Para ibu rumah tangga mengupas kayu gelam di Mesuji, Lampung. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

SUMATRALINK.ID, MESUJI — Tumpukkan batang kayu gelam, menjadi pemandangan rutin Rohina. Ibu berusia 41 tahun itu rela melepaskan aktivitas wajib seorang istri  di rumah dari pagi hingga petang, demi mencari nafkah tambahan suami untuk kebutuhan keluarga.

Kayu gelam yang berada di Desa Tanjung Mas Makmur, Kecamatan Mesuji Timur, Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung , satu-satunya mata pencarian ibu beranak tiga tersebut untuk menyambung hidupnya sehari-hari. Selepas sarapan pagi, ia berangkat ke pinggir kali atau kanal buatan.

Ribuan kayu gelam, satu per satu dipisahkan. Ukuran besar dan kecil menjadi prioritas Rohina untuk mendapat upah dari majikan. Pekerjaan menguliti kayu gelam, sudah ia tekuni belasan tahun. Meski pekerjaan tersebut untuk lelaki, namun ia mengaku sanggup melakukannya.

“Kalau hanya mengupas kulit kayu gelam, saya masih sanggup mengerjakannya, jadi tidak masalah,” ujar Rohina di tempat kerjanya, beberapa waktu lalu.

Panas terik matahari ataupun hujan, tak mengurungkan ibu ini melanjutkan pekerjaannya. Pasalnya, semakin banyak batang kayu gelam yang bersih kulitnya, semakin banyak pula upahnya.

Sambil membawa anak ketiganya berusia lima tahun ke tempat kerja yang beratapkan selembar tenda plastik, ia rela mengupas kulit kayu gelam yang beratnya berkisar tiga sampai enam kilogram.

Desa Tanjung Mas Makmur, menjadi tempat tumbuhnya kayu gelam. Kayu gelam ini tumbu secara liar di lahan-lahan rawa yang tidak terurus. Sejak kayu gelam sering ditebangi, volume kayu gelam di desa ini semakin berkurang.

“Kayu-kayu gelam di sini sudah hampir habis, kalaupun ada batangnya berdiameter kecil-kecil.

Rohina bersama warga lainnya yang tidak memiliki pekerja mapan, hanya bisa mencari tambahan rejeki untuk kebutuhan keluarga dan anak sekolah. Sehari, dari pagi hingga petang, ia mampu mengupas kulit kayu gelam sebanyak 100-an batang.

Upah mengupas kulit kayu gelam untuk ukuran diamater batang kecil Rp 900 per batang, dan diameter batang besar Rp 1.300 per batang.

“Lumayan sehari bisa dapat 100-an batang kayu,” ungkapnya.

Suami Rohina hanya seorang buruh harian lepas di pasar desa. Untuk menambah biaya hidup dan menyekolahkan anak tertuanya di SMP, ia terpaksa mencari nafkah tambahan.

Setelah kayu bersih dikuliti, kayu tersebut dibawa dengan kapal menuju sungai Mesuji. Dari dermaga sungai tersebut, kayu berlayar ke Pulau Jawa. Peminat kayu gelam di Pulau Jawa sangat tinggi, karena kayu gelam yang bertekstur khusus dari kayu lainnya, tidak ada di Jawa.

Minimnya produksi kayu gelam di Mesuji sendiri, kayu gelam olahan Rohina dan warga lainnya, dipasok dari Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatra Selatan.

Harga kayu gelam yang sudah bersih dari kulitnya bervariasi berkisar Rp 3.500 hingga Rp 5.500 per batang. (Mursalin Yasland/Republika)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *