Ilustrasi: sedekah. (Foto: Dok. Freepik.com

SEORANG bapak pensiunan pegawai negeri, usianya terpaut jauh di atas saya. Tapi, ia menginspirasi dalam hidup saya. Kenal pun dengan bapak tiga anak ini dalam suatu pengajian (taklim) di salah satu masjid di Bandar Lampung, malam Ahad, setelah ia beberapa tahun purnatugas dari sebuah instansi pemerintah.

Seiring waktu berjalan, cerita beberapa tahun silam, saya agak terkagum tatkala mendapat kabar dari seorang jamaah kalau ia telah menghibahkan seunit mobil pakaian pribadinya berserta surat-suratnya kepada pengurus masjid pengajian tersebut.

Niat menghibahkan mobil masih layak pakai ini, lantaran pengurus masjid kerap mengalami kesulitan alat transportasi dalam menjemput dan mengantar ustadz untuk kajian malam, ketika berada di luar kota atau di daerah. Waktu itu, belum ada jalan tol seperti sekarang.

Satu masalah bagi takmir masjid sudah selesai, tatkala ia menghibahkan mobil untuk antarjemput ustadz dan juga keperluan masjid lainnya. Jarang, atau bahkan tidak terdengar ada jamaah atau warga yang langsung memberikan mobil kepada orang yang memerlukan tanpa syarat.

Dalam hati saya berpikiran,  bapak ini seorang crazy rich (kaya raya); seperti lirik lagu Iwan Fals – Bento — harta melimpah, mobilku banyak, orang memanggilku bos eksekutif. Jangankan mobil pakaian sendiri, motor atau pun sepeda saja sangat jarang ada orang yang rela dan ikhlas menghibahkan kepada seseorang.

Waktu berjalan berlalu, saya mulai agak dekat mengenal bapak satu ini. Ada kesempatan berkunjung ke rumahnya tatkala dapat kabar beliau sakit, saya berpikiran rumahnya seperti rumah pejabat atau pengusaha ada pintu gerbang dan dijaga pos pengamanan.

Ia memisahkan ruang tamu untuk lelaki dan perempuan. Bapak dan istrinya ini dikenal selalu ada tamu dari rekan sejamaah dan juga warga setempat setiap hari. Untuk tidak saling menganggu satu sama lain, ruang tamu dipisah antara lelaki dan perempuan.

Lalu, bagaimana dengan isi (perabotan) rumah keluarga bapak ini? Tak ada yang istimewa atau barang luks di dalam rumahnya. Seperti layaknya isi rumah orang biasa, begitulah yang ada di rumah bapak ini. Namun, memang, tipe rumahnya tidak besar, akan tetapi terdapat tanah lebih berisi tanaman keras dan juga sayur-sayuran, untuk melepas penat bapak pensiunan ini setiap hari.

Tradisi berbagi ini sudah ia jalani sejak lama, tidak saja selepas pensiun. Kalau mendekati akhir bulan, di dalam rumahnya sudah menumpuk beras berton-ton, ia mengambil langsung dari sentra beras Talangpadang atau Pringsewu, Lampung. Orang sekitar rumah tempat tinggalnya, dan juga teman dekat, atau temannya dari temannya lagi yang berkekurangan, mendapat jatah gratis beras 10 kg setiap bulan.

Jumlah penerima beras 10 kg tersebut ratusan orang, ada yang datang langsung mengambil ke rumahnya, atau diantar orang lain yang kebetulan rumahnya berdekatan. Pembagian beras ini sudah berlangsung lama jauh sebelum ada progam bantuan sosial dari pemerintah yang dibagikan kadang timbul tenggelam.

Keluarga bapak ini juga sangat sensitif bila mendapat kabar ada orang yang mengalami kesulitan dalam hidup apalagi terkabar sakit atau meninggal dunia. Secepat dan sesegera mungkin ia mendatangi atau memberikan santunan kepada ahli musibah atau orang yang mendapat cobaan hidup. Terkadang istrinya bersama tim juga ikut memandikan jenazah (tentunya perempuan) bila berkesempatan datang dan memberikan bantuan.

