Membaca koran pagi. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

KEBIASAAN dulu, setiap mampir ke kota lain membeli atau sekedar membaca koran atau tabloid daerah setempat. Selain menikmati berita dan penampilan wajah koran, yang lebih penting lagi tidak lupa melihat boks redaksi media tersebut, kalau-kalau ada kawan.

Tapi, sekarang penjual koran eceran di jalan dan di lapak pasar sudah mulai menghilang. Disrupsi media mengkerutkan dan melibas penerbitan dan peredaran koran, tabloid, dan majalah di pasaran.

Zaman digitalisasi, membaca info atau berita di smartphone atau perangkat keras lainnya, menjadi keharusan semua kalangan berkepentingan. Asalkan punya kuota sama gadgetnya, ya jelaslah.

Jangankan majalah yang rata-rata mahal, koran seharga pisang goreng yang dijaja anak kecil di lampu merah saja pemotor dan pemobil apalagi pejalan ogah membelinya. Pertimbangan ekonomis dan kemajuan iptek menjadi perilaku pembaca zaman ini. 

Hegemoni koran, tabloid, dan majalah di negeri ini sudah tergerus dan bahkan ada tereliminasi. Persoalan harga kertas dan ongkos cetak juga masih menjadi momok pemilik media dan pengelola industri pers. Hijrah ke media online memang lebih instan, tapi penuh perjuangan.

Para pemilik media (yang) masih bertahan mau dan tidak mau harus mengkombinasikan produk jurnalistiknya menyebur ke medsos. Platform medsos saat ini digandrungi generasi milenial dan generasi Z, termasuk sebagian generasi kolonial. Konvergensi media, istilahnya. Buzzer medsos lebih terkadang nyaring dibanding pendengung konvensional.

Viewers dan viral seakan menjadi kiblat pemain media. Dampak buruknya, muatan konten jurnalistik lambat laut terabaikan, demi mengejar klikers.

Investigasi yang menjadi roh-nya jurnalisme satu demi satu (mulai) ditinggalkan. Info sekilas menjadi medium “pertempuran” antarmedia daring. Para pencari berita (reporter) pun sudah berpikiran singkat (skeptis) dan kilat, pada akhirnya produk jurnalistik tidak setajam silet.

Lalu, sampai kapan (pola ini)?

Membaca komentar dari netizen di medsos, belakangan orang di luar negeri, khususon di Inggris menyatakan, justru penggemar berita di media online mulai menurun.

Warganet lainnya berkomentar, karena banyak berita online tidak tuntas dan lengkap, dibandingkan produk koran dan majalah. Ada lagi yang komen, baca koran atau majalah beda rasa dengan baca berita di gadget. Memang parameter itu masih butuh riset lagi oleh para periset media.

Tapi, tetap yakin. Semua berproses. Sejarah akan berulang meski tempat, waktu, dan formatnya berbeda. Wallahu a’lam bishawab. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *