SUMATRALINK.ID – Berbagai keistimewaan beribadah di Bulan Ramadhan, mulai dari puasa siang hari, tilawah Al-Quran, malamnya shalat tarawih dan witir, dan puncaknya pada Lailatul Qodar (malam penetapan Allah SWT). Seorang yang beribadah bertemu dengan malam istimewa itu, seakan ia beribadah setara seribu bulan. Apa itu Lailatul Qodar? Dalam Al-Quran Surah Al-Qadr ayat 2-3, Allah SWT berfirman, “Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” Bila seseorang beribadah di malam biasa hanya mendapat ganjaran 10 pahala, sedangkan pada bulan Ramadhan dilipatgandakan 70 kali lipat menjadi 700 pahala. Sedangkan puasa, hak prerogatif Allah SWT yang memberikannya. Abu Hurairah Rodhyallahuanhu (ra) mengatakan, Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam (SAW) bersabda, “Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan dengan 10 kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat. Allah Ta’ala berfirman ‘kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya’….” (HR. Bukhari) Sedikit mengilustrasikan, dalam setahun terdapat 12 bulan, jadi seribu bulan itu sama halnya 83 tahun. Rata-rata umat Nabi Muhammad SAW berusia 60 sampai 70 tahun, lebih dari itu “bonus”. Artinya, ketika seorang hamba beribadah pada malam Ramadhan bertemu lailatul qadar, maka ganjaran pahalanya melebih hidup seseorang di muka bumi ini. Namun, untuk menggapai lailatul qadar pada 10 malam terakhir pada Bulan Ramadhan itu harus diniatkan ketika masuk malam 1 Ramadhan dan terus mendawamkan doanya, dan tentu meningkatkan amal ibadah. Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda, “Barang siapa shalat pada malam kemuliaan (lailatul qadar) karena eman dan mengharap pahala dari Allah maka diampuni dosanya yang telah lalu,” (HR. Bukhari, Muslim). Betapa beruntungnya bila orang yang beribadah pada malam Ramadhan berjumpa lailatul qadar, seakan ia beribadah semalam tetapi ganjaran pahalanya setara 83 tahun, dan diampuni semua dosanya telah lalu. Untuk menggapai lailatul qadar, banyak masjid atau musholla menggelar iktikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan. Mereka beribadah shalat, tilawah, berdzikir sepanjang malam terutama malam-malam ganjil dengan harapan bertemu lailatul qadar. Bila satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan pada hari biasa, maka beribadah 1.000 bulan pada bulan Ramadhan, ilustrasi hitungannya yakni, 10 kebaikan dilipatgandakan 70 kali lipat yakni 700 kebaikan. Sedangkan sebulan terdapat 30 hari, sehingga 1.000 bulan dikalikan 700 kebaikan menjadi 21.000.000 kebaikan. Allahuakbar! Untuk itu, tiada berpikir panjang bagi umat Muslim untuk mencari lailatul qadar yang hanya ada di Bulan Ramadhan. Dari Aisyah Rodhyallahuanha, Nabi SAW bersabda, “Carilah lailatul qadar itu pada 10 hari terakhir dari Ramadhan,” (HR. Bukhari, Muslim). Mari kita semua menghidupkan malam-malam terakhir Ramadhan dengan meningkatkan amal ibadah. Tak heran bila di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, pada 10 hari terakhir Ramadhan penuh sesak jamaah beriktikaf. Tak lupa, bila berjumpa lailatul qadar, lisan kita berucap terus menerus, “Allahumma innaka tuhibbul ‘afwa fa’fuanni (Ya Allah, Engkau adalah pemaaf, suka memaafkan, maka maafkanlah aku).” Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Salah Kaprah Beramal Sholih di Bulan Rojab Harga Segelas Air Separuh Harta Raja Harun Al-Rasyid