Suasana di dalam Masjidil Haram, Makkah. (Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

SUMATRALINK.ID — Peristiwa Isra’ dan Mi’raj membawa amanah Allah Subhanahuwata’ala (SWT) dari langit ketujuh kepada umat Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam (SAW) untuk melaksanakan shalat wajib lima waktu. Kenyataannya, hanya 38,9 persen umat muslim di Indonesia yang menunaikan shalat.

Perintah turunnya perintah shalat lima waktu sehari semalam ini prosesnya panjang. Awalnya, Nabi Muhammad SAW mendapat perintah shalat 50 waktu di Sidrotul Muntaha tanpa perantara malaikat Jibril AS pada peristiwa Isra’ Mi’raj.

Setelah meminta keringanan kepada Allah SWT atas saran Nabi Musa ‘Alaihissalam (AS) beberapa kali, akhirnya karena malu kepada Allah SWT Nabi SAW menghentikan permintaan keringanan hingga ditetapkan hanya lima kali/waktu saja.

Padahal, Nabi Musa AS masih meminta Nabi SAW menghadap Allah SWT lagi agar dapat meringankan waktu shalat kurang dari lima waktu, lantaran umat Nabi Musa AS Bani Israil saja yang kuat tidak sanggup, apalagi umat Nabi Muhammad SAW. Tapi, sudah berulangkali minta keringanan akhirnya Nabi SAW tidak mau lagi dan malu menghadap Allah Azzawajalla.

Allah SWT telah memberikan keringanan atau diskon yang luar biasa, dari perintah 50 waktu menjadi lima waktu saja, bagi umat Nabi Muhammad SAW melaksanakan perintah shalat wajib sehari semalam. Diskon menjadi lima waktu itu, ganjaran pahalanya ekstra luar biasa setara melaksanakan shalat 50 waktu, satu shalat wajib diganjar 10 pahala.

Meski telah mendapat diskon jumlah shalat menjadi lima waktu, apakah kaum muslimin di Indonesia yang mayoritas beragama Islam telah menunaikannya?

Berdasarkan hasil penelitian Indonesia Moeslem Report yang dikeluarkan Avara Research tahun 2019 menyebutkan, persentase umat muslim yang mengerjakan shalat hanya 38,9 persen. Artinya, sekira 60 persen umat Islam tidak shalat.

Berdasarkan data Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri, pada semester I tahun 2024, jumlah penduduk Indonesia mencapai 282,477.584 jiwa. Dari jumlah tersebut 87,08 persen atau sekira 245.973.915 menganut Agama Islam.

Kalau melihat data penelitian tersebut, terdapat 38,9 persen atau  95.683.853 penduduk muslim Indonesia melaksanakan shalat wajib. Terlepas dari kontradiksi hasil penelitian tersebut, kondisi ini memprihatinkan bagi Islam. Seharusnya muslim yang taat perintah Allah SWT yakni melaksanakan shalat lima waktu sehari semalam. Ada apa dengan umat Islam yang lalai shalat (wajib)?

Perintah shalat ini banyak dilansir dalam Al Quran. Tidak kurang dari 80 ayat Al Quran mengurai kedudukan dan pentingnya shalat. Pentingnya shalat wajib lima waktu ini, bila ada muslim yang tidak meyakininya, maka ia telah keluar dari Islam.

“Jika seseorang meninggalkan shalat karena mengingkari wajibnya shalat, atau ia mengingkari wajib shalat walaupun tidak meninggalkan shalat, maka ia kafir murtad dari agama Islam berdasarkan ijma ulama kaum muslimin,” (Al Majmu’, 3/14).

Nabi Muhammad SAW bersabda,  “Telah diwajibkan kepada Rasulullah SAW pada malam beliau di-Isra’kan shalat sebanyak 50 waktu, kemudian dikurangi hingga lima waktu. Lalu diserukan; ‘wahai Muhammad, sesungguhnya dengan (pahala) lima waktu ini, kamu mendapatkan pahala lima puluh waktu’,” (HR. Tirmidzi: 213).

Sedangkan bagi kaum muslimin yang tidak mengingkari wajibnya shalat, tapi tidak menunaikannya beberapa waktu karena malas, capek, atau kondisi lainnya, statusnya masih diperselisihkan ulama. Namun, ulama sepakat bila umat Islam tidak shalat sama sekali dalam hidupnya, maka ia telah keluar dari Islam.

Seharusnya kaum muslimin sadar akan pentingnya shalat dalam kehidupannya. Shalat adalah rukun Islam kedua setelah syahadat setidaknya bila benar dan sesuai tuntunan dapat mencegah perbuatan mungkar.

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari semua kekejian dan mungkar,” (QS. Al-Ankabut: 45).

Perintah shalat ini wajib ditunaikan dalam kondisi apapun selagi hidup. Dalam kondisi normal sehat, dalam kondisi safar, dalam kondisi sakit pun perintah shalat wajib harus dilaksanakan dengan tata caranya masing-masing.

Seorang muslim akan ditanyakan atau dihisab terlebih dahulu di akhirat yakni perkara shalat, dibandingkan dengan amal sholih lainnya. Bila shalat seorang muslim baik maka amal sholih lainnya akan baik juga. Dan sebaliknya bila, shalat seorang muslim tidak baik, maka amal shalihnya juga pasti tidak baik.

Meskipun seorang muslim itu taat puasa, rajin bersedekah, rajin menolong orang, dan amal sholih lainnya, bila ia tidak shalat sama sekali dalam hidupnya, maka tiada berguna di akhirat kelak. Dari Abu Hurairah Rodhiyallahuanhu, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik sungguh ia beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya buruk, sungguh ia telah gagal dan merugi…,” (HR. Tirmidzi: 413).

Namun, pada kenyataannya, banyak kita temui khususnya di bulan Ramadhan, ketika hendak berbuka puasa ada acara buka puasa bersama (bukber), tetapi tidak melaksanakan Shalat Maghrib, mereka masih santai sampai masuk Shalat Isya. Bagaimana kalau turun perintah 50 waktu, tidak didiskon? Na’udzubillahimindzalik. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *