SUMATRALINK.ID — Tak ada yang tahu, siapa yang lebih baik amalannya di akhirat kelak. Allah Subhanahuwata’ala (SWT) tidak melihat seorang hamba lebih baik melalui wajah tampan dan warna kulit, atau juga harta dan keturunannya. Tapi, Allah SWT menilai seseorang itu dari ketakwaannya selama hidup di dunia. Dari Atha’ bin Abi Rabah dari Ibnu Abbas Rodhiyallahuanhu (RA), Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam (SAW) bersabda, “Jadikanlah orang-orang kulit hitam (sebagai pemimpin), karena tiga orang dari mereka merupakan pemimpin penduduk surga. Ketiga orang itu adalah Luqman al-Hakim, an-Najasyi, dan Bilal (bin Robah) sang muadzin.” Siapa menyangka, bila mereka secara fisik tidak menarik: mereka berkulit hitam, bibir tebal, dan dan (mungkin) rambut ikal. Tapi, Allah SWT memberikan keistimewaan kepada ketiga orang ini dari sekian banyak manusia di dunia ini, seperti dikabarkan Nabi SAW sebagai pemimpin surga kelak. Dalam sebuah riwayat, ketiga orang ini berasal dari Negeri Habasyah, negeri yang kita kenal Ethiopia di Benua Afrika. Negeri ini memang penduduknya mayoritas berkulit hitam. Dari negeri ini lahir tiga orang tidak dikenal luas di dunia, tapi dikenal penduduk langit. Baca juga: Kisah Tiga Bayi Dapat Berbicara (1) Luqman al-Hakim, salah satunya. Namanya Allah SWT abadikan dalam Al-Quran. Luqman dikenal penduduk pada masanya seorang budak hitam dengan bibir tebal, hidung pesek, dan kakinya kurus. Ia juga disebut pengembala ternak dan tukang kayu. Luqman juga, seperti disebut dalam Kitab Al Bidayah Wan Nihayah karya Ibnu Katsir, seorang tukang jahit. Luqman bukan nabi, tapi Luqman seorang penghikmah pada masanya. Semua ucapan dan tindakannya penuh hikmah. Sehingga banyak orang pada masanya banyak mengambil hikmah dari ucapan-ucapan dan tindakannya. Suatu ketika, seperti dikutip dari buku Hikmah Luqman al-Hakim karya Adil al-Ghiryani, Ibnu Jarir meriwayatkan dari Khalid ar-Rab’i, Luqman seorang budak Habasyah dan tukang kayu. Tuannya meminta Luqman menyembelih kambing. Luqman segera menyembelih kambing. “Ambilah dua gumpal daging yang paling baik dari tubuh kambing ini,” pinta tuannya. Perintah tuannya ia laksanakan. Luqman mengambil lidah dan hati dari sembelihan kambingnya. Selang beberapa waktu, tuannya menyuruh Luqman lagi, “Sembelihlah kambing untuk kami (lagi).” “Ambillah dua gumpal daging yang paling buruk dari tubuh kambing ini,” pinta tuannya lagi. Sungguh tak ada sesuatu pun yang lebih baik dari pada lidah dan hati yang baik, dan tidak ada yang lebih buruk dari pada lidah dan hati yang buruk. – Luqman al-Hakim Luqman mengambil dua gumpal yakni lidah dan hati lagi, sama seperti sebelumnya. Tuannya heran lalu berkata, “Wahai Luqman, ketika aku menyuruhmu untuk mengambil dua gumpal daging yang paling baik dari tubuh kambing ini, kau ambil hati dan lidah. Dan ketika aku menyuruhmu untuk mengambil dua gumpal daging yang paling buruk, kau juga mengambil lidah dan hati. Mengapa demikian?” “Sungguh tak ada sesuatu pun yang lebih baik dari pada lidah dan hati yang baik, dan tidak ada yang lebih buruk dari pada lidah dan hati yang buruk,” jawab Luqman. Baca juga: Kisah Tiga Bayi yang Dapat Berbicara (2) Dari jawaban Luqman, tentu kedua daging itu; lidah dan hati secara makna mengandung hikmah yang luar biasa bagi kehidupan manusia di dunia ini. Lidah dan hati dapat membuat seseorang menjadi baik dan buruk dalam hidupnya. Dengan lidah yang keluar ucapan yang baik, dan didorong dari hati yang bersih dalam diri seseorang maka seseorang tersebut akan menjadi baik tabiatnya. Sebaliknya, dengan lidah yang keluar dari mulut ucapan yang kotor dan didorong oleh hati yang busuk, maka seseorang itu menjadi buruk tabiatnya. Allahua’lam bishawab. (Mursalin Yasland) Facebook WhatsApp Twitter Threads Navigasi pos Kisah Tiga Bayi yang Dapat Berbicara (2)