Rumah Panggung di Desa Wana, Kecamatan Melinting, Kabupaten Lampung TImur, Lampung. (Foto-foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

TAMPAK luar rumah panggung ini, tak menarik mata: biasa-biasa saja. Tapi, isinya Rrruaaar… biasa.

Silap mata turis Jepang saat bertandang ke rumah “biasa” itu, langsung menawari satu miliar rupiah kontan. Rumah panggung dan seisinya.

Waktu itu zaman krimon (1997). Siapa yang tak butuh duit segepok di depan mata? Apalagi kalau yang banyak tersangkut utang.

Tuan rumah masih pikir-pikir (untuk menghormati menghindari penolakan)… Turis itu balik ke negaranya.

Rumah panggung bersejarah itu berada di Desa Wana, Kecamatan Melinting, Kabupaten Lampung Timur, Lampung. Memang, kampung itu banyak rumah panggung secara turun temurun.

Kebiasan warga Melinting dari zaman dulu, bila pindah rumah, rumah panggung seutuhnya dipindah dan digotong bersama ke sebuah tempat. Tidak dibongkar, asalkan jalan menuju lokasi memungkinkan.

Setiba di Jepang, turis telepon lagi, belum ada telepon HP.

“Jadi, nggak?” kata turis itu di ujung telepon.

Rumah bahan kayu ori kelas premium jaman baheulak itu mau dibongkar turis Jepang dan dipasang lagi di negaranya: Jepang.

Pemilik rumah bertahan, dalam pikiran; sayang, warisan, kenang-kenangan bersejarah, “Duit bisa dicari,” katanya.

Rumah bahan kayu ori kelas premium jaman baheulak itu mau dibongkar turis Jepang dan dipasang lagi di negaranya: Jepang.

Ia ingin jadikan rumah bersejarah tetap nama sejarah Lampung. Tidak mau meninggalkan historisnya. Wajarlah orang Jepang ngotot minat beli itu rumah.

Ternyata perabotan dalam rumah warisan itu, kalau kata orang milenial nilai rupiahnya seperti Sultan. Dasar Japan, tau aja barang mahal.

Dalam rumah “biasa” itu, ada guci utuh dan pecahan buatan Cina, ada Kain Tapis Cungkil umur 300 tahun lebih, yang pakai/punya tapis itu bisa dihitung jari di zamannya.

Ada uang kuno RI, Belanda, dan Jepang. Alat moesik jadoel, jam dinding, lemari, bufet, ranjang, brangkas, dan pernak-pernik lainnya. Wahh, pokoknya Sultan-lah.

Eh… rupanya selidik punya selidik pemilik rumah masih keturunan Keresidenan Lampung. (Mursalin Yasland)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *