata.


Kekuasaan dan ilmu Allah tak terbatas. Kalaulah lautan samudra menjadi tinta penanya Allah, masihlah belum cukup untuk menuliskan dahsyat-Nya ilmu Allah itu, meskipun ditambah lagi lautan semisalnya juga belum cukup.

Masih ingat dengan kisah Nabi Muhammad Sholaahu’alaihi wassalam (SAW) saat duduk bersama sahabatnya di sebuah tempat. Di sela-sela obrolannya, terdengar suara dentuman keras. Dalam hadist diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah nomor 2844 menyebutkan:

“Kami dulu pernah (duduk-duduk) bersama Rasulullah SAW. Tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang jatuh. Nabi SAW lantas bertanya, “Tahukah kalian, apakah itu?”

Para sahabat pun menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Nabi SAW menjelaskan, “Ini adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka jahannam sejak 70 tahun yang lalu dan batu tersebut baru sampai di dasar neraka saat ini.”

Subhanallah, sebuah batu dilempar ke dasar neraka, menelan waktu 70 tahun. Betapa dalamnya dasar atau kerak api neraka itu. Bukankah, penghuni kerak api neraka tersebut adalah orang munafik, yang tempatnya berada di bawah orang kafir. Naudzubillahi minzalik (kita berlindung kepada Allah dari perkara tersebut).

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka,” (QS. An-Nisaa: 145).

Abu Fatia Al Adnani dalam bukunya “Hidup Sesudah Mati” (Granada Mediatama, Cetakan I/2008) menyebutkan, luas dan besarnya neraka jahannam diandaikan 70.000 tali kekang dan setiap tali kekang dipegang 70.000 malaikat. Sedangkan besarnya tubuh para penghuninya, yang gerahamnya saja sebesar Gunung Uhud, sedangkan jarak antara kedua pundaknya selama perjalanan tiga hari.

Baca juga: Puasa Dapat Mengikis Sifat Kikir Manusia

Ia juga mengatakan, tempat duduk penghuni neraka Jahannam sejauh kota Makkah dan Madinah (sekira lima jam perjalanan naik bus). Sementara ketika seorang penduduk neraka menangis, maka air matanya yang menetes dapat menjadikan sebuah perahu berlayar di atasnya. Subhaanallah.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu,” (QS. At-Tahrim: 6)

Dari kejadian ‘batu asing’ yang jatuh dari angkasa ke bumi tersebut, dapat diambil ibroh (pelajaran) bagi orang beriman yang berakal. Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland)