SUMATRALINK.ID — Tulisan AS Laksana berjudul “Serenada Pipit Senja” yang apik setidaknya telah memaknai kita semua tentang apa artinya hidup? Hidup itu berproses, hidup penuh suka-duka, hidup penuh cobaan sekaligus harapan. Etty Hadiwati Arief alias Pipit Senja penulis senior yang usianya 69 tahun telah mengkaryakan 208 judul buku mayoritas novel telah banyak melewati masa-masa pelik, kelam, dan suram, tapi penuh bermakna. Banyak hal yang dipetik dari kisah Pipit Senja yang dinukil AS Laksana di akun FB-nya. Beberapa hal menjadi pelajaran hidup bagi manusia. Hidup ini penuh cobaan dan ujian. Sejak bocah, ia sudah divonis mengidap penyakit “thalassemia”, penyalit serius. Ia harus transfusi darah seumur hidup. Di tubuhnya banyak mengalir darah sejumlah orang, terutama para purnawirawan TNI, yang menurut istilah AS Laksana kalau dikumpulkan sedanau. Saking tidak terhitungnya. Subhanallah. “Ia bertahan hidup dengan kasih, mengalahkan diagnosis yang meramalkan umurnya tidak bakalan panjang,” tulis AS Laksana. Ini menjadi pelajaran hidup yang utama, ternyata ajal tak mengenal jenis penyakit. Ajal tak mengenal tua atau muda, atau masik kanak-kanak atau bayi. Bila sudah waktunya, tak dapat maju, apalagi dimundurkan barang sedetikpun. Setiap hari ia mengkonsumsi obat-obatan, yang membuat kondisi tubuhnya mulai ringkih. Tapi, pelajaran hidup penting seorang Pipit Senja tak mengenal kata kalah, putus asa, frustasi atas nasibnya. Ia tetap saja menulis, menulis, dan terus menulis. Hobinya, ternyata dapat meruntuhkan semua yang normal dalam hidup kebanyakan orang. Hanya untuk menulis dengan khusyuk, ia harus menginap di masjid. Luar biasa…!!! “Di rumah besannya, ia kesulitan menemukan tempat untuk menulis. Maka, ia pergi ke masjid At-Tin di Taman Mini dan sering menginap di sana,” tulis AS Laksana. Selama “ngekos” di masjid, kedua anaknya yang sudah berkeluarga pun mengira ibunya menginap di tempat salah satu anaknya. Dalam pengasingan di rumah Allah, ia kerap mendapat nasi bungkus. Sebagai “tuna wisma”, ia nikmati sebungkus nasi dengan lauk sebagai penyambung hidup dengan rasa syukur. Tetesan-tetesan air matanya, berasa asin nasi bungkusnya yang akhirnya ia menertawakan dirinya sendiri. Dalam kondisi sulit dan peluh, ternyata ada tawa dibalik itu untuk menghibur diri yang dirasa mahal harganya: nikmat syukur. Pelajaran hidup terpenting dari kisah Pipit Senja, yakni ia tetap istiqomah dengan profesi yang disandangnya sebagai penulis sejak kecil hingga akhir hayatnya. Ladang rezekinya mengalir dari hobinya menulis hingga berkat ilmunya beliau diundang ke berbagai acara di dalam dan luar negeri. Artinya, dalam hidup ini jangan pernah menyia-nyiakan dan takut dengan sekecil apapun kemampuan diri sendiri yang telah ditekuni sejak awal, untuk menopang hidup kita selanjutnya. Semoga amal sholih dan karya beliau menjadi ladang pahala Mbak Pipit Senja di akhirat. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Pendeta Bahira Yakini Kenabian Muhammad SAW Sejak Usianya 12 Tahun Demi Hidup, Ibu Ini Rela Mengupas Kayu Gelam