SUMATRALINK.ID — Suatu pagi, Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam (SAW) duduk di beranda rumahnya. Utsman bin Mazh’um Rodhiyallahuanhu (RA) lewat dan tersenyum hendak berlalu meninggalkan Nabi SAW.

“Tidakkah engkau duduk sejenak,” kata Rasul SAW sembari duduk menghadap kiblat.

“Ya,” jawab Utsman.

Keduanya memulai perbincangan singkat.

Tiba-tiba, Rasul SAW membukakan matanya dan memandang ke langit. Utsman juga ikut memandang ke langit. Kemudian Rasul SAW mengarahkan padangannya ke sebelah kanan di tanah dan berpaling dari tempat duduknya.

Utsman heran apa yang dilakukan Rasul SAW.  Ia memerhatikan kepala Rasul SAW bergerak-gerak, seakan memahami sesuatu. Rasul SAW masih belum bicara. Beliau mengalihkan pandangannya ke langit seperti semula, sampai menghilang pandangannya ditelan langit.

Baca juga: Menyikapi Bencana Menimpa Kita

“Hai Muhammad, selama aku menemanimu duduk, tidak pernah aku melihatmu melakukan perbuatan seperti perbuatanmu pada pagi hari ini,” ujar Utsman.

“Apa yang engkau lihat dari apa yang aku kerjakan?” tanya Rasul SAW.

“Aku melihat engkau mengarahkan pandanganmu ke langit, kemudian engkau menjatuhkan pandanganmu ke sebelah kananmu, lalu engkau berpaling kepadanya dan membiarkanku, engkau menggerakkan kepalamu seolah-olah engkau sedang memahami apa yang dikatakan kepadamu,” kata Utsman.

“Apakah engkau mengetahui hal tersebut?” tanya Rasul SAW.

“Ya,” jawab Utsman.

Rasulullah SAW bersabda, “Tadi aku telah didatangi oleh utusan Allah, sedang engkau dalam keadaan duduk.”

“Apakah itu utusan Allah (malaikat Jibril ‘alaihissalam)?” tanya Utsman.

“Ya,” jawab Rasul SAW.

“Lalu, apa yang dikatakan kepadamu?” tanya Utsman.

Maka, Rasulullan SAW menjawab, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berbuat adil dan berbuat kebajikan (kebaikan), memberi kepada kaum kerabat (silaturrahmi), dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

“Yang demikian itu, terjadi ketika iman telah benar-benar bersemayam di dalam hatiku, dan aku sungguh mencintai Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam,” ujar Utsman.

Hadist Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Ahmad itu berasal dari Abdullah bin Abbas RA, terkait sebab turunnya Al Quran Surah An-Nahl (16) ayat 90.

Dalam ayat tersebut, Allah Subhanahuwata’ala (SWT) menyuruh umatnya berlaku adil dan berbuat baik serta menyambung tali silaturrahmi kerabat.  Selain itu, Allah melarang berbuat keji, mungkar, dan permusuhan.

Berlaku adil. Menurut Ali bin Abi Thalhah dalam tafsir Ibnu Katsir mengatakan, (dalam persfektif agama) adil itu berupa kesaksian, bahwasannya tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) selain Allah.

Sedangkan Sufyan bin Uyainah mengatakan, adil adalah sikap sama dalam melakukan amal untuk Allah, baik amal yang dilakukan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Dalam perspektif empiris, berlaku adil itu mengambil jalan tengah dan seimbang. Adil tidak mesti sama berat dan timbangannya. Akan tetapi, adil dapat berlaku sesuai dengan kebutuhan sesuatu tersebut.

Baca juga: Umar Menangis, Nabi: Aku Bukan Raja

Berlaku adil ini, pada hakikatnya berada pada diri seseorang. Tidak saja, berlaku adil dimiliki pada penguasa, pemimpin, hakim, kepala lembaga, kepala rumah tangga, atau ibu rumah tangga. Namun, berlaku adil ini juga terhadap diri sendiri. Berlaku adil artinya tidak melakukan zalim terhadap siapa pun, termasuk diri sendiri dan keluarganya.

Berlaku adil juga dibarengi dengan berbuat baik. Berbuat baik adalah pilihan. Ada dua jalan bagi manusia agar selamat di dunia dan akhirat. Pertama, jalan menuju kebahagiaan dan jalan menuju kesesengsaraan. Dua jalan itu masing-masing berbalas kebaikan dan keburukan terhadap pelakunya. Semua itu pilihan, agar kita dapat mengambil pelajaran.

Dalam kitab Tanbihul Ghafilin karya Abul Laits As-Samarqandi, Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata, sesungguhnya Allah tidak akan menurunkan azab secara merata kepada semua orang karena perbuatan orang-orang tertentu. Akan tetapi, apabila kemaksiatan merajalela dan tidak ada orang yang berusaha untuk mencegahnya, maka sudah sepantasnya jika semua orang akan menerima azab.

Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda, “Hendaklah kamu sekalian menyuruh untuk berbuat baik meskipun belum bisa mengerjakannya, dan hendaklah kamu mencegah perbuatan mungkar, meskipun kamu belum mampu meninggalkannya.”

Dalam hal amar makruf nahi mungkar (berbuat baik dan mencegah kemungkaran) ini, mengajak orang lain berbuat baik hendaknya dilakukan diam-diam, karena akan lebih maslahat. Nasihat dari Abu Darda RA, “Barang siapa memberi nasihat kepada saudaranya secara terang-terangan, maka berarti ia mempermalukan saudaranya itu.”

Apabila dengan cara diam-diam itu tidak berhasil, maka baru bisa dilakukan secara terang-terangan, tentunya meminta bantuan kepada ahlinya. Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *