Air Zam Zam di Masjid Nabawi, Madinah. (Foto: Sumatralink.id/Mursalin Yasland)

SUMATRALINK.ID – Setiati Arifin mendapat “vonis” mengidap penyakit jantung menjelang usianya 30 tahun. Pada tahun 1971, ia harus menjalani perawatan di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta, beberapa hari lamanya.

Namun, takdir berkata lain. Penyakit Setiati, seorang ibu rumah tangga bermukim di Jakarta ini penyakit jantungnya belum juga membaik. Selepas itu, ia harus berobat ke Belanda. Namun, tak kunjung ada perubahan.

Empat tahun setelah itu, ia mencoba berobat ke Taiwan, yang dikenal banyak orang pasien berpenyakit berhasil sembuh. Tapi, tetap saja, tidak untuk Setiati Arifin.

Pada tahun 1978, Setiati berniat pergi haji, menunaikan ibadah rukun Islam kelima ke Tanah Suci. Namun, pihak keluarga terlebih dokter melarangnya mengingat kondisi penyakitnya parah.

Tapi, Setiati tetap yakin dan bertekad keras ingin berangkat haji. Ia bahkan rela mati di Tanah Suci, kalau sudah kehendak Allah Subhanahuwata’ala (SWT).

“Anehnya, ketika berada di Tanah Suci, keadaanku biasa-biasa saja. Bahkan, suamiku mendapat kesempatan membersihkan Kakbah,” tutur Setiati kepada majalah Amanah, 1988.

Selama di Tanah Suci, Setiati tak berhenti bermohon kepada Allah SWT. Ia berniat tulus dan ikhlas atas penyakit jantunya, yang sudah berobat ke sana kemari.

Baca juga: Saat Haji, Mobil KH Ma’ruf Amin dan Keluarga Terbalik

“Saya berdoa di setiap suduh Kakbah, mohon pada Allah agar penyakit saya sembuh. Bahkan, saya sampai menangis sejadi-jadinya,” kata Setiati.

Selesai membersihkan Kakbah, suaminya menghampiri Setiati. Selembar sapu tangan jenis handuk, ia celupkan di ember berisi air zam zam, bekas membersihkan Kakbah yang dibawanya.

Sapu tangan itu lalu ia usapkan dan tempelkan di dada Setiati, istrinya sebanyak tiga kali, sembari memanjatkan doa kepada Allah SWT beberapa menit lamanya.

“Saya sangat terharu. Terasa ada getaran luar biasa dalam rongga jantung saya. Saya menangis di hadapan suami saya,” ujar Setiati kala itu.

Apa yang terjadi? Sepulang dari Tanah Suci, tiba-tiba kondisi badan Setiati sehat dan normal.

Ia mencoba memeriksakan kondisi penyakit kepada dokter. Tapi, Allah SWT berkehendak lain, atas izin-Nya, jantung Setiati bekerja normal, tidak seperti biasanya.

“Tiada yang dapat kuucapkan selain sujud ke hadirat Allah SWT. Semua itu, hanyalah kuasa Allah. Segalanya dapat terjadi kalau Allah menghendaki,” kata Setiati. Wallahua’lam bishawab.(*)

Editor: Mursalin Yasland

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *