Berzikir dalam masjid. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

SUMATRALINK.ID – Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah Subhanahuwata’ala (SWT). Allah SWT yang Maha Esa dan Maha Kuasa atas segala sesuatu apa yang diciptakan-Nya. Sepantasnya sebagai makhluk sempurna yang diciptakan, manusia senantiasa mengingat-Nya dengan cara berdzikir sepanjang waktu.

Allah SWT berfirman, “Karena itu, ingalah kamu kepada-Ku, niscaya Aku akan ingat (pula) kepadamu,” (QS. Al-Baqarah: 152).

Dari ayat tersebut, sangat jelas bila kita tidak pernah atau lalai dari mengingat (berdzikir) kepada Allah SWT yang menciptakan manusia, maka ia tidak akan mengingat kita.

Dalam hal berdzikir dengan menyebut nama dan kebesaran Allah SWT ini, kita diperintahkan melakukan dengan suara lemah dan lembut (tidak mengeraskan suara), dan dilakukan sebanyak mungkin di pagi dan petang.

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang,” (QS. Al-Ahzab: 41-42).

Dzikir ini dapat dilakukan berbagai tempat dan waktu, baik ketika selesai shalat, beraktivitas dunia, hingga menjelang tidur.

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring,” (QS. An-Nisaa’: 103).

Sesungguhnya kehidupan umat Nabi Muhammad SAW ini hadir di dunia ini untuk berdzikir atau mengingat-Nya dalam kondisi apapun, terlebih selesai shalat. Artinya, ibadah dzikir ini tidak lepas dari umat Muslim tanpa terkecuali agar ia selamat dalam hidup di dunia terlebih di akhirat. 

Bila kita hidup tapi enggan berdzikir, maka kehidupan kita seperti orang mati yang tidak bisa berbuat apa-apa. Abu Musa Al-Asy’ari Rodhiyallahuanhu berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berdzikir kepada Allah seperti orang yang hidup dan mati,” (HR. Bukhori).

Pentingnya berdzikir dalam kehidupan dan aktivitas umat Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam (SAW) di dunia ini, sehingga kelak di akhirat tatkala tidak ada naungan selain naungan Allah SWT yakni seorang lelaki yang berdzikir kepada Allah dalam keheningan sehingga bercucuran kedua air matanya karena takut kepada Allah.

Nabi SAW mewasiatkan kepada Ummu Anas (ibu Anas bin Malik, pembantu Nabi SAW) tatkala ia bertanya, “Ya Rasulullah, berikanlah wasiat kepadaku.” Rasulullah SAW bersabda, “Tinggalkanlah perbuatan maksiat sesungguhnya itu adalah sebaik-baik hijrah. Jagalah dengan baik perintah yang fardhu, sesungguhnya itu adalah sebaik-baiknya jihad. Perbanyaklah berdzikir kepada Allah, sesungguhnya tidaklah kamu datang kepada Allah SWT dengan sesuatu yang dicintai-Nya dari orang yang banyak berdzikir kepada-Nya.”

Semoga kita semua, tidak melupakan dzikir dalam kondisi apapun, baik dalam waktu gembira ataupun sedih, dalam kondisi lapang atau sulit. Karena yakin Allah SWT akan mengingat kita di waktu-waktu, dan akan mendapatkan ampunan dan pertolongan-Nya. Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *