Ilustrasi: Gelombang tsunami meluluhlantakan rumah warga di bibir pantai Teluk Lampung. (Foto: Republika.co.id/Mursalin Yasland)

SUMATRALINK.ID — Azan Isya’ berkumandang, si Fulan bersiap shalat berjamaah. Motornya pun siap meluncur ke masjid, yang agak jauh dari rumahnya. Muadzin selesai, si Fulan batal (kentut). Ia harus mengulangi lagi wudhu’-nya di kamar mandi.

Sempat menyita waktu beberapa menit berwudhu dan berkemas lagi, si Fulan berangkat ke masjid, letaknya pinggir jalan lintas yang ramai lalu lintas kendaraan. Di pertigaan jalan yang gelap, tidak biasanya macet kendaraan. Orang-orang pada ramai berkerumun dan riuh.

“Baru saja terjadi tabrakan motor dan mobil. Orang yang dimotor terpental jauh,” kata seorang warga saat ditanya si Fulan saat menghentikan motornya di lokasi kejadian persis depan masjid yang dituju.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Semua terpulang kepada Allah Subhanau wata’ala (SWT) yang menciptakan dan mengatur alam sejagad ini. Si Fulan termenung sejenak. Kejadian nyata tabrakan ini mengingatkan ia kenapa harus mengulang kembali wudhu setelah siap berangkat shalat. Selisih berapa menit dari kejadian, hikmahnya ia terselamatkan dari musibah itu.

Baca juga: Umar Menangis, Nabi: Aku Bukan Raja

Benar sabda Nabi Muhammad Sholallahu’aihi wassalam (SAW), “Memang sangat menakjubkan keadaan orang mukmin itu, karena segala urusannya sangat baik baginya dan itu tidak akan terjadi kecuali bagi seseorang yang beriman, dimana bila mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka yang demikian itu sangat baik baginya, dan bila ia tertimpa kesusahan ia bersabar, maka yang demikian itu sangat baik baginya,” (HR. Muslim).

Kejadian ini sama halnya dengan ujian, cobaan, musibah, bencana lainnya. Seperti banjir, gempa, tsunami, gunung meletus, tanah longsor, kebakaran, kecelakaan, penyakit, dan sebagainya. Petaka yang menimpa umat ini terus akan berlangsung sampai hari kiamat.

Sikap seorang mukmin dalam menghadapi musibah atau bencana, tentunya dengan iman kepada takdir Allah SWT. Semua yang terjadi di muka bumi tidak terlepas dari takdir Allah SWT.  Allah SWT telah menetapkan takdirnya jauh sebelum langit dan bumi diciptakan.

Tak mungkin sesuatu terjadi tanpa kehendak Allah SWT. Tidak mungkin musibah, bencana, cobaan, atau ajal  yang terjadi Allah SWT tidak mengetahui. Hal yang mustahil. Semua berjalan dan berotasi atas kehendak-Nya. Manusia hanya bisa merencanakan, memprediksi, mengantisipasi, tetapi ketetapan takdirnya hak prerogatif Allah SWT.

Terhadap takdir Allah SWT ini, masih banyak orang yang lalai dan melupakan dengan Dzat yang menciptakan manusia. Bahkan, na’udzubillahi, ada yang mengeluh, mengumpat, dan menentang, atau memberontak atas ketentuan takdir Allah SWT. Seharusnya, sikap seorang yang tertimpa musibah dan bencana itu kembali lagi kepada Allah SWT yang menguasai langit dan bumi. Yang Maha mengatur alam semesta ini.

Ada hikmah yang pasti dapat dipetik dari musibah atau bencana itu, yang mungkin tidak dapat diketahui sekarang, atau bahkan nanti diakhir.  Intinya dari musibah dan bencana ini, semua orang hendaknya kembali kepada Yang Maha Kuasa, dan segera bertaubat kepada-Nya. bermuhasabah, merenungi dosa-dosa dan maksiat yang selama ini sadar atau tidak sadar telah menghiasi hidup ini.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka seagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar),” (QS. Ar-Ruum: 41).

Menyikapi musibah dan bencana apapun bentuknya baik lahir maupun psikis, semua ada hikmahnya. Siapa kita, apa jabatan kita, dari keturunan apa kita, semua akan terpulang dari perbuatan dan perilaku yang kita jalani dalam kehidupan ini.

 Baca juga: Orang Kaya yang Saya Kenal

“Dan Kami menguji mereka dengan berbagai kebaikan dan keburukan agar mereka kembali,” (QS. Al-A’raaf: 168).

Maka setiap kali keadilan dan kebenaran ditegakkan, otomatis semakin banyaklah keberkahan dan kebaikan di muka bumi. Artinya, dalam kitab Shahihain menyebutkan, jika orang jahat mati, niscaya para hamba, kota, pohon, dan binatang-binatang melata akan mendapat ketenangan dalam kehidupan ini. Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *