Menara masjid tempat pengeras suara seruan adzan. (Ilustrasi Foto: SumatraLink.id/Mursalin Yasland) SumatraLink.id – Manusia adalah makhluk lemah dan tak berdaya, berbeda dengan malaikat. Terkadang keimanan seseorang pada saat tertentu menaik (bertambah) terkadang menurun (berkurang), bahkan ada yang sama sekali menghilang, na’udzubillahiminzalik (kita berlindung kepada Allah SWT dari hal tersebut). Bagi seorang muslim, ada saatnya keimananannya meningkat dan ada saatnya berkurang atau melemah. Bergantung dengan kondisi kehidupannya saat itu. Ketika ketaatan menyertainya maka keimanannya bertambah, namun ketika kemaksiatannya melekat maka keimanannya melemah. Abu ad-Darda’, sahabat Rasulullah SAW, Rodhiyallahuanhu (RA) mengatakan, iman itu bertambah dan berkurang (riwayat Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah). Para salaful ummah pernah menyatakan, iman itu dapat dirasakan dalam hatinya melalui perkataaannya dan perbuatannya. Untuk merasakan hal tersebut bertambah dan atau berkurang keimanannya, Allah SWT berfirman: “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakkal,” (QS. Al-Anfal: 2). Terapi ini sangat menakjubkan, bila seorang muslim mendengarkan ayat-ayat Allah SWT dikumandangkan hatinya bergetar dan takut akan ancaman dan siksaan Allah SWT bila tidak menjalankan perintah-Nya dan juga menjauhi larangan-Nya. Baca juga: Dua Nikmat yang Manusia Lalai, Apa Itu? Ketika kumandang adzan di masjid dan musholla termasuk di radio, televisi, dan alarm handphone, hatinya berkecamuk dan bersegera ingin memenuhi panggilan Allah SWT untuk melaksanakan shalat wajib. Bila dua hal tersebut belum juga tersentuh hati seorang muslim untuk memenuhi panggilan Allah SWT sebagai pencipta makhluk yang menguasai kerajaan langit dan bumi, dapat dipastikan kondisi keimanan mereka berkurang atau menurun. Banyak hal yang memengaruhi kondisi keimanan seseorang berkurang atau menurun. Faktor kemaksiatan menjadi hal utama menyebabkan keimanan seseorang menurun. Kemaksiatan ini melalaikan seorang hamba dari ketaatan kepada Allah SWT. Waktu 24 jam sehari semalam, sebagian besar orang banyak menggunakannya untuk bergelimang persoalan dunia, dengan dalih mencari rezeki. Sedangkan untuk bekal kehidupan akhirat yang masih dalam bayangan tidak dipedulikan. Masih banyak diantara kita yang berpikiran, kehidupan dunia itu nyata sedangkan kehidupan akhira itu masih cerita. Memang pada saat kita masih hidup, dunia itu nyata dan akhirat itu masih cerita, namun ketika kita mati baru tahu bahwa akhirat itu nyata dan dunia itu tinggal cerita. Untuk tidak terperosok dalam kegelimangan dunia untuk mencari dan menumpuk harta, hendaklah kita semua kembali kepada perintah Allah SWT melalui tuntunan Rasulullah SAW. Bukankah dunia itu sementara dan akhirat itu abadi. Dunia itu hanya permainan saja dan harganya sebanding dengan sebelah sayap nyamuk, begitu murahnya. Baca juga: Hijrah Membawa Nikmat Waktu 24 dalam sehari semalam, bila dikalkulasi tidak banyak menyita waktu untuk beribadah kepada-Nya. Paling tidak shalat lima waktu termasuk Shalat Jumat hanya memerlukan waktu tidak lebih dari 15 menit ditambah dengan shalat-shalat sunnah lainnya. Ketika adzan shalat Jumat dikumandangkan, bersegera kita meninggalkan segala kehidupan dunia menuju panggilan-Nya. Allah SWT berfirman, “Hai orang yang beriman, apabila diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu dalam mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli,” (QS. Al-Jumuah: 9). Masih banyak diantara kita umat Muslim yang tidak memedulikan panggilan Adzan Jumat di masjid. Pekerjaan kantoran, perdagangan, aktivitas di jalanan dan berbagai proyek pembangunan masih saja meneruskan pekerjaannya, padahal hal tersebut tidak membuatnya kaya atau miskin bila meninggalkannya. Belum lagi seruan adzan pada shalat-shalat lima waktu di masjid, musholla, atau tempat-tempat ibadah lainnya. Terutama pada tiga waktu shalat yakni subuh, zhuhur dan ashar, kondisi shof masjid dan musholla sangatlah minim. Kondisi ini diperparah lagi dengan minusnya anak muda yang shalat di dalam masjid dan musholla. Untuk meningkatkan keimanan seorang muslim, setidaknya terapi dalam mendengarkan ayat-ayat Allah SWT dan memahaminya akan melekat dalam hati sanubarinya, sehingga bergetar kuat untuk menghamba dan beribadah kepada Allah SWT. Kita yakin bahwa Allah SWT yang memberikan ketenangan dalam hidup kita, dan Allah SWT yang memberikan rezeki kepada hambanya. Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Dua Nikmat yang Manusia Lalai, Apa Itu? Jangan Sepelekan Kalimat Ta’awudz