Suasana ruang tunggu Stasiun KAI Kertapati, Palembang, pada arus balik lebaran Idul Fitri 1445 H, Senin (14/4/2024). (Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland). SumatraLink.id – Penantian panjang telah berakhir, begitulah kisah pemudik lebaran yang lega menggunakan jasa kereta api (KA) penumpang dari Bandar Lampung (Lampung) ke Palembang (Sumatra Selatan) dan sebaliknya. Mudik dengan moda angkutan publik KA kelas ekonomi seharga Rp 32.000 per penumpang fasilitasnya tak sebanding dengan harganya. Pengelolaan pelayanan dan fasilitas penumpang KA oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) tidak seperti zaman lampau. Perubahan terjadi sejak dipimpin Dirut PT KAI Ignasius Jonan dan dilanjutkan kepemimpinan setelahnya, membuat para penumpang KA terus ‘dimanjakan’ dengan layanan bak penumpang kelas eksekutif di sebuah bandara internasional. Cerita-cerita lama ‘negatif’ para penumpang KA — apalagi saat mudik lebaran menggunakan jasa KA kelas ekonomi dan bisnis, hilang dengan seketika. Para penumpang yang menggunakan KA ekonomi Rajabasa rute Stasiun Tanjungkarang (Bandar Lampung) menuju Stasiun Kertapati (Palembang) dan sebaliknya seperti raja. Pembelian tiket KA walaupun kelas ekonomi dilayani dengan online sesuai dengan keterpenuhan tempat duduk. Pemesanan dapat dilakukan paling cepat tiga bulan (H-90) sebelumnya. Pemudik tidak perlu lagi antrean panjang dan berdesakan membeli tiket cetak langsung di stasiun, tiba di depan loket justru tiket sudah habis terjual, seperti zaman dulu. Lina (57 tahun), ibu rumah tangga dua anak yang setiap tahun mudik lebaran dari Lampung ke Palembang mengaku puas dengan layanan PT KAI meskipun jenis KA yang digunakan kelas ekonomi. Ia kerap pulang kampung ke Palembang menggunakan jasa KA dari Stasiun Tanjungkarang ke Kertapati. “Sangat jauh berbeda sekarang dan dulu. Naik kereta kelas ekonomi sudah seperti kelas eksekutif di bandara. Padahal, harga tiketnya hanya Rp 32.000 per penumpang,” kata Lina, warga Beringin Jaya, Kemiling, Kota Bandar Lampung, Selasa (16/4/2024). Ia dan keluarga mudik lebaran Idul Fitri 1445 H, selalu menggunakan jasa KA. Tahun ini, ujar dia, pelayanan PT KAI semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi ini sudah terlihat ketika memasuki area parkir, pencetakan tiket online, sampai masuk ruang tunggu menjelang waktu keberangkatan. Para pemudik sedang menunggu masuk gerbong di Stasiun Tanjungkarang. (Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland). KA Rajabasa I dan II melayani penumpang dari Stasiun Tanjungkarang ke Stasiun Kertapati dan sebaliknya. Harga tiket Rp 32.000 per penumpang. PT KAI hanya menyediakan angkutan kereta penumpang hanya kelas ekonomi. Sedangkan KA Limek Sriwidjaya kelas bisnis dan eksekutif sudah ditiadakan, jauh sebelum pandemi Covid-19 melanda. Penumpang KA Ekonomi Rajabasa mengaku puas dengan layanan PT KAI baik pada arus mudik dan balik lebaran Idul Fitri 1445 H. Tadinya, hanya lima gerbong KA, menghadapi lonjakan penumpang arus mudik tahun ini ditambah satu gerbong lagi menjadi enam rangkaian gerbong. “Saya merasakan langsung pelayanan kereta sekarang lebih baik dari yang dulu-dulu, berdesak-desakan, panas, pengab, banyak yang jualan, banyak yang merokok di dalam kereta,” ujar Usman (53 tahun), penumpang KA Ekonomi Rajabasa saat balik lebaran dari Palembang ke Lampung. Usman mudik dengan keluarga ke Prabumulih dari Tanjungkarang (Bandar Lampung). Ia merantau ke Lampung karena bekerja di provinsi Sai Bumi Ruwa Jurai (Lampung). Ia termasuk orang perokok kesehariannya. Tetapi, penerapan peraturan di lingkungan stasiun dan dalam kereta, membuatnya menahan diri untuk tidak merokok sembarangan. Ancaman dari petugas maupun dari tulisan terpajang di area stasiun dan kereta, banyak penumpang yang tadinya “ahli hisab” (perokok) terpaksa ‘puasa’ merokok saat arus balik lebaran siang hari. Petugas tidak segan-segan bila ada penumpang yang merokok di dalam gerbong termasuk di dalam toilet menurunkannya di stasiun berikutnya. Suasana penumpang di dalam gerbong KA Rajabasa. (Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland). KA Rajabasa I berhenti di stasiun kecil. Usman keluar gerbong. Ia mencoba mengeluarkan sebatang rokok saat tiba di stasiun kecil di Negara Ratu (Lampung), tapi ia langsung ditegur petugas stasiun yang siaga berjaga di area stasiun. “Maaf pak, disini dilarang merokok. Kalau mau merokok di bawah ada area merokok. Tapi, hanya 10 menit saja, kereta sudah mau berangkat lagi,” kata petugas KAI menyapa Usman, yang sudah berada di luar gerbong. Usman langsung menuju ke bawah, menempati kursi di area merokok. Dengan teguran petugas itu, banyak para “ahli hisab” mengikutinya secara terburu-buru, karena hanya disediakan waktu 10 menit. “Lumayan dapat beberapa kali hisap,” tutur Usman, yang mengaku mulutnya pahit kalau habis makan siang tidak merokok. Peraturan ketat dilarang merokok di area stasiun hingga dalam kereta membuat senang para penumpang khusus kalangan ibu-ibu dan kaum perempuan, terutama yang membawa bayi dan anak-anak. Pada zaman lampau, siapa pun dapat merokok sembarangan di dalam stasiun, apalagi dalam gerbong. Menurut Bayu, seorang petugas KAI di Stasiun Tanjungkarang, pelayanan memuaskan untuk penumpang menjadi hal utama ditekankan pihak manajemen. Sebelum keberangkakan KA, petugas mengecek kesiapan lokomotif dan jalur rel yang akan dilalui. “Selama ini berjalan normal, tidak ada masalah, termasuk titik-titik rawan anjlok,” kata Bayu. Penumpang arus mudik lebaran Idul Fitri 1445 H di Stasiun Prabumulih, Sumatra Selatan. (Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland). Mudik bersama KA ekonomi Rajabasa beberapa tahun terakhir, sudah berbeda 180 derajat dengan masa lalu. Fasilitas ruang tunggu yang “dingin menggigil”, toilet yang ‘harum’, dan suasana yang nyaman dan tenang di stasiun dan dalam gerbong, menjadi betah para pemudik menggunakan jasa KA. Para pemudik berharap PT KAI mempertahankan layanan fasilitas yang ada bahkan lebih ditingkatkan lagi di tahun-tahun mendatang. Selain itu, pemudik juga berharap manajemen PT KAI mengembalikan lagi KA Limeks Sriwidjaya yang melayanai penumpang pada malam hari. Berdasarkan pendapat penumpang, KA Limeks Sriwidjaya yang berangkat malam kelas bisnis dan eksekutif sangat diminati para penumpang, karena dapat meringkas waktu malam untuk istirahat, ketika tiba pagi hari dapat langsung beraktivitas lagi, dan malamnya dapat pulang balik ke daerah asal lagi. “Sayang kalau KA Limeks Sriwidjaya yang berangkat malam hari ditiadakan, karena kereta api penumpang jalur Lampung – Palembang ini memiliki nilai historis,” kata Shalih (54 tahun), warga asal Palembang yang merantau ke Lampung. Selain itu, Shalih juga berharap manajemen PT KAI dapat memperpendek waktu tempuh Lampung – Palembang (PP) yang tadinya sembilan jam menjadi di bawahnya. Hal ini dikarenakan, para penumpang KA Rajabasa masih harus melanjutkan lagi perjalanan ke tempat tujuan dengan moda angkutan lain. “Kalau tiba di Stasiun Tanjungkarang atau Stasiun Kertapati pada malam hari atau waktu Maghrib, banyak penumpang yang khawatir dengan keamanan. Coba tiba di tujuan masih sore penumpang lebih enak bergerak,” kata Shalih, wiraswastawan di Bandar Lampung. Meski demikian, Shalih dan para penumpang KA yang mudik lainnya mengaku puas dan senang dengan layanan PT KAI, meskipun pemudik naik KA ekonomi dengan seharga Rp 32.000 mendapatkan pelayanan sama rasa dengan penumpang eksekutif. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Nasi Minyak Salah Satu Menu Berbuka Puasa Ramadhan Cerita Mudik: Pemudik yang Kalah (atau Mengalah)