Ketika ada sebuah Rumah Al-Quran yang (baru merintis) kesulitan membangun tempat pengajian, ia hadir membantu. Ceritanya, kala itu, ada rumah untuk anak-anak dan ibu-ibu belajar mengaji, tetapi lantainya belum di keramik, ia menawarkan diri untuk mewakafkan keramik agar proses belajar mengaji aman, nyaman, dan lancar.

Donasi telah diberikan, namun pemasangan keramik tak kunjung terlaksana. Setelah beberapa kali ditanyakan, belum ada jawaban memuaskan. Akhirnya, (kebetulan waktu itu istri bapak tersebut), langsung mengambil alih pekerjaan pemasangan keramik dengan mamanggil tukang dan membeli material, hanya dalam hitungan beberapa hari saja sudah selesai dan dapat dipakai untuk mengaji.

Belum lagi menjelang Ramadhan, keluarga bapak ini telah lebih dulu memberikan bantuan sosial berupa paket sembako kepada warga sekitar rumah dan juga teman kerabat dekatnya. Paket sembako ini, setidaknya bertujuan agar memasuki bulan puasa umat tidak pusing lagi memikirkan untuk berbukan dan sahur.

Ketika menjelang Idul Fitri, keluarga bapak ini kembali hadir lagi memberikan paket lebaran kepada warga sekitar dan teman-teman dekatnya. Tujuannya, tidak lain agar mereka bisa berlebaran di hari raya tersebut.

Keluarga bapak ini juga banyak membantu beberapa orang yang kesulitan mencari tempat untuk usaha. Ia pernah merelakan dua pintu rukonya untuk orang yang memerlukan tempat untuk berusaha, seperti tempat jahit dan air isi ulang. Ruko yang berada strategis di pinggir jalan raya tersebut dipinjamkan secara gratis kepada warga tanpa syarat. Tinggal lagi, yang meminjam harusnya berpikir kalau sudah dalam hitungan tahun, agar dapat berganti dengan yang lain yang sangat memerlukan.

Beberapa cerita ini, yang dapat saya ketahui dari keluarga bapak ini, saya sangat yakin masih banyak hal-hal baik dan positif baik skala besar atau yang kecil remeh temeh yang saya tidak ketahui persis dalam kehidupannya. Seperti membantu perjuangan umat di dalam negeri atau luar negeri dalam melawan kezaliman.

Pada kesempatan ini, saya hanya ingin melihat seseorang yang kaya itu setidaknya seperti ini memanfaatkan kekayaan harta benda dan kekayaan hatinya untuk dapat dinikmati orang lain, bukan hanya untuk dirinya sendiri, apalagi sampai menumpuk-numpuk harta benda kekayaan.

Dari cerita ini, saya teringat apakah orang seperti ini yang tersebut dalam hadist Rasulullah Sholallahu’alaihi wassalam (SAW), “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya,” (HR. Ath-Thabrani).

Jangan tanya rezekinya dari mana bapak pensiunan ini. Yang jelas, ia seorang yang saya kenal taat beribadah sudah haji dan beberapa kali umroh, rajin pengajian, dan faham belum soal haram dan halal. Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta, justru akan menambah rezeki,” (HR. Muslim).

Tulisan ini tidak berarti saya sedang menyanjung atau juga memamerkan seseorang (yang kebetulan masih hidup orangnya, dan mungkin juga bila disebutkan nama dan tempat tinggalnya mungkin dia sangat keberatan). Paling tidak, cerita nyata seperti ini menginspirasi bagi saya dan kita semua terutama orang kaya hati dan kaya harta untuk berbagi sesama bukan flexing (memamerkan kekayaan) seperti crazy rich yang tampil di medsos.

Tepatlah kalau jiwa manusia itu ada kelebihan dan ada kekurangan dan atau kekhilafan dalam hidupnya. Semua manusia sudah pasti tidak maksum (terlepas dari dosa) kecuali Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Allahu a’lam bishawab. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